Mengintip Ketangguhan Panel Antipeluru Buatan Tim Dosen ITB

Mengintip Ketangguhan Panel Antipeluru Buatan Tim Dosen ITB
info gambar utama

Jika bicara mengenai perlengkapan untuk mendukung kelangsungan operasional militer, termasuk di dalam negeri, hal paling utama yang dibutuhkan pasti tidak akan jauh dari keberadaan alutsista baik dalam bentuk persenjataan ataupun armada mulai dari angkatan darat, laut, dan udara.

Sejauh ini, alutsista yang dimiliki Indonesia mungkin belum 100 persen mengandalkan produk dalam negeri, namun catatan mengenai deretan angkatan bersenjata yang sudah digarap secara mandiri juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dari sederet produk yang sudah dihasilkan Indonesia bahkan diandalkan oleh angkatan militer berbagai negara lain, faktanya masih ada satu komponen yang hingga saat ini masih mengandalkan keran impor, yaitu panel antipeluru.

Namun kabar baiknya, kelompok peneliti sekaligus tim riset salah satu instansi pendidikan ternama di Indonesia, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menciptakan panel antipeluru yang memiliki performa memuaskan.

Seperti apa detail panel antipeluru yang berhasil dibuat ITB, dan menjadi harapan baru untuk memperkuat armada militer Indonesia?

Negara-negara ASEAN yang Gunakan Senjata Pindad

Dibuat dari serat rami

Dr. Mardiyati
info gambar

Mengutip penjelasan yang dimuat melalui laman resmi ITB, diketahui bahwa panel antipeluru yang dimaksud adalah bagian yang tujuan utamanya dibuat untuk melengkapi modular armor system kapal patroli, dan terbuat dari material alam yakni karet lokal serta serat rami.

Dalam pengembangannya, tim terlibat terdiri dari kelompok dosen ITB yang dipimpin oleh Dr. Mardiyati dan sejumlah anggota di antaranya Ahmad Nuruddin, Arief Hariyanto, Steven, Onny Aulia Rachman, dan Muhammad Hisyam Ramadhan yang seluruhnya berasal dari Laboratorium Polimeter Material.

“Seperti yang kita tahu, negara kita adalah negara maritim dan diperlukan kapal patroli untuk menjaga pertahanan dan keamanannya. Biasanya di ruang kemudi, lambung, dan mesin kapal, diberikan panel anti peluru untuk melindungi kapal patroli dari tembakan. Nah, biasanya modul anti peluru atau material untuk produk tersebut diimpor dari luar. Kita ingin ada kemandirian dalam hal tersebut,” papar Mardiyati.

Mardiyati juga menjelaskan bahwa penggarapan inovasi ini sudah dimulai dengan studi literatur yang diawali pada pertengahan 2020, di mana tim ITB menjajal untuk mengganti modul antipeluru dengan bahan lokal. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari ketergantungan dari negara luar dan memenuhi aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), termasuk untuk militer.

Selain itu, disebutkan bahwa untuk penggarapan inovasi ini, dana yang dibutuhkan mencapai Rp150 juta yang sepenuhnya dibiayai Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB.

Mengenai detail produk, Mardiyati juga menjelaskan bahwa timnya secara keseluruhan telah membuat beberapa panel mulai dari yang 100 persen berbahan serat rami, ataupun berkomposisi serat rami 25 persen, 50 persen, dan 75 persen di mana masing-masing sisanya dicampur dengan serat gelas.

Indonesia Raih Prestasi Berkat Pemasok Senjata Sistem Pertahanan dan Keamanannya

Hasil pengujian dan performa

Hasil pengujian
info gambar

Dalam keterangan yang sama, disebutkan bahwa mengenai proses uji coba ITB dibantu dan bekerja sama dengan pihak yang selama ini sudah terkenal dalam menghasilkan persenjataan militer nasional, yakni PT Pindad.

Dijelaskan bahwa tahap uji coba telah berlangsung pada tanggal 18 November 2021 lalu dengan senapan penembak runduk alias sniper berjenis SPR-3 kaliber 7,62 milimeter, yang ditembakkan dari jarak lima meter, dengan menyasar dua titik dari masing-masing panel antipeluru yang diuji.

Lebih detail, pengujian dilakukan terhadap sebanyak lima sampel panel dengan jenis dan komposisi serat rami serta bahan lokal berbeda, namun memiliki ukuran yang sama yakni sekitar 25,8x17 dan tebal 2,5 sentimeter.

Setelahnya, diperoleh hasil bahwa panel yang dibuat dengan menggunakan karet lokal dengan serat rami 100 persen nyatanya gagal menghadang peluru. Sementara itu panel yang dibuat dengan tingkat kandungan serat rami 25 persen, 50 persen, dan 75 persen, sukses menahan peluru.

Ketiga panel di atas yang sama-sama memiliki ketebalan 25 milimeter diketahui mampu menahan peluru yang hanya memberikan goresan dengan kedalaman masing-masing 2, 6, dan 10 milimeter.

“Pelurunya enggak tembus tapi nyangkut di panel, kecepatan pelurunya tinggi hingga 856 meter per detik dan tidak tembus, maka itu kami happy atas hasilnya” tutur Mardiyati, mengutip Tempo.

Teknologi-Teknologi Senjata Karya Indonesia Ternyata Diminati Timur Tengah

Tak hanya untuk kepentingan militer

Menhan
info gambar

Meski tujuan awal dibuatnya inovasi ini adalah untuk melindungi kapal-kapal patroli atau lebih tepatnya bagian yang lazim jadi sasaran tembak seperti ruang kemudi, lambung kapal, dan ruang mesin, rupanya keberhasil inovasi yang dihasilkan oleh kelompok dosen ITB ini juga dilirik untuk keperluan perlindungan konstruksi bangunan, dan berbagai keperluan lain.

Dalam pemberitaan lainnya, Mardiyati mengungkap bahwa inovasi panel antipeluru tersebut diminati oleh konsultan arsitek untuk digunakan dalam konstruksi rumah. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa panel yang dimaksud sebenarnya juga bisa digunakan untuk perlindungan di bagian pintu kendaraan, bagian bawah helikopter, rumah tahanan, atau rumah perlindungan.

“Kalau bisa untuk kebutuhan sipil, kenapa enggak,” pungkasnya.

Bicara mengenai keinginan agar apa yang telah dihasilkan oleh timnya dapat bermanfaat, Mardiyati mengatakan bahwa jika memungkinkan nantinya tim terkait akan menjual lisensi panel antipeluru yang dimaksud untuk selanjutnya diproduksi oleh perusahaan lokal.

Senjata Made in Indonesia ini Mampu Tembus Rompi Anti Peluru Marinir AS

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini