Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan
info gambar utama

Gerakan menanam pohon sudah lama digalakkan, ketika rezim Pemerintahan Orde Baru (Orba). Presiden Soeharto menggalakkan Gerakan Satu Juta Pohon yang mengajak secara resmi masyarakat secara swadaya menanam pohon sampai melampaui satu juta.

Merujuk dari Cendananews, gerakan ini mendapat sambuatan baik dari masyarakat luas. Masyarakatnya baik dari desa maupun kota terlihat bergembira, bergairah dan bersuka cita, ikut dalam gerakan tersebut.

Tercatat mereka menaman beberapa pohon di perkarangan, halaman rumah dan di beberapa tempat yang bisa mereka tanami pohon. Hal ini memang sesuai dengan instruksi Presiden Soeharto.

"Dengan cara yang sederhana, dan dalam waktu yang singkat, kita telah menanam jutaan pohon di Tanah Air yang sangat luas ini, ungkap Presiden Soeharto dalam sambutan perayaan Tanda Penghargaan Gerakan Satu Juta Pohon, pada 12 Januari 1994 di Istana Negara.

Presiden Soeharto ketika itu menerima laporan bahwa Gerakan Satu Juta Pohon telah melibatkan penanaman lebih dari 143 juta pohon. Penanam tersebut terjadi hanya selama 1993.

Kisah Soeharto dari Lapangan Golf, Bertemu Istri Soekarno hingga Kalahkan Rambo

"Tanah air kita bertambah hijau, lingkungan kita bertambah baik. Flora dan fauna kita pun terhindar dari kepunahan," ujar pria yang lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta ini.

Pada kesempatan itu, dirinya juga menyatakan bahwa hutan sangat penting bagi kehidupan. Di samping sumber kekayaan, hutan juga bermamfaat bagi alat untuk membersihkan udara dan mengurangi pemanasan bumi.

Karena itulah, Soeharto mendorong pemerintah daerah agar mengambil langkah-langkah untuk mencegah kerusakan sumber daya alam. Sehingga di kota-kota harus dibangun hutan kota, juga dilaksanakan penghijauan di sepanjang pantai dan kiri kanan, alur sungai sebagai penyangga lingkungan.

Hal ini juga disampaikannya ketika kunjungan ke Desa Ngatabaru, Kecamatan Biromaru, Donggala, Sulawesi Tengah pada 17 Desember 1990 ketika puncak Pekan Penghijauan Nasional (PPN) ke-30. Ketika itu Soeharto menyebut salah satu sumber daya alam yang dimiliki adalah lahan kering.

Karena itulah lahan jenis tersebut sangat luas tetapi baru sebagian kecil yang dimamfaatkan secara baik dan benar. Karena itu dirinya meminta kepada petani agar menanam segala jenis tanaman, antara lain buah-buahan, kayu, dan tanaman keras lainnya.

Dicatat lebih dari 1.000 massa pemuda, Pramuka, dan Korpri hadir dalam acara tersebut. Walau hujan turun rintik-rintik, tidak menyurutkan para peserta untuk hadir dalam acara itu.

Kemiskinan yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan

Soeharto pada Hari Peringatan Lingkungan Hidup Sedunia pada 1993 pernah menyebut bahwa kemiskinan sangat berhubungan dengan kerusakan dan pengrusakan lingkungan hidup.

Kemiskinan dianggapnya mengakar karena sumber daya terbatas, lalu lingkungan hidup yang tidak memadai serta tidak dikelola dengan baik.

"Akar kemiskinan adalah kurangnya kemampuan atau pilihan untuk mengatasi sumber daya yang terbatas itu," jelasnya.

Pada saat itu, Soeharto menyatakan pemerintah berusaha untuk mengatasi persoalan kemiskinan. Salah satunya dengan pemamfaatan sumber daya alam yang tersedia.

Patung Kristus Raja, Hadiah Soeharto yang Gagal Rebut Hati Masyarakat Timtim

Baginya sumber daya alam di Indonesia masih mampu memberikan dukungan terhadap pembangunan. Tetapi Soeharto menyebut bahwa semua pihak harus menyadari bahwa keadaan ini tidak akan menjadi baik bila pembangunan mengabaikan kelestarian lingkungan.

"Kita perlu belajar dari pengalaman pahit bangsa-bangsa di negara maju, agar tidak terulang masalah serupa. Agar meniru pembangunan negara," jelas Soeharto.

Dirinya menyebut negara maju ketika itu belum berhasil menuntaskan masalah lingkungan yang mereka hadapi, seperti hujan asam, pembuangan limbah berbahaya dan beracun.

Keselarasan perdamaian dunia dengan lingkungan

Soeharto juga pernah menyinggung masalah lingkungan ini dalam sidang umum PBB tahun 1986. Ketika itu sambutannya yang juga dikemukakan sebagai pesan yang disiarkan Badan Lingkungan PBB.

Dalam sambutannya dia menyebut perdamaian yang langgeng sulit ditegakkan selama belum terbina keselarasan dalam hubungan manusia dengan berbagai tingkatan lingkungannya.

Hal ini berkaitan dengan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan alam, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan masyarakat maupun manusia dengan lingkungan antar bangsa.

Soeharto ketika itu menyindir bila manusia tidak lagi mengindahkan kaitan antara bangsanya dengan sesama anggota masyarakat International. Juga ada upaya merebut sumber daya orang lain, seperti menguras dan memboroskan.

Kemudian merusak lingkungan hidup dunia untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan bersama umat manusia. Maka keselarasan hubungan manusia dan lingkungan hidup akan menurun.

Kelompencapir, Ketika Soeharto Bertemu Petani dalam Program TV

Hal inilah yang mengakibatkan keselarasan bangsa akan terganggu. Sehingga menyebabkan persengketaan akan timbul sehingga perdamaian akan terganggu, tidak jarang disertai dengan kekerasan senjata.

Bila kekerasan senjata ini meledak, maka lingkungan hidup akan mengalami kerusakan yang semakin parah. Soeharto menyatakan bahwa perang ini bisa merusak sumber daya alam, merobek-robek kehidupan sosial dan menghancurkan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia.

"Jelas kiranya bahwa perdamaian merupakan syarat mutlak bagi kelestarian lingkungan,” demikian kata Presiden Soeharto.

PBB ketika itu menghimbau masyarakat dunia melalui 25 pemimpin terkemuka agar menandai peringatan hari itu dengan penanaman pohon perdamaian. Presiden Soeharto dan Ibu Negara kemudian menanam dua pohon keben di halaman Istana sebagai lambang perdamaian.

Sebelum menanam pohon perdamaian itu, Presiden Soeharto di dalam istana Negara lebih dulu menyampaikan penghargaan lingkungan nasional Kalpataru. Kelompok penyelamat lingkungan masing-masing memperoleh Rp5 juta, sedang para perintis dan pengabdi lingkungan masing-masing memperoleh Rp2,5 juta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini