Vila Isola, Gedung dengan Arsitektur Art Deco yang Penuh Sejarah

Vila Isola, Gedung dengan Arsitektur Art Deco yang Penuh Sejarah
info gambar utama

Vila Isola, bangunan cantik dengan gaya art deco masih berdiri tegak di Jalan Dr Setiabudhi 229, tidak jauh dari terminal Ledeng yang terletak di antara Lembang dan Kota Bandung. Vila Isola mulai di bangun Oktober 1932 dan selesai pada bulan Maret 1933.

Tempat ini merupakan hasil rancangan arsitektur C.P Wolff Schoemaker atas pesanan pemiliknya Dominique Willem (DW) Berrety. Warga Italia berdarah campuran Jawa yang sebelumnya pernah bekerja di surat kabar Java Bode.

Namun nasib mujur ternyata menghinggapinya, dirinya menjadi kaya raya setelah menjadi pemilik Kantor Berita Aneta (Algemeen Nieuws en Telegrammen Agentschap) dan memonopoli berita-berita di Hindia Belanda.

Awalnya, Berrety sedang mencari tanah untuk membangun sebuah bungalo sederhana di antara Bandung dan Lembang. Tetapi ambisinya untuk membangun sebuah vila hampir membuatnya jatuh miskin.

Karena megahnya, vila ini kerap disebut sebagai istana. Tidak tangung-tanggung, Vila Isola dibangun dengan menghabiskan dana sebesar 500 ribu gulden atau sekitar Rp250 miliar sekarang.

Arsitektur Jengki, Langgam Indonesia Simbol Kebebasan Terhadap Pengaruh Belanda

"Vila ini dijadikan persembahan kasih sayang untuk istrinya tercinta," tulis Her Suganda dalam Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja.

Jumlah itu tergolong besar kala itu, khususnya di daerah koloni. Ketika itu perlengkapan interior sampai lampu-lampu hiasnya didatangkan langsung dari Prancis dan Italia.

Selain itu, karena gedung ini berada di tempat yang tinggi, maka memungkinkan pandangan bisa menuju segala arah. Jika ditujukan ke arah utara, akan tampak Gunung Taliban Perahu dan gunung-gunung lainnya.

Sementara bila ke arah selatan, akan tampak Kota Bandung, karena Vila Isola ketika itu berada di luar wilayah kota Bandung. Di teras, Berrety menempatkan kursi malas tempat dia menikmati sinar matahari, seraya memandang Kota Bandung.

Namun Berrety tidak lama menikmati gedung yang dirinya bangun itu. Dirinya hampir bangkrut ketika gedung itu selesai dibangun, alasan ini pula yang mendorongnya pergi ke Eropa untuk mencari kesempatan baru.

Tetapi nasibnya nahas. Dia sebenarnya ingin tiba di Bandung ketika Natal pada tahun 1934. Namun, pesawat Uiver yang membawanya pulang tak pernah tiba di Batavia.

Pesawat KLM yang ditumpanginya jatuh dan terbakar dalam perjalanan. Pesawat itu terjebak di badai pasir hebat dekat Baghdad, lalu jatuh di padang pasir. Semua penumpangnya tewas.

Gaya art deco yang mewah

C.J. van Dullemen dalam buku Arsitektur Tropis Modern: Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker yang dimuat Historia, menyatakan sebagai raja surat kabar yang kaya raya, bahkan Berretty terkenal suka berkelahi.

"Juara dalam seni halus membuat musuh. Karenanya dalam masyarakat Hindia Belanda yang penuh gosip, Berretty sering merasa harus mundur dan mempertahankan diri.”

Karena itu menurut Dullemen, tepat di dinding di atas aula Vila Isola terdapat ukiran motto Italia yang berbunyi M’isolo e Vivo. Artinya saya mengisolasi diri saya sendiri dan kehidupan.

Hal ini tercermin dalam penampilan vila. Dari sisi gaya, Vila Isola terlihat sebagai sebuah kreasi art deco bergaya ramping. Gedung ini lebih mirip Gedung Amerika ketimbang Indonesia maupun Belanda.

Sementara itu bagi Schoemaker, Vila Isola bisa dibilang salah satu penugasan yang paling sulit dan banyak dipublikasikan. Dirinya memang terkenal sebagai salah satu arsitek Belanda yang paling penting dalam memodernisasi lanskap perkotaan di Indonesia masa kolonial.

Di sisi lain, Schoemaker dan Berretty cukup lama saling mengenal. Pada awal 1920-an, keduanya bertugas dalam komite yang terlibat dalam pendirian Jaarbeurs Bandung.

Rancangan Co-Working Space Sebagai Wadah Membangun Perekonomian Masyarakat Bandung

Dullemen menyebut Hindia Belanda bisa diibaratkan sebagai sebuah desa besar yang di dalamnya semua orang saling mengenal. Sehingga mudah membayangkan pada suatu pagi Berretty mampir ke kediaman Wolff dan menyampaikan rancangannya.

Sedangkan mengutip dari Jurnal Kajian Arsitektur berjudul Tinjauan Furnitur Art Deco pada Vila Isola yang ditulis oleh Saryanto dan Riza Septriani Dewi yang dimuat Ayobandung, menyebut pada dasarnya bangunan art deco lebih mengedepankan nilai ekstetika daripada fungsional.

Sehingga beberapa furniture yang ada di dalam Vila Isola rata-rata diletakkan di tengah ruangan. Alasan furnitur art deco tidak diletakkan menyender ke dinding karena dinding sendiri memiliki nilai estetika untuk diperlihatkan.

Gaya art deco bisa terlihat dari furnitur yang diperuntukkan untuk kalangan bangsawan, ini bisa dibuktikan dari ukuran sofanya yang besar. Hal tersebut menjadikan nilai fungsional kalah dibandingkan ukuran benda dalam gaya art deco ini.

"Maknanya adalah hanya orang-orang berkelas yang bisa membeli benda-benda seperti itu," kelakarnya.

Berganti-ganti kegunaan

Setelah ditinggal oleh pemiliknya, Vila Isola pernah menjadi sebuah hotel. Gedung ini kemudian menjadi markas pertahanan Belanda untuk Kota Bandung yang dipimpin oleh Mayjen Pesman.

Hal ini bertujuan untuk menghadang serbuan 3.000 Detasemen Shoji yang dipimpin oleh Kolonel Shoji Toshimari. Detasemen ini mendarat di Eretan (Indramayu) pada tanggal 1 Maret 1942.

Setelah pasukan Belanda mengakui kekalahan di berbagai tempat, Jepang mengultimatum akan memborbadir Bandung bila Belanda tidak segera menyerah.

"Sesuai dengan ultimatum itu, Belanda akhirnya menghamparkan kain putih di halaman Vila Isola sebagai tanda penghentian tembak-menembak," catat Suganda.

Dengan kemenangan Jepang ini, Vila Isola lalu dijadikan semacam tempat pameran senjata-senjata tentara Belanda yang berhasil dirampas. Di bawah penjajahan Jepang, Vila Isola pernah menjadi Kongres Pemuda pertama dari tanggal 16-18 Mei 1945.

Inilah Beberapa Fakta Tentang Jengki, Gaya Arsitektur Asli Indonesia

Namun seperti yang terjadi pada gedung lain setelah kemerdekaan, Vila Isola lalu diambil alih pihak pejuang. Tempat ini dijadikan markas pertahanan Bandung utara ketika Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan para pejuang yang diultimatum agar meninggalkan Bandung.

Vila Isola lalu diserbu dari segala penjuru, dengan menggunakan truk, panser dan pesawat udara. Tetapi karena kekokohannya, bangunan itu tidak mengalami banyak kerusakan.

Pada tahun 1954, kepemilikan bangunan ini beralih ke tangan pemerintah Indonesia ketika dibeli dengan perantara Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Mr Mohamad Yamin. Sejak itu namanya diganti menjadi Bumi Siliwangi, kemudian menjadi Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

"Walau sudah lama berganti, sebagian orang masih menyebut bangunan cantik ini Vila Isola," tutup Suganda.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini