Lembaga Eijkman, Laboratorium Kelas Dunia yang Jadi Rumah Jutaan Riset

Lembaga Eijkman, Laboratorium Kelas Dunia yang Jadi Rumah Jutaan Riset
info gambar utama

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman secara resmi terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hal ini dipastikan setelah kegiatan deteksi Covid-19 akan diambil alih Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN.

Peralihan ini akhirnya mengakhiri peran Lembaga Eijkman yang telah mengabdi dalam menangani berbagai wabah penyakit sejak zaman penjajahan Belanda. Lembaga ini merupakan kebanggaan para mahasiswa, khususnya bidang kedokteran.

Merujuk dari National Geographic, Selasa (4/1/2022), nama lembaga ini diambil dari peraih nobel kedokteran yang bernama Christiaan Eijkman. Dirinya melakukan penelitian di lembaga terkait penyakit beri-beri pada awal dasawarsa 1900-an dan meletakkan dasar mengenai vitamin.

Eijkman lahir pada 11 Agustus 1858 di Nijkerk, Belanda dan merupakan lulusan University of Amsterdam. Dirinya pertama kali berkunjung ke Hindia Belanda tahun 1883 sebagai petugas kesehatan di Semarang, Jawa Tengah lalu berpindah tugas ke Padang Sidempuan, Sumatra Utara (Sumut).

Karena sakit, Eijkman harus kembali ke Belanda pada tahun 1885. Dirinya baru kembali ke Hindia Belanda pada tahun Tahun 1886 untuk menyelidiki penyakit beri-beri yang merebak.

Peneliti Indonesia Kembangkan Cangkok Tulang dari Jaringan Sapi

Sejak 15 Januari 1888, Laboratorium Geneeskundig berdiri di Batavia dan menjadi cikal bakal Lembaga Eijkman. Laboratorium ini didirikan atas saran dari Cornelis Adrianus Pekelharing, rekan dari Eijkman yang berkeinginan adanya sebuah laboratorium di rumah sakit militer yang bersifat permanen.

Lembaga ini merupakan laboratorium paling bergengsi yang diakui secara internasional yang pernah didirikan di Indonesia. Saat itu, Eijkman melakukan beberapa penemuan besar seperti hubungan antara kekurangan vitamin B1 dan penyakit beri-beri.

Laboratorium ini menjadi yang mencetuskan untuk pertama kalinya beri-beri merupakan penyakit ekstrernal yang disebabkan oleh kekurangan vitamin dalam tubuh manusia.

Penelitian inilah yang menghasilkan temuan vitamin, sehingga menghasilkan penghargaan Nobel kepada Eijkman pada 1929. Dirinya meninggal pada 1930 di Utrecht, Belanda, sehingga untuk mengenangnya laboratorium itu berganti nama pada 1938.

Sementara itu sepeninggal Eijkman, lembaga ini mulai melibatkan dokter-dokter lulusan Sekolah Kedokteran (STOVIA). Ketika itu lembaga ini telah dipimpin oleh orang Indonesia bernama Prof Dr Achmad Mochtar.

Sejak awal 1920, lembaga ini berlokasi di sebuah bangunan dalam Kompleks Rumah Sakit Militer Hindia Belanda yang kini menjadi RS Gatot Subroto di Jakarta Pusat.

Kisah heroik Achmad Mochtar

Achmad Mochtar lahir pada 10 November 1890 di Pasaman, Sumatra Barat (Sumbar), dia adalah seorang dokter dan ilmuwan Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman.

Pada tahun 1915, Mochtar mendapatkan gelar Indisch Arts (Dokter Hindia) dari STOVIA, sekolah pendidikan dokter zaman penjajahan Belanda. Lalu berkesempatan melanjutkan pendidikan dokter di Universitas Amsterdam, Belanda.

Pada tahun 1937, dirinya bergabung dengan lembaga penelitian The Central Medical Laboratory yang setahun kemudian berganti nama menjadi Lembaga Eijkman. Pada tahun 1942, dirinya menjadi pemimpin Lembaga Eijkman.

Mochtar menggantikan W.K. Martens yang kala itu meninggal akibat penyakit beri-beri saat berada dalam penyekapan militer Jepang. Mochtar menjadi orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan tertinggi di Eijkman.

Ternyata karier Mochtar di Eijkman berakhir tragis, setelah tewasnya 900 romusa (pekerja paksa zaman Jepang) pada tahun 1944. Tentara Jepang ketika itu menuduh Achmad Mochtar meracuni vaksin, yang rencananya akan digunakan untuk para budak.

Bedasarkan makalah yang ditulis J. Kevin Baird di The Asia-Pacific Journal pada tahun 2016 menyebut Mochtar kemungkinan menjadi kambing hitam dalam kegagalan vaksin tetanus toksoid yang dilakukan oleh Jepang.

Vaksin ini rencananya akan diujicoba terlebih dahulu kepada para budak, bila hal ini berhasil nantinya akan disuntikkan kepada pasukan mereka. Namun rencana ini ternyata gagal.

Mahasiswa Publikasikan Riset tentang Kebijakan Luar Negeri Tiongkok

Jepang lantas menangkap Mochtar dan stafnya. Mereka disiksa hingga menyebabkan satu dokter tewas. Staf Lembaga Eijkman lain kemudian bebas, namun tidak dengan Mochtar.

Beberapa laporan menyebutkan Mochtar bernegosiasi dengan para penyekapnya. Dirinya pun setuju untuk mengakui sabotase apabila para koleganya dibebaskan. Mochtar pun dihukum pancung pada 3 Juli 1945.

"Jepang tidak memberi tahu keluarga Mochtar tentang kematiannya, dan segera setelah itu mereka menyerahkan kendali atas Indonesia kepada pasukan Inggris yang dikirim untuk melucuti senjata dan memulangkan mereka," tulis Baird.

Lembaga Eijkman yang bergengsi itu perlahan-lahan kemudian surut pasca peristiwa tersebut. Pada 1965, Lembaga itu ditutup karena pergolakan politik di tanah air, kemudian melebur ke dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang ada di dekatnya.

Mimpi yang kembali dirajut oleh Habibie

Pada 1990, Sangkot Marzuki seorang peneliti terkemuka di Australia diminta pulang oleh Menristek B.J Habibie. Dirinya diminta oleh Habibie untuk berkarier di Indonesia dan membangun pusat penelitian biologi molekuler di Tanah Air.

Tidak salah memang menaruh harapan kepada Sangkot, dia telah 17 tahun mengajar biologi mokuler di Monash University, Melbourne. Dia juga pencetus hipotesa mutasi genetik pada mitokondria-DNA (MT DNA) dan peranannya dalam proses penuaan.

Dikutip dari Katadata, Sangkot menyetujui hal tersebut tetapi meminta syarat khusus bahwa lembaga itu dibangun untuk melanjutkan warisan Lembaga Eijkman. Habibie begitu girang, Lembaga ini telah mati suri puluhan tahun lalu bisa bangkit lagi.

"Pengambilan nama Eijkman jelas menunjukan minat yang serius," kata Sangkot yang dirujuk dari buku Tempo berjudul Jejak Langkah Lembaga Eijkman di Dunia Kesehatan Indonesia.

Pemerintah cukup serius saat itu, terlihat dari anggaran yang disiapkan oleh Bappenas pada tahun 1993/1994 yang mencapai lebih dari Rp10 Miliar. Lembaga Eijkman pun menyandang status unik.

Secara birokrasi, lembaga ini dibawah Kemenristek. Namun, Eijkman beroperasi selayaknya perusahaan swasta. Mereka bisa merekrut penelitinya sendiri. Meski dibiayai oleh uang negara, status peneliti Eijkman bukan pegawai negeri sipil (PNS).

Terinspirasi Hewan Tunicate, Mahasiswi Indonesia di Korea Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif

Hal inilah yang membuat Lembaga Eijkman berhasil melakukan riset-riset yang monumental, seperti mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri pada kasus terorisme.

Selain itu menghasilkan pengakuan peran garis depan biologi molekuler dalam menanggapi keamanan hayati dan ancaman biosekuriti, serta dalam diagnosis penyakit menular yang baru muncul, seperti flu burung dan Covid-19.

Lembaga Eijkman memang punya peranan penting selama pandemi Covid-19. Mereka membentuk Tim Waspada Covid-19 (Wascov) dengan tugas seperti mendistribusikan alat tes, mengambil sampel, hingga memeriksanya di lab khusus.

Salah satu kontribusi Lembaga Eijkman adalah pengembangan vaksin merah putih. Vaksin ini disebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan vaksin lainnya.

Vaksin Merah Putih ditargetkan bisa diproduksi pada pertengahan 2022. Namun, dengan peleburan Eijkman ke BRIN, sejumlah pihak mengkhawatirkan kelanjutan vaksin Merah Putih.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini