Wajah Pondok Pesantren, Dinamika Lembaga Pendidikan Tertua di Indonesia

Wajah Pondok Pesantren, Dinamika Lembaga Pendidikan Tertua di Indonesia
info gambar utama

Pondok pesantren adalah salah satu tempat pendidikan yang tidak bisa terlepas dari Indonesia. Dia adalah tempat pendidikan pertama dan tertua di Nusantara.

Keberadaan pesantren mengilhami beberapa sistem pembelajaran yang ada saat ini. Tempat ini bahkan tidak lapuk walau harus melawan sistem pendidikan yang lebih modern.

Sifat keislaman dan keindonesiaan yang terintegrasi dalam pesantren memang menjadi daya tarik sendiri. Belum lagi nilai-nilai kesederhanaan, sistem yang terkesan apa adanya, hubungan antara santri dan kiai menjadi karateristiknya.

Walau begitu, magnet terbesar dari pesantren adalah peran dan kiprahnya bagi masyarakat, negara dan umat yang tidak bisa dianggap sepele. Sejarah telah membuktikan bagaimana peran pesantren baik di masa pra kolonial, kolonial, pasca kolonial, bahkan pada masa sekarang ini.

Merujuk dari Republika, Asia Tenggara memiliki ciri khas dalam pendidikan keagamaan. Howard M Federspiel dalam The Oxford Encyclopedia of the Islamic World menyebut pesantren secara luas diterima oleh masyarakat Jawa.

Sementara di Sumatra, ada lembaga yang bernama surau atau meunasah (Aceh). Di luar Indonesia, seperti Malaysia atau Kamboja lebih mengenal nama pondok. Sedangkan di Filipina dan Singapura memakai istilah madrasah.

Pesantren Tegalsari, Tempat Penggemblengan Diponegoro hingga Tjokroaminoto

“Selain itu Pesantren adalah bentuk pendidikan tradisional di Indonesia yang sejarahnya telah mengakar secara berabad-abad jauh sebelum Indonesia merdeka dan sebelum kerajaan Islam berdiri," ucap Abdul Munir Mulkhan dalam Nalar Spritual Pendidikan.

Zamakhsari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren menyatakan pondok pesantren berasal dari kata funduq yang dalam bahasa Arab berarti asrama. Sementara kata pesantren memiliki akar kata dari santri.

Kata santri sendiri diduga berasal dari istilah sansekerta sastri yang berarti “melek huruf”, atau dari bahasa Jawa cantrik yang berarti orang yang mengikuti gurunya kemanapun pergi. Selain itu juga ada versi yang menyebut kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji.

Dari sini kita memahami bahwa pesantren setidaknya memiliki tiga unsur, yakni; santri, kiai dan asrama. Potret pesantren memang sebuah lembaga di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai.

"Biasanya kompleks pesantren dikelilingi dengan tembok untuk dapat mengawasi arus keluar masuknya santri," tulis Dhofier.

Dari aspek kepemimpinan pesantren dipimpin oleh seorang Kiai yang memiliki kedudukan tak terjangkau dan memegang kekuasaan yang hampir-hampir mutlak. Kiai juga menjadi tempat bertanya atau sumber referensi segala urusan dan meminta nasihat serta fatwa.

Sejarah Lahirnya Pesantren di Indonesia

Secara terminologis menurut Karel A. Steenbrink dalam Pesantren Madrsah Sekolah menjelaskan bahwa pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sistem tersebut telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa.

Sistem tersebut kemudian diambil oleh Islam. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Wali Songo berperan dalam mengislamkan sistem pendidikan yang berkembang saat itu.

Hasani Ahmad Said dalam artikelnya menyebut pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Beberapa sejarawan menyatakan pendidikan pesantren telah ada sebelum kedatangan Bangsa Eropa pada abad 16.

Misalnya saja Pesantren Ampel yang didirikan oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim menjadi cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren di Tanah Air. Pasalnya para santri setelah menyelesaikan studinya merasa berkewajiban mengamalkan ilmunya di daerahnya masing-masing.

Ketika itu para santri yang berasal dari pulau Jawa datang untuk menuntut ilmu agama. Bahkan di antara para santri ada yang berasal dari Gowa dan Tallo, Sulawesi.

Misalnya Pesantren Giri di Gresik bersama institusi sejenis di Samudra Pasai telah menjadi pusat penyebaran ke-Islaman dan peradaban ke berbagai wilayah Nusantara.

Dari pesantren Giri, santri asal Minang, Datuk ri Bandang, membawa peradaban Islam ke Makassar dan Indonesia bagian Timur lainnya. lalu melahirkan Syekh Yusuf, ulama besar dan tokoh pergerakan bangsa. Mulai dari Makassar, Banten, Srilanka hingga Afrika Selatan.

Awal Mula Pesantren dan Perjalanannya Hingga Kini

Namun pada masa VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda kondisi ini berubah. Masyarakat Islam yang taat seakan-akan diasingkan. Para ulama dijauhkan dari masyarakat karena dianggap membawa potensi terjadinya “kerusuhan”.

Pada akhirnya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam cenderung menyingkir dari pengaruh-pengaruh pemerintah. Dari sinilah pesantren kemudian berjuang untuk mempertahankan diri secara mandiri.

Pesantren terbentuk melalui proses yang panjang, di awali dengan pembentukan kepemimpinan dalam masyarakat. Seorang kiai dalam masyarakat tidak muncul begitu saja.

Kepemimpinan kiai muncul karena adanya pengakuan dari masyarakat, terutama dianggap memiliki keutamaan dalam ilmu. Maka kemudian kiai akan menjadi rujukan dan tempat bertanya, tidak saja mengenai agama tetapi juga kehidupan bermasyarakat.

"Dari terbentuknya kepemimpinan kiai, yang menjadi rujukan masyarakat sebuah sistem pendidikan masyarakat terbentuk. Masyarakat menjadikan kiai sebagai guru dan belajar apa saja yang dikuasainya," tulis Herman DM dosen jurusan Tarbiyah STAIN Kendari dalam artikel berjudul Sejarah Pesantren di Indonesia.

Pada tahap awal, masjid akan digunakan sebagai pusat pendidikan masyarakat. Pada perkembangan selanjutnya akan didirikan tempat tinggal untuk para santri yang berasal dari wakaf masyarakat.

Hal inilah yang menjadi ciri khas dari pesantren, bahwa hubungan antara kiai dan santri tidak hanya berkaitan antara guru dan murid, tetapi sudah seperti orang tua dan anak. Tidak heran para santri akan merasa betah bila tinggal di pesantren.

Lokasi pesantren model dahulu tidaklah seperti yang ada kini. Biasanya lebih menyatu dengan masyarakat, tidak dibatasi pagar (kompleks) dan para santri berbaur dengan masyarakat sekitar.

"Bentuk ini masih banyak ditemukan pada pesantren-pesantren kecil di desa-desa Banten, Madura dan sebagian Jawa Tengah dan Timur," catat Herman.

Perkembangan pesantren di Indonesia

Setelah perang kemerdekaan, ujian bagi pesantren bertambah karena Pemerintah Indonesia mendorong didirikannya sekolah modern. Dampak kebijakan itu membuat pesantren sebagai kekuatan pendidikan mulai menurun.

Kurun waktu ini dianggap sebagai musibah yang paling dahsyat bagi eksistensi pesantren. Hanya pesantren besar yang mampu menghadapi dengan mengadakan penyesuaian terhadap sistem pendidikan nasional.

Tetapi bertahannya pesantren besar ini juga mulai berdampak kepada pesantren lain yang lebih kecil. Mereka mulai bisa menyesuaikan diri dan akhirnya menemukan bentuk baru pada tahun 1950 an.

Memang pada tahun-tahun ini minat kepada dunia pesantren mulai menurun secara drastis. Apalagi saat itu banyak pelatihan-pelatihan untuk bekerja yang dilakukan di sekolah modern.

Kehidupan pesantren mulai normal memasuki tahun 1970 an. Tetapi ketika itu juga muncul gelombang sekulerisasi yang memberi kegoncangan bagi dunia pesantren.

Pada masa-masa awal pembentukannya, pesantren tumbuh dengan ciri-ciri tradisionalitasnya. Akan tetapi pada masa-masa berikutnya, mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman.

Sepak Bola Api, Permainan Ekstrem Indonesia yang Sarat Makna

Terutama sekali adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun bukan berarti perubahan pesantren tersebut telah menghilangkan keaslian dan kesejatian tradisi pesantren.

Azyumardi Azra dalam Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru menyebut pesantren mampu bertahan bukan hanya karena kemampuannya untuk melakukan adjusment dan readjustment. Tetapi juga karena mengandung makna keaslian Indonesia (indegenous).

Jika lembaga pesantren pada awalnya tidak lebih dari satu musala atau padepokan. Kini lembaganya lebih kompleks dengan berbagai unit lembaga pendidikan seperti madrasah, sekolah umum sampai perguruan tinggi.

Perubahan ini dilakukan sebagai bentuk adaptasi akan dunia modernsehingga dunia pesantren tidak lagi dianggap statis dan mandek. Dinamika kehidupan pesantren pun telah terbukti dengan keterlibatan aktif memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Di antaranya, pesantren ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa karena pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki akar budaya yang kuat di tengah-tengah masyarakat," tulis Zuhairini dalam Sejarah Pendidikan Islam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini