Mangga Kasturi, Flora Ikon Kalimantan Selatan yang Telah Punah di Alam Liar

Mangga Kasturi,  Flora Ikon Kalimantan Selatan yang Telah Punah di Alam Liar
info gambar utama

Mangga termasuk jenis buah-buahan yang mudah ditemukan di Indonesia dan jadi favorit banyak orang karena rasanya perpadua antara manis dan asam yang menyegarkan. Di beberapa daerah, buah mangga banyak diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman, seperti jus, sirup, sambal, campuran rujak atau es buah, manisan, hingga dijadikan keripik.

Beberapa jenis mangga seperti harum manis, golek, gedong gincu , cengkir, kweni, dan manalagi cukup mudah dijumpai di pasar tradisional hingga pasar modern. Bahkan, ketika memasuki musim mangga, buah ini ramai dijual pedagang kaki lima.

Namun, ada satu jenis mangga yang kini sulit ditemukan yaitu kasturi. Mangga kasturi yang merupakan flora identitas Kalimantan Selatan ini telah ditetapkan oleh tim penilai dari World Conservation Monitoring Centre pada tahun 1998 dalam kategori extinct in the wild atau punah in situ yang artinya punah di habitat aslinya yaitu alam liar.

Mengenal Pohon Ulin, Si Kayu Besi yang Dibanggakan oleh Suku Dayak

Penyebaran dan status konservasi mangga kasturi

Mangga kasturi memiliki nama latin Mangifera casturi Kosterm. Buah ini pertama kali kali dideskripsikan oleh Kostermans pada tahun 1993 yang saat itu meneliti spesimen mangga kasturi di Herbarium Bogor Rience, Pusat Penelitian Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kabupaten Bogor.

Mengutip laman Lipi.go.id, saat ini mangga kasturi sudah tidak ditemukan di habitat aslinya, juga di hutan-hutan wilayah lain. Bahkan, mangga ini tidak ada di negara lain sehingga dapat dikatakan sebagai jenis mangga asli Indonesia.

Penyebaran mangga kasturi memang terbatas hanya di kebun campuran di Desa Mataraman, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. Umumnya, kebun campuran ditumbuhi tanaman padi dan diselingi pohon mangga kasturi yang usianya sudah lebih dari 50 tahun, itupun sebenarnya tidak sengaja ditanam warga.

Buah ini juga banyak ditemukan di Kabupaten Banjar dan hulu Sungai Selatan, serta dapat tumbuh di lahan kering dan lahan rawa pasang-surut. Mangga kasturi biasanya panen pada awal musim hujan dan melimpah pada bulan Januari. Namun, karena banyak pohonnya sudah tua maka produktivitas pun semakin menurun.

Marga mangigera yang ditemukan di Kalimantan sebanyak 31 jenis dan tiga di antaranya adalah flora endemik. Dalam keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang identitas flora masing-masing provinsi, mangga kasturi ditetapkan sebagai identitas flora Kalimantan Selatan.

Status kelangkaan buah ini telah dianalisis dengan kategori dan kriteria tumbuhan langka oleh IUCN Red List pada 30 November 1994. Berdasarkan penelitian IUCN yang senada dengan pernyataan World Conservation Monitoring Centre, mangga kasturi sudah punah di habitatnya.

Namun, saat ini mangga kasturi sebenarnya masih bisa ditemukan di perkebunan warga bahkan ditanam di pekarangan rumah karena masyarakat membudidayakan buah ini.

Kancilan Flores, Burung Arwah Bersuara Nyaring di Danau Kelimutu

Mengenal karakteristik mangga kasturi

Mangga kasturi memiliki ciri khas berupa ukuran kecil, umumnya panjang buah hanya sekitar 5 cm dan beratnya sekitar 65 gram. Kulit buahnya lebih tipis dan berwarna hijau terang dengan bintik-bintik gelap yang berubah menjadi kehitaman saat masak. Daging buahnya berwarna oranye gelap dan rasanya cenderung lebih manis serta aromanya begitu harum.

Seperti dikutip Sehatq.com, mangga kasturi terbukti memiliki kandungan nutrisi seperti terpenoid dan polifenol. Manfaat dari nutrisi yang bertindak sebagai antioksidan tersebut antara lain sebagai anti peradangan, dapat menangkal radikal bebas, mencegah diabetes hingga penyakit jantung, mencegah penggumpalan darah, meningkatkan fungsi otak, dan melancarkan pencernaan.

Baru-baru ini, Dr. Deden Derajat Matra, dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, melakukan penelitian mengenai mangga kasturi bersama pegiat dan pelestari buah lokal Kalimantan Selatan, Hanif Wicakosono.

Deden berhasil mengidentifikasi buah ini secara komprehensif. Dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa ada empat jenis kasturi yang dikenal masyarakat yaitu cuban, mawar, pelipisan, dan pinari, beradasarkan marka mikrosatelit dan DNA barcoding.

Keragaman genetik mangga kasturi ini merupakan hasil dari persilangan antar spesies dan terjadi berulang. Dugaannya berasal dari jenis Mangifera indica dan M. quadrifida.

“Persilangan antar spesies di alam dapat terjadi dengan menghasilkan keragaman tinggi dan dapat dilacak silsilahnya dengan DNA fingerprinting, salah satunya dengan marka mikrosatelit,” jelasnya, seperti dikutip Okezone.com.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini