Kancilan Flores, Burung Arwah Bersuara Nyaring di Danau Kelimutu

Kancilan Flores, Burung Arwah Bersuara Nyaring di Danau Kelimutu
info gambar utama

Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu kawasan konservasi di Indonesia yang terkenal karena keindahan alamnya. Salah satu daya tarik taman nasional tersebut adalah keberadaan Danau Kelimutu yang dikenal sebagai danau tiga warna. Ketiga danau tersebut memiliki namanya masing-masing yaitu Tiwu Ata Polo (danau warna merah), Tiwu Nua Muri Koo Fai (danau warna biru), dan Tiwu Ata Mbupu (danau warna putih).

Selain berbeda warna, masyarakat setempat percaya bahwa danau tersebut juga mempunya perbedaan makna. Misalnya Tiwu Ata Polo adalah tempat untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya berbuat jahat, sedangkan Tiwu Nua Muri Koo Fai adalah tempat berkumpulnya jiwa pada muda-mudi yang telah meninggal, kemudian Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat bagi jiwa orang tua yang telah meninggal.

Danau Kelimutu memang merupakan salah satu ikon Kabupaten Ende dan menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Tak hanya dikenal dengan keindahannya, Danau Kelimutu juga memiliki mitos yang melegenda yaitu keberadaan burung arwah. Suara burung-burung itu selalu terdengar tapi keberadaannya nyaris tak terlihat. Konon, burung tersebut akan muncul pada saat tertentu, misalnya pada upacara Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata.

Tak berkaitan dengan hal mistis, sebenarnya burung tersebut memang nyata adanya. Namanya kancilan Flores atau disebut juga dengan nama burung garugiwa. Lantas, mengapa disebut dengan burung arwah? Berikut penjelasannya.

Penemuan Terbesar, 14 Spesies Baru Celurut Ditemukan di Sulawesi

Mengenal sosok burung arwah di Danau Kelimutu

Namanya adalah kancilan Flores, burung endemik yang hidup secara khusus di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Burung dengan nama latin Pachycephala Nudigula ini memang misterius karena jarang terlihat, tapi suaranya begitu lantang terdengar. Ini karena tubuhnya begitu mungil dan berwarna hijau sehingga nyaris serupa dengan warna pepohonan tempat ia bertengger.

Ia juga jarang terlihat karena biasanya hinggap di pepohonan dengan ketinggian 10 meter. Ditambah lagi, kancilan Flores juga memiliki sifat pemalu dan suka berpindah-pindah sehingga keberadaannya sulit dilihat oleh manusia. Namun, satu hal yang pasti adalah burung ini dikenal sebagai peniru suara yang ulung.

Penamaan burung arwah ini juga bukan semata karena sosoknya yang kerap tak terlihat. Masyarakat Lio, yang hidup di sekitar taman nasional, menganggap kancilan Flores sebagai burung yang disakralkan. Mereka juga percaya bahwa burung ini adalah jelmaan arwah Suku Lio. Karena dianggap sakral, maka masyarakat sangat melindungi burung kancilan Flores dan tidak ada satu pun penduduk setempat yang memburunya.

Sementara itu di Manggarai, burung ini disebut dengan nama ngkiong atau kiong. Berbeda dengan masyarakat Suku Lio, di Manggarai burung kancilan Flores dianggap sebagai pembawa pesain ajaib dari alam untuk menusia.

Untuk ciri fisiknya, burung ini memiliki ukuran tubuh kecil dengan panjang sekitar 20 cm. Sebagian besar warna badannya berwarna hijau zaitun, dari tengkuk, punggung, sayap, hingga ke ekor. Namun, warna tubuh bagian bawah seperti dada dan perut cenderung hijau kekuningan, sedikit lebih terang dari warna dominannya. Lalu untuk bagian kepalanya hitam dan warna merah terlihat pada tenggorokannya.

Termasuk perching bird atau burung bertengger dan ini terlihat dari morfologinya pada bagian susunan kaki. Pada bagian depan terdapat tiga jari kaki dan satu di belakang. Jari tengah di bagian depan berukuran lebih panjang, sedangkan dua jari lain memiliki panjang yang sama. Jari paling depan berfungsi untuk mencengkram ranting atau batang pohon saat bertengger.

Sebagai burung endemik, daerah persebaran kancilan Flores memang terbatas hanya di Nusa Tenggara, termasuk Flores dan Sumbawa. Umumnya, burung ini hidup di dataran rendah sampai area pegunungan dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Pakannya sendiri adalah hewan seperti serangga berukuran kecil atau laba-laba.

Tiong Batu Kalimantan, Burung Endemik dengan Suara Mirip Klakson

Kancilan Flores dan suaranya yang khas

Satu hal paling menarik dari si burung arwah adalah suaranya. Pagi hari, sekitar pukul enam sampai sembilan adalah waktu di mana suara burung kancilan Flores paling sering terdengar. Suaranya terdengar sangat dekat di sekitaran hutan arboretum dan mirip seperti bunyi siulan dengan volume tinggi.

Kancilan Flores bisa berkicau terus-menerus sampai 10 menit dengan intonasi yang konstan, bahkan bisa lebih lama lagi jika ada burung lain yang berkicau di sekitarnya. Suaranya begitu nyaring dan lantang. Jika mendengar suaranya dari jarak dekat, kurang dari lima kilometer, bisa sampai memekakan telinga.

Tak hanya itu, burung ini juga punya kicauan yang bervariasi, bahkan sampai 15 jenis. Dalam satu periode kicauan, ia bisa mengeluarkan lebih dari lima variasi sehingga suaranya terdengar berbeda-beda. Kemampuan kancilan Flores dalam meniru suara memang tak tertandingi. Ia bahkan bisa berkicau meniru suara hewan atau apapun yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Sebagai contoh, kancilan Flores yang hidup di Taman Nasional Kelimutu bisa menirukan suara alarm mobil karena adanya lokasi parkir kendaraan dekat habitat mereka. Kemudian, untuk burung yang ada di Golo Lusang, Ruteng, bisa menirukan suara burung cingcoang Flores.

Mengenal Pohon Ulin, Si Kayu Besi yang Dibanggakan oleh Suku Dayak

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini