Alat Musik Berdawai Kebanggaan Masyarakat Rote Itu Bernama Sasando

Alat Musik Berdawai Kebanggaan Masyarakat Rote Itu Bernama Sasando
info gambar utama

Bukan merupakan salah satu alat musik tradisional yang sulit dikenal, Sasando dapat dikatakan hampir sama populernya seperti angklung, kecapi, gamelan, dan deretan alat musik tradisional lain dari Indonesia yang sudah banyak mencuri minat dan perhatian dunia internasional.

Namun, sama kiranya seperti risiko yang selama ini kian menghampiri terhadap budaya tanah air yang semakin terekspos, kemungkinan ‘pengambilan’ budaya atau klaim sepihak pastinya akan terus terjadi, dan kali ini sasando yang menjadi sasarannya.

Sasando belakangan banyak dibicarakan setelah mencuat kabar bahwa salah satu negara di kawasan Asia Selatan yakni Sri Lanka, dilaporkan mengklaim alat musik dawai satu ini berasal dari negara mereka, dan telah mendaftarkan hak kekayaan intelektual alat musik tersebut ke Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO).

Mengutip penjelasan dari Kemenkumham Nusa Tenggara Timur (NTT), kabar tersebut pertama kali diungkap oleh Josef Nae Soi selaku Wakil Gubernur NTT, pada saat peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi NTT, Senin (20/12/2021) lalu.

Tehyan, Lalove, dan Alat Musik Tradisional Indonesia yang Belum Banyak Diketahui

Upaya mempertahankan identitas sasando

Pemain sasando
info gambar

Tidak tinggal diam, apa yang dilakukan oleh Sri Lanka langsung memunculkan pergerakan spontan dari sejumlah pihak di Indonesia, terutama Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, tempat di mana sasando berasal.

Masih menurut sumber yang sama, sasando sendiri sejatinya telah diinventarisir, didokumentasikan, serta diarsipkan dalam Pusat Data Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asal Kabupaten Rote Ndao dengan nomor pencatatan EBT.53202100091.

Mulai disikapi oleh sejumlah pihak di tingkat yang lebih tinggi, kali ini Gubernur NTT yakni Viktor Laiskodat yang secara langsung menyampaikan bahwa pihaknya akan menuntut keadilan kepada WIPO, serta mendaftarkan sasando dan kekayaan budaya NTT lainnya agar bisa diakui oleh seluruh negara.

“Kita sedang mempersiapkan seluruh kekayaan budaya kita untuk segera didaftar, sehingga menjadi keabsahan pengakuan dunia terhadap budaya kita. Jadi, kita tetap melakukan komplain sambil kita ikut mendaftarkan,” ujar Viktor, mengutipAsumsico.

Sementara itu di tingkat yang lebih tinggi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, mengungkap bahwa mereka akan menyiapkan berkas bukti bahwa sasando merupakan kebudayaan Indonesia.

“Kami siapkan nanti pembuktian-pembuktiannya bahwa itu bagian dari tradisi Indonesia,” ujar Muhadjir, Rabu (29/12).

Perkembangan Alat Musik Gambus di Nusantara

Alat musik untuk meminang Putri Raja

Sasando
info gambar

Bukan tanpa alasan jika apa yang dilakukan oleh Sri Lanka langsung menuai kecaman bahkan dari para pengrajin sekaligus pemain alat musik sasando di tanah aslinya, banyak dari mereka yang merasa sedih dan kecewa atas peristiwa ini.

Lekat akan warisan budaya dan leluhur, sasando diyakini sudah ada sejak tahun 800 dan otomatis sudah dijaga selama ratusan tahun pula oleh nenek moyang masyarakat Rote hingga ke keturunannya sampai saat ini.

Bahkan, sumber lain menyebut jika sasando sendiri sudah ada dan digunakan oleh masyarakat Rote sejak abad ke-7.

Dengan jejak keberadaan selama itu, lantas bagaimana sebenarnya awal mula kemunculan sasando hingga menjadi alat musik tradisional kebanggaan masyarat Rote hingga detik ini?

Publikasi resmi yang dimuat Pemkab Rote Ndao menyebut, jika sebenarnya ada beberapa versi cerita yang mengisahkan tentang awal mula kemunculan sasando, namun salah satu cerita yang paling populer dan banyak berkembang di masyarakat adalah kisah Sangguana--pemuda dengan bakat seni musik, yang terdampar di Pulau Ndana lalu jatuh cinta dengan putri Raja.

Mengetahui Sangguana jatuh cinta kepada putrinya, sang Raja lalu memberi syarat kepada pemuda tersebut untuk membuat alat musik yang berbeda dengan alat musik lainnya jika ingin diterima.

Singkat cerita, Sangguana lalu bermimpi memainkan alat musik berbentuk indah dan memiliki suara nan merdu, yang kemudian menjadi inspirasi untuk membuat sasando yang diberikan kepada sang Raja dan dikenal hingga detik ini.

Kagum dengan alat musik yang dibuat oleh Sangguana, Raja pun akhirnya menikahkan putrinya dengan pemuda tersebut.

5 Alat Musik Indonesia yang Dibuat dari Bambu

Berkembang dan menyesuaikan dengan musik tanah air

Penggunaan alat musik sasando di masa kini
info gambar

Jika mengulik makna namanya, sasando sendiri berasal dari bahasa Rote, yaitu “Sasandu” yang berarti bergetar atau berbunyi. Sementara itu dari segi bentuk, sasando memang terbilang cukup unik dan berbeda dengan alat musik berdawai lainnya.

Lebih detail, pada bagian utama sasando memiliki bentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu khusus, di bagian bawah dan atas bambu terdapat tempat untuk memasang dan mengatur kencangnya dawai. Pada bagian tengah, bambu biasanya diberi senda (penyangga) di mana dawai direntangkan, senda tersebut digunakan untuk mengatur tangga nada dan menghasilkan nada yang berbeda di setiap petikan dawai.

Sementara itu di bagian belakang tabung panjang terdapat wadah untuk resonansi berupa anyaman daun lontar yang sering disebut haik.

Sama halnya seperti alat musik tradisional di berbagai wilayah yang biasanya digunakan pada sejumlah momen tertentu, sasando sendiri sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian, syair, tarian tradisional, dan menghibur keluarga yang berduka.

Walaupun dikenal sebagai alat musik petik, namun ada metode khusus saat melakukan petikan pada alat musik satu ini ketimbang alat musik serupa lainnya. Dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik, agar dapat menghasilkan nada yang pas serta merdu.

Hampir sama dengan alat musik harpa, keterampilan dalam memetik dawai sangat memengaruhi suara terutama bila memainkan nada tempo cepat.

Bicara mengenai keberadaan dan perkembangannya, sasando sendiri merupakan alat musik tradisional yang terus mendapatkan penyesuaian seiring berjalannya waktu. Saat ini, sasando dibagi menjadi dua tipe yaitu tradisional dan elektrik.

Sasando tradisional merupakan bentuk sasando asli dan dimainkan tanpa alat elektronik seperti amplifier atau akustik. Sedangkan sasando elektrik bisa dimainkan dengan alat elektronik dan kerap digunakan dalam panggung besar atau pertunjukan modern.

Semantara itu berdasarkan suaranya, sasando juga dibagi menjadi beberapa jenis seperti sasando engkel, sasando dobel, sasando gong, dan sasando biola. Yang membedakan biasanya dari jumlah dawai di mana sasando engkel memiliki 28 dawai, dan sasando dobel biasanya terdiri dari 56 atau 84 dawai, sehingga memiliki lebih banyak jenis suara.

Pada saat ini, sasando tidak hanya terkenal dan terdapat di daerah Pulau Rote saja, namun juga kerap ditemukan pada wilayah lain di Nusa Tenggara Timur seperti Kupang, dan daerah lainnya.

Sejarah Alat Musik Nusantara yang Sangat Terkenal

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini