Cilegon, Kota Baja yang Pernah Buat Geger Pemerintah Belanda

Cilegon, Kota Baja yang Pernah Buat Geger Pemerintah Belanda
info gambar utama

Cilegon, mendengar nama kota ini pasti akan teringat dengan industri baja. Pasalnya memang kota ini memiliki pabrik baja bernama PT Krakatau Steel yang bisa memproduksi baja sekitar 6 juta ton setiap harinya.

Produksi baja di kota ini bahkan paling terbesar di wilayah Asia Tenggara. Karena itulah, Cilegon yang merupakan kota di Provinsi Banten ini kemudian mendapat julukan sebagai Kota Baja.

Sejarah industri baja di Cilegon sudah berlangsung sejak lama yaitu pada tahun 1962. Ketika itu berdiri pabrik Baja Trikora yang merupakan asal muasal dari PT Krakatau Steel.

Kemajuan dalam bidang industri baja merembet kepada sektor-sektor ekonomi yang lain. Perdagangan mulai tumbuh, diimbangi dengan peningkatan jumlah penduduk dan meningkatnya sektor jasa.

Selain itu, Cilegon juga memiliki beragam objek vital negara, seperti Pelabuhan Merak, Pelabuhan Cigading Habeam Centre, Kawasan Industri Krakatau Steele, PLTU Suralaya, Kawasan Industri Berikat Pulau Sunda, dan lain sebagainya.

Sementara itu dalam buku Asal Usul Kota-Kota di Indonesia Tempoe Doeloe karya Zaenuddin HM menyebutkan asal mula nama Cilegon berasal dari dua kata yaitu Ci yang dalam bahasa Sunda berarti air dan legon yang memiliki arti cekungan atau kubanganJadi menurut Zaenuddin, Cilegon memiliki arti kubangan air.

Punya Pabrik Baja Tercanggih Kedua di Dunia, Indonesia Bisa Hemat Devisa Rp29 Triliun

Kata legon sendiri memiliki arti yang sama dengan lagoon dalam bahasa Inggris yang memiliki arti danau kecil yang dikelilingi karang atau pasir yang menutupi pesisir.

"Asal-usul tersebut sangat masuk akal, karena di Cilegon ada banyak tempat yang memakai kata kubang, Seperti Kubang Wates, Kubang Welut, Kubang Lampit, Kubang Lampung, Kubang Sepat, Kubang Lele, dan Kubang Menyawak," bebernya.

Memang pada abad ke-16, Cilegon merupakan sebuah kampung kecil yang dikelilingi rawa atau kubangan yang berubah dan berkembang menjadi persawahan dan pemukiman.

Misalnya Kubang Sepat yang terletak di daerah ramanuju, menurut filosofis dipercaya dahulu ada sebuah kubangan yang didalamnya berisi ikan sepat maka dari itu dinamakan Kubang Sepat.

Selain banyaknya kubangan, disana juga terdapat rawa-rawa salah satunya adalah Desa Rawa Arum terletak di Kecamatan Grogol. Nama desa tersebut berasal dari sebuah nama situ, yaitu Situ Rawa Arum.

Asal mula terbentuknya Situ Rawa Arum berawal saat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Situ Rawa Arum terbentuk akibat dari proses alam.

Sultan Ageng Tirtayasa dan perkembangan Kota Cilegon

Ketika masa Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada tahun 1651 - 1672, mulai banyak dibuka daerah persawahan di Serang dan Cilegon. Hal ini kemudian memancing para pendatang untuk pindah ke kawasan Cilegon.

Banyaknya pendatang yang memasuki wilayah Cilegon membuat kawasan ini menjadi lebih heterogen. Barulah pada tahun 1816, di bawah Pemerintah Hindia Belanda, Cilegon mulai menjadi daerah menjadi district (kewedanaan).

Merujuk dari Kota Baja, sejak itulah perkembangan Cilegon menjadi cukup pesat yang semula dari perkampungan kecil kemudian berubah jadi kewedanan. Hingga sekarang Kantor District Cilegon (Kewedanaan Cilegon) masih tetap berdiri kokoh dan digunakan sebagai Rumah Dinas Wali Kota Cilegon dengan nama Gedung Negara.

Tetapi pada saat itu juga rakyat Cilegon ingin membebaskan diri dari penindasan Belanda. Puncak perlawanan ini terjadi pada tanggal 9 Juli 1888 yang dikenal dengan pemberontakan Geger Cilegon 1888.

Pemberontakan ini dipimpin oleh KH. Wasyid dan didukung oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Pemberontakan petani Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda terjadi dalam beberapa tahap, yaitu pada 1850, 1888, dan 1926.

Jejak Si Gombar, Lokomotif Legendaris Tanah Priangan yang Dirindukan

Dinukil dari Kompas, pemberontakan ini terjadi karena munculnya penyakit sampar (pes) binatang ternak yang terjadi di wilayah Serang dan Anyer. Karena kondisi ini Pemerintah Kolonial mengeluarkan kebijakan agar membunuh semua ternak, termasuk binatang yang tidak terkena penyakit.

Di sinilah muncul kebencian terhadap Pemerintah Kolonial yang telah dianggap melakukan tindakan sewenang-wenang. Akibat rentetan penderitaan dan tindakan sewenang-wenang Pemerintah Kolonial, terjadilah Pemberontakan Geger Cilegon.

Sementara itu pada tahun 1924 di Kewedanan Cilegon telah ada perguruan pendidikan yang berbasis Islam, yaitu perguruan Al-Khairiyah dan Madrasah Al-Jauharotunnaqiyah Cibeber. Dari perguruan pendidikan tersebut melahirkan para pejuang-pejuang Islam di Cilegon.

Ketika masa Kemerdekaan, masyarakat Cilegon telah membuktikan perjuangannya.Jiwa patriotisme masyarakat Cilegon dan Banten umumnya telah terbukti saat zaman revolusi fisik saat mempertahankan kemerdekaan.

Hal ini mereka tunjukan dengan adanya pasukan yang terkenal dengan nama Tentara Banten.

Cilegon menjadi kota budaya

Setelah masa perjuangan Kemerdekaan, Cilegon kemudian berubah menjadi kota industri. Hal ini ketika era 1962, di Cilegon berdiri pabrik baja Trikora, yang menjadi babak baru era industri wilayah Cilegon.

Industri baja Trikora berkembang pesat setelah keluar Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1970 tanggal 31 Agustus 1970 yang mengubah pabrik baja Trikora menjadi pabrik baja PT. Krakatau Steel Cilegon berikut anak perusahaannya.

Dikabarkan dari Tagar, perkembangan pesat industri di Cilegon berpengaruh terhadap kondisi sosial budaya dan tata guna lahan. Setelahnya daerah persawahan dan perladangan berubah menjadi daerah industri, perdagangan, jasa.

Meskipun Cilegon terkenal sebagai kota industri, beragam budaya juga berkembang seiring perkembangan masyarakat. Budaya masyarakat Kota Cilegon merupakan campuran, tetapi secara umum budaya Jawa-Banten dengan percampuran unsur Sunda tetapi kental dengan pengaruh Islam.

Masyarakatnya Cilegon menggunakan bahasa Indonesia secara umum. Tetapi juga tetap menggunakan bahasa Jawa, Sunda dan Minang. Beragamnya penggunaan bahasa ini memperkaya budaya masyarakat di kota ini.

Destinasi Tersembunyi di Desa Wisata Cibuluh

Ada beragam budaya seperti tarian Bendrong Lesung, Patingtung Bandung, Pencak Silat Khas Cilegon, Rampak Bedug dan Ubrug. Selain itu produk budaya lain ada benda seperti Batik Lereng Lesung Mandiri, Golok dan alat musik patingtung.

Seiring dengan perkembangan zaman dan gaya hidup orang-orang masa kini, Kota Cilegon menjadi salah satu tujuan wisata di Provinsi Banten.Cilegon memang memiliki beragam objek wisata yang menarik.

Seperti Gunung Batu Lawang yang merupakan hamparan pegunungan granit yang memiliki beragam bentuk batuan. Ada juga Gunung Batur yang menjadi tempat para penyuka hiking, camping area dan lain-lain.

Sementara itu ada Pulau Merak Besar yang memiliki beragam fauna dan flora, alamnya yang masih asri dan tidak berpenghuni, juga koral dan bebatuan dari Situs tsunami Gunung Krakatau 1883.

Ada juga Pantai Anyer yang selalu menjadi destinasi favorite wisatawan pada setiap akhir pekan. Pantai ini sebenarnya masuk dalam wilayah Kabupaten Serang, tetapi tempat ini ditawarkan sebagai destinasi wisata Kota Cilegon karena kedekatan aksesnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini