Tim Mahasiswa Unair Buat Pupuk Pertanian dan Perikanan dari Limbah Udang

Tim Mahasiswa Unair Buat Pupuk Pertanian dan Perikanan dari Limbah Udang
info gambar utama

Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang begitu melimpah dan telah bergerak untuk menyuplai produk perikanan ke masyarakat global. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), udang merupakan komoditas kelautan dan perikanan yang menjadi primadona ekspor.

Tak main-main, nilai ekspor udang mencapai 725,98 juta dolar AS atau Rp 10,3 triliun dan menyumbang 41,56 persen terhadap total nilai ekspor. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia memang terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data yang dirilis ITC Trademap, nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai 5,2 miliar dolar AS dan tumbuh positif 5,7 persen jika dibandingkan tahun 2019. Untuk tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, Jepang, dan China. Menurut data yang sama, bila dilihat dari komoditasnya, udang menjadi unggulan, disusul tuna, cakalang, cumi, sotong, rajungan, kepiting, dan rumput laut.

Meningkatnya nilai ekspor udang ke mancanegara tentu menjadi kebanggaan bagi Indonesia. Namun, di balik semua itu rupanya masih ada persoalan yang harus dihadapi yaitu akumulasi limbah udang dari berkembangnya tambak-tambak yang tak terkendali.

Limbah Tinja Menghantui Kebersihan Air Minum di Indonesia

Mengenali dampak dan inovasi dari limbah udang

Poli udang | Unair.ac.id
info gambar

Limbah udang sendiri berupa unsur organik yang biasanya sisa pakan. Limbah ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pantai. Akumulasi dari unsur-unsur organik bisa meningkatkan populasi alga yang menganggu komunitas ikan dan budidaya lain di pantai seperti kerapu.

Limbah dari budidaya udang juga terdiri atas padatan dalam bentuk residu pakan, feses ikan, dan koloni bakteri.

Meskipun pemerintah telah menyediakan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), tetapi masih banyak petambak yang tidak menerapkan sehingga berdampak pada mencemari perairan dan membahayakan organisme.

Berangkat dari pesoalan pembuangan limbah budidaya udang yang kerap diabaikan, Tim Aquafuture dari Universitas Airlangga menciptakan inovasi berupa pupuk dari limbah udang yang dinamakan Poli Udang. Mereka adalah Heri Prasetyoning Tias, Putri Mardhotillah, Cahaya Mahadiva, dan Anggraeni Tirta Sari.

Menurut penjelasan Putri selaku CMO Aquafuture, selama ini sudah banyak pengaduan masyarakat terkait limbah budidaya udang, apalagi limbah tersebut mengandung senyawa fosfat dan nitrogen yang sifatnya metabolit toksik dan sangat berbahaya.

Putri menyebut bahwa nitrogen dapat mengakibatkan ledakan pertumbuhan algae, merusak rantai makanan ekosistem laut hingga kematian organisme. Ia pun menjelaskan bahwa per tiga bulan, laut Indonesia menerima 267 ribu juta ton limbah budidaya udang.

Sebagai CEO Aquafuture dan bagian dari tim, Heri menyampaikan dengan kehadiran Poli Udang (Pupuk Olahan Limbah Udang) ini dapat meminimalkan pupuk dari bahan kimia juga bisa jadi alternatif pupuk subsidi pemerintah.

Poli Udang sendiri memiliki varian pupuk padat dan pupuk cair. Untuk pupuk padat dengan ukuran 5 kilogram hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian. Sedangkan pupuk cair berukuran 500 mililiter bisa digunakan pada lahan pertanian dan perikanan.

Penggunaan Poli Udang Cair dapat bermanfaat untuk menumbuhkan pakan alami, fitoplankton, dan akan memudahkan petambak dan petani ikan di Indonesia dalam proses budidaya. Kini, produk pupuk dari limbah udang tersebut akan terus dikembangkan dan dilakukan uji coba. Rencananya produk ini akan dipasarkan dengan harga sekitar Rp30 ribu per botol dan Rp25 ribu per karung.

Ke depannya mereka berharap bahwa produk Poli Udang dapat dapat menjadi pupuk yang efektif dan dipasarkan secara luas sehingga dapat memberikan solusi dari permasalahan limbah budidaya udang yang berkelanjutan.

Sebelumnya, pengolahan limbah udang juga pernah dilakukan oleh Kelompok Bioteknologi BBRP2B (Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi) Kelautan dan Perikanan. Melansir laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, limbah udang jika diolah dengan baik maka dapat menjadi barang berharga.

Limbah udang dapat diolah menjadi kitosan dan oligomer kitosan (turunan) nilai jualnya bahkan puluhan kali lipat. Limbah udang yang telah diproses dapat berfungsi sebagai anti-bakteri, anti-jamur, dan anti-kanker.

Sebaliknya, bagian kepala dan kulit yang dibuang dalam industri pengolahan udang kemudian menjadi limbah tak termanfaatkan yang juga dapat merusak lingkungan.

Upaya Mengurangi Limbah Makanan di Indonesia, Marsel Tansil: Yumm.It Hadir Sebagai Solusi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini