Peucicap, Upacara Kenalkan Rasa Makanan Pada Bayi Khas Masyarakat Aceh

Peucicap, Upacara Kenalkan Rasa Makanan Pada Bayi Khas Masyarakat Aceh
info gambar utama

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan adat dan budaya. Ada banyak tradisi dan upcara yang dilakukan untuk setiap momen penting dalam kehidupan, termasuk kelahiran seorang anak. Upacara kelahiran ini terus dilakukan sejak zaman dahulu sebagai rasa syukur atas kehadiran si kecil dan merayakan perjuangan sang ibu yang telah mengandung selama sembilan bulan.

Upacara kelahiran di setiap daerah tentunya berbeda-beda dan memiliki ciri khas masing-masing. Di Aceh misalnya, ada upacara yang disebut peucicap, serangkaian acara adat masyarakat Aceh yang mengenalkan rasa makanan untuk pertama kalinya pada bayi.

Tentunya di balik sebuah upacara adat terdapat prosesi yang panjang dan penuh makna. Berikut penjelasan mengenai ritual peucicap yang kerap dilakukan masyarakat Aceh.

Tedong Silaga, Tradisi Adu Kerbau dalam Upacara Kematian Suku Toraja

Prosesi dan makna

Peucicap berarti mencicipkan berbagai rasa makanan pada bayi untuk pertama kalinya, mulai dari asam, asin, manis, dan tawar. Hal ini dilakukan agar bayi bisa membedakan rasa yang satu dengan lainnya sekaligus melatihnya mengonsumsi makanan pendamping ASI.

Pengenalan makanan ini biasanya bukan berupa masakan atau olahan, tetapi dari bahan dasar makanan seperti buah. Misalnya untuk rasa manis biasanya bayi akan mencicipi madu, tebu, atau air perasan sawo, rambutan, atau nangka. Bayi juga akan diberikan makanan dengan rasa berbeda, mulai dari lidah buaya, air zam-zam, hingga ikan.

Tradisi ini sangat penting bagi orang Aceh karena bermakna agar si anak tidak canggung hidup di tengah masyarakat, rajin bekerja, dan memiliki akhlak yang baik.

Sebelum upacara dilakukan, semua makanan tersebut harus disiapkan oleh nenek dari bayi tersebut dari garis keturunan ibu. Selain makanan, sang nenek juga harus menyiapkan hati ayam, Surat Yasin, dan rencong.

Upacara peucicap dilakukan oleh orang dengan pengetahuan agama yang tinggi dan sosok terpandang serta memiliki budi pekerti yang bagus. Siapa yang melakukan peucicap juga dipilih berdasarkan jenis kelamin anak. Bayi laki-laki menjadi tugas Teungku Agam dan bayi perempuan akan dilakukan oleh Teungku Inong.

Prosesinya dimulai dengan mengucapkan doa lalu mengolesi lidah bayi dengan madu, air perasan buah, dan ikan. Kemudian, hati ayam akan ditaruh di dada bayi dan dibolak-balik sambil dibacakan basmalah. Proses ini memiliki makna harapan agar sang bayi kelak akan selalu mendapatkan petunjuk agar tidak salah dalam mengambil keputusan maupun bertindak.

Sebagai penutup peucicap, Surat Yasin akan diperlihatkan kepada sang bayi, begitu juga dengan senjata tradisional Aceh yaitu rencong. Hal ini dilakukan agar sang anak kelak akan selalu taat kepada agama dan bisa menjadi pemberani. Meski tidak wajib, biasanya para tamu akan memberikan hadiah atau uang untuk si bayi sesuai kemampuan masing-masing.

Menyaksikan Upacara Wiwitan dan Tari Edan-Edanan di Kampung Wisata Rejowinangun

Waktu pelaksanaan peucicap

Kapan peucicap dilakukan sebenarnya berbeda-beda setiap daerah. Pemaknaan kata ‘baru lahir’ pun berbeda, mulai dari bayi usia 7 hari, 21 hari, bahkan 5-7 bulan juga masih dalam kategori baru lahir.

Misalnya masyarakat Gampong Meunasan Pupu di Kecamatan Ulin, Kabupaten Pidie, upacara peucicap akan dilaksanakan pada saat bayi berusia 44 hari, 3 bulan, 5 bulan, atau memasuki 7 bulan. Sementara pada masyarakat adat Nagan Raya, peucicap akan dilakukan saat usia bayi baru tujuh hari, 14 hari, atau 21 hari .

Sedangkan berdasarkan hukum adat di Blang Me, upacara ini berlaku pada hari ketujuh setelah bayi lahir. Sebenarnya waktu menggelar upacara ini disesuaikan dengan kondisi-kondisi seperti kemampuan ekonomi keluarga, anak sulung, atau keluarga baru. Biasanya jika anak sulung dan keluarganya mampu, maka akan membuat acara kendurian dan menyembelih kerbau.

Proses peucicap biasanya dilakukan bersamaan dengan upacara adat lain terkait kelahiran bayi. Misalnya peutron aneuk atau tradisi turun tanah yaitu mengajak bayi keluar rumah dan menginjakkan kakinya pertama kali di tanah, lalu ada upacara cuko’ok atau memotong rambut bayi, geuboh nan atau pemberian nama, juga upacara tepung tawar atau peusijuek.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini