Kemenparekraf Hadirkan Creative Hub dan Waterfront City di Labuan Bajo

Kemenparekraf Hadirkan Creative Hub dan Waterfront City di Labuan Bajo
info gambar utama

Di tengah kondisi pandemi Covid-19, pemerintah terus menjalankan komitmennya dalam membangkitkan perekonomian dan mendorong terciptanya peluang usaha berkelanjutan. Kabar terbaru datang dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang berkolaborasi dalam pembangunan Creative Hub di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Creative Hub merupakan wadah yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung para pelaku ekonomi kreatif dalam mengembangkan bisnis, membangun relasi, beroganisasi, serta mempererat ikatan dengan komunitas. Pembangunan Creative Hub dinilai memiliki peran penting dalam mendukung laju perekonomian daerah.

Selain Creative Hub, di Labuan Bajo juga akan ada Waterfront City, kawasan yang ditujukan untuk kebangkitan ekonomi dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya. Lantas apa saja yang dapat dilakukan di Creative Hub dan Waterfront City? Berikut penjelasannya:

Desa Nusa Aceh Kembangkan Program Wisata Edukasi Bertemakan Kebencanaan

Creative Hub Labuan Bajo

Creative Hub Labuan Bajo | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Pembangunan Creative Hub berlokasi di kawasan Puncak Waringin dan menjadi wujud kolaborasi Kemenparekraf dan Kementerian PUPR dalam memaksimalkan fungsi bangunan. Pada 27 Januari lalu, Creative Hub telah diresmikan dan diharapkan dapat menjadi dorongan bagi para pelaku ekonomi kreatif dalam membangun ekosistem kreatif, pembukaan lapangan kerja, dan tentunya kebangkitan ekonomi.

Creative Hub Labuan Bajo menempati lahan seluas 1.700 meter persegi di atas tanah Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat. Luas bangunannya sebesar 875 meter persegi dan terdiri dari Rumah Tenun dan Rumah Souvenir.

Rumah Tenun akan menjadi tempat eksibisi kain tenun dan memiliki ruang pameran. Selain itu, juga ada co-working space dengan kapasitas hingga 100 orang dan kios kuliner. Sementara di Rumah Souvenir memiliki ruang pameran yang untuk menampilkan serta menjual berbagai produk ekonomi kreatif lokal dan juga memiliki area coffee corner.

“Menteri PUPR menitipkan kepada saya, bahwa bagaimana fasilitas yang luar biasa ini dapat dikelola dengan penuh profesionalisme dan juga dikelola untuk menjadi ikon dari daya tarik Labuan Bajo ke depan,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno .

“Saya juga ingin menggandeng komunitas karena ini adalah ruang milik bersama bukan ruang milik pemerintah saja. Oleh karena itu, mari kita jaga bersama, kebersihannya dijaga, keamanan dan ketertibannya juga dijaga, dan Creative Hub Labuan Bajo ini akan menjadikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi leading sector dan pendorong untuk penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UMKM dan menuju pertumbuhan dan kebangkitan ekonomi kita,” lanjutnya.

Mengenal Tlusure, Aplikasi Pemandu Wisata di Era New Normal

Waterfront City Labuan Bajo

Waterfront City | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Waterfront City merupakan bagian dari program penataan kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Labuan Bajo. Saat ini, kawasan tersebut masih dalam proses pengembangan dan nantinya akan dilengkapi dengan fasilitas kelas dunia dan berkelanjutan lingkungan.

“Sekarang saya melihat pengembangan Waterfront ini sudah selesai. Hanya beberapa pengerjaan finalisasi dan rencananya Februari sudah bisa untuk menyambut ajang yang sangat bergengsi yaitu side event G20,” ujar Menparekraf pada kunjungannya ke Labuan Bajo, Kamis (27/1/2022).

Kawasan Waterfront akan memiliki lima zona berbeda. Zona A Bukit Pramuka merupakan zona pejalan kaki dan akan dilengkapi dengan taman, menara pandang, dan sentra ekonomi kreatif.

Kemudian ada Zona B Kampung Air yang kawasannya meliputi penataan ruang-ruang terbuka dengan tema Tangga Bajo. Di zona ini, setiap sudut didesain sedemikian rupa agar mudah diakses publik dan memiliki panggung terbuka untuk pementasan kesenian.

Di Zona C Dermaga akan menjadi ruang tunggu, kantor pengelola, pusat informasi serta plaza festival. Sedangkan di Zona D kawasan Pantai Marina akan jadi area komersial dan terakhir di Zona E Kampung Ujung adalah pusat wisata kuliner.

“Waterfront ini yang akan menjadi pusat dari titik nol pariwisata di Labuan Bajo. Di sinilah nanti lalu lintas penumpang akan masuk dan juga akan ada banyak sekali kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif di ruang publik ini, termasuk juga konser dan bagaimana kita bisa menikmati pemandangan indah dan juga matahari terbenam,” jelas Sandiaga.

Sandiaga mengutarakan harapannya bahwa pengelolaan kawasan Waterfront City akan melibatkan masyarakat sekitar sehingga mereka juga dapat merasakan langsung dampak dari pengembangan destinasi pariwisata super prioritas.

Balige, Sisi Lain untuk Menikmati Keindahan Danau Toba

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini