Amukan Gunung Kelud, Cerita Balas Dendam Lembu Sura yang Melegenda

Amukan Gunung Kelud, Cerita Balas Dendam Lembu Sura yang Melegenda
info gambar utama

Gunung Kelud yang berdiri kokoh di Blitar dan Kediri, Jawa Timur (Jatim) merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Walaupun mendapat julukan gunung berapi aktif tercebol dengan tinggi 1.731 mdpl, ketika meletus tetap menggetarkan.

Dinukil dari Merdeka, (12/7/2021) sejak abad ke 15, letusan Gunung Kelud telah menelan korban jiwa lebih dari 15 ribu orang. Misalnya pada 1586, korbannya menyentuh 10 ribu orang. Ketika memasuki abad ke 20, tercatat letusannya terjadi pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966,dan 1990.

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Kelud dipercaya bukan berasal dari gundukan tanah yang meninggi secara alami. Seperti halnya Tangkuban Perahu, Gunung Kelud terbentuk dari sebuah cerita pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap Lembu Sura.

Dewi Kilisuci merupakan putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikan parasnya. Sementara Lembu Sura adalah legenda rakyat berwujud pemuda berkepala kerbau.

Dirinya merupakan putra dari Adipati Blambangan yang dikutuk oleh sang Ayah karena kelakuan buruknya. Tetapi Lembu Sura dianggap sebagai pemuda yang gagah dan juga sakti.

Pada suatu ketika Raja Jenggolo mengadakan sayembara untuk mencari pendamping bagi istrinya. Lembu Suro kemudian datang untuk mengikuti sayembara.

Sayembaranya adalah barang siapa yang berhasil merentang busur sakti Kiai Garudayeksa dan mengangkat gong Kiai Sekardelima, maka orang itu berhak menjadi suami putrinya.

Singkat cerita, Lembu Sura berhasil menenangkan sayembara tersebut dan untuk menepati janji, raja akan menikahkan keduanya. Tetapi Kilisuci tidak ingin menikah dengan pemuda berkepala kerbau.

Cerita Letusan Gunung Kelud yang Sambut Kelahiran Soekarno

Karena itu melalui ayahnya, Kilisuci meminta kepada Lembu Sura sebelum menikahinya harus membuat sumur di atas Gunung Kelud sebagai tempat mandi. Menggunakan tanduknya, Lembu Sura kemudian segera menggali sumur dengan tanduknya.

Kilisuci pun kaget melihat kemampuan Lembu Sura yang mampu menggali sumur. Bingung akan kejadian ini, Jenggolo lalu meminta pengawalnya untuk menimbun Lembu Sura hidup-hidup di dalam Gunung Kelud.

Ketika ditimbun, Lembu Sura sempat meminta tolong tetapi tidak ada yang membantu. Ketika itulah ada sebuah sumpah yang diucapkan oleh Lembu Sura.

Ya, masyarakat Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar, yaitu Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung akan menjadi danau.

Lembu Sura juga bersumpah akan merusak tanah Kerajaan Janggala setiap dua windu sekali. Setelah suara itu hilang, seluruh prajurit yang melihat kejadian tersebut menjadi ketakutan, begitu pula dengan Jenggolo dan putrinya.

Mereka tahu bahwa Lembu Sura adalah sosok aneh yang sakti. Kemudian untuk menjaga, raja memerintahkan para prajurit membuat tanggul pengaman, tanggul itu sekarang disebut Gunung Pegat.

Selain itu, Jenggolo kemudian berinisiatif melakukan Larung Sesaji untuk menolak balak sumpah Lembu Sura. Hingga kini, bila Gunung Kelud meletus sebagian masyarakat menganggap itu amukan Lembu Sura kepada raja yang telah mengkhianatinya.

Penanda kehancuran dari Majapahit

Terlepas dari kepercayaan akan sumpah itu, tiga wilayah yang disebutkan tersebut akhirnya memang luluh lantak. Seperti pada letusan Gunung Kelud tahun 1586, menewaskan lebih dari 10.000 orang hingga menjadi akhir sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Dipaparkan oleh Kompas, walau dalam catatan sejarah Majapahit runtuh pada 1478. Namun para sejarawan mengakui banyak misteri tentang keruntuhan kerajaan ini, termasuk isu soal adanya dua Kerajaan Majapahit.

Sejak awal 1900 an, diketahui kawah Gunung Kelud memiliki danau. Keberadaan danau di kawah ini disebut sama berbahayanya dengan lontaran material padat dari letusan gunung.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM), Surono menyebut bila masih ada, lontaran kawah ini bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer.

Sudah adanya magma, bercampur dengan air panas dan masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang terlontar. Karena tidak adanya catatan sejarah, kira-kira, inilah yang terjadi pada letusan tahun 1586.

Selain itu timbulnya 10 ribu korban jiwa ditambah juga karena kelaparan. Pasalnya lontaran material padat, ditambah muntahnya air danau kawah, dan abu vulkanik membuat rusak lahan pertanian.

Selain itu diduga tidak ada pasokan makanan yang disediakan dalam jumlah besar kepada masyarakat sekitar. Apalagi saat itu, dipercaya Kerajaan Majapahit pun merasakan dampak letusan.

Letusan ini pun dianggap sebagai penutup paripurna dari proses keruntuhan Kerajaan Majapahit. Juga menjadi penutup beragam konflik internal zaman itu dan juga legenda kutukan Lembu Sura.

Berada di Lingkaran Cincin Api Pasifik, Indonesia Jadi Rumah Bagi 139 Gunung Berapi

Namun tetap saja pekerjaan rumah belum selesai, Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Walaupun kutukan Lembu Sura tidak lagi relevan sebagai mitos, hal ini bisa digunakan sebagai "kode" mitigasi bencana.

Apalagi percaya atau tidak, selain keberadaan 11 sungai di Kediri, di Tulungagung terdapat Bendungan Wonorejo, sementara di Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai. Sesuai dengan kalimat kutukan dari Lembu Sura.

Larung Sesaji untuk menolak kutukan

Karena legenda tersebut akhirnya masyarakat Kediri, terutama masyarakat lereng Gunung Kelud, melakukan ritual Larung Sesaji untuk menolak balak dari sumpah Lembu Sura hingga sekarang.

Masyarakat lereng Gunung Kelud juga menjadikan ritual Larung Sesaji sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah karena tanah yang subur. Ritual Larung Sesaji di kawah Gunung Kelud dilakukan dengan melarung hasil kegiatan manusia di bumi atau alam.

"Ritual ini merupakan bukti adanya keseimbangan antara alam dan manusia," ucap Ita Kurnia mahasiswa PGSD Universitas Nusantara PGRI Kediri dalam jurnal berjudul Mengungkap Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kediri Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Bangsa Indonesia.

Ita menyebut masyarakat Kediri sangat menghargai alam salah satu bentuknya adalah melarungkan sesaji ke Gunung Kelud. Masyarakat Kediri meyakini bahwa melalui kegiatan ini alam dan manusia akan miliki kedudukan yang seimbang.

Masyarakat nantinya akan selamat dari protes alam atas hal tidak baik yang dilakukan oleh manusia, juga menunjukkan adanya rasa toleransi agama yang sangat kuat di masyarakat Kediri.

Hal ini memang dibuktikan dengan masyarakat yang mengikuti ritual tidak hanya berasal dari agama Hindu dan Buddha, tetapi juga dari agama lain. Dari peristiwa ini bisa dilihat, walaupun mayoritas masyarakat Kediri beragama Islam namun mereka mempunyai tujuan yang sama yaitu berterima kasih kepada alam.

Bagi masyarakat Jawa hal ini disebut ibu bumi, bapa aksa, yang artinya bumi adalah simbol ibu yang memberikan kesuburan tanah sebagai tempat kegiatan pertanian. Sementara bapak akan disimbolkan sebagai langit yang memberikan keberkahan dalam bentuk hujan.

Dari Sangihe: Gunung Api Bawah Laut Mahengetang, Kedahsyatan Cincin Api Indonesia

Ajaran ini sesuai dengan ritual Larung Sesaji yang mengajarkan cara menyayangi, melindungi, dan menghormati bumi beserta langit sebagaimana melakukannya kepada orang tua.

"Jika kita merusak bumi, langit pun akan marah," tegas Ita.

Ita menyebut ada beragam sesaji yang akan dilarung saat perayaan ritual, seperti nasi, sayuran, lauk pauk, dan buah-buahan. Selain itu masyarakat juga membawa dua jenis tumpeng yaitu tumpeng nasi putih dan nasi kuning.

Tumpeng ini dilengkapi dengan aneka lauk pauk, seperti telur, tahu, tempe, urap, parutan sambal kelapa, dan masih banyak lagi. Menariknya, semua sesaji ditata sedemikian rupa sehingga tampak cantik.

Semua makanan ini akan dibawa ke tengah, semua orang kemudian berkumpul dan mendengar pemangku adat membacakan doa. Selesai pembacaan doa, sesaji itu akan dilarung ke dalam kawah dan sebagian dijadikan rebutan oleh warga dengan harapan mendapatkan berkah agar hasil pertanian berlimpah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini