Suasana Panas Perebutan Pulau Timah yang Sebabkan Runtuhnya Kesultanan Palembang

Suasana Panas Perebutan Pulau Timah yang Sebabkan Runtuhnya Kesultanan Palembang
info gambar utama

Sejarawan mencatat awal mula penggalian timah di Bangka telah dimulai sejak abad ke 1. Tetapi industri ini baru mulai efektif ketika kuli-kuli Tionghoa diperkerjakan demi meningkatkan produksi.

Pulau ini memiliki berbagai nama, mulai dari Vanka (Wangka), Monopin, Mayit-Dong, ChinaBato, dan Bangka. Nama-nama ini tertulis pada buku sastra Hindu abad ke 1 Millndrapantha dan buku suci Hindu-Buddha bernama Nidessa.

Dinukil dari National Geographic, sejarawan George Coedes menyebutkan sebelum abad pertama banyak pelaut dari India yang berdatangan ke Wangka yang dalam bahasa Sanskerta berarti Timah.

“Sehingga dari ketiga catatan penting itu diduga kuat bahwa penggalian timah sudah ada di Bangka sejak awal abad pertama,” tulis Fikri Muhammad dalam artikel Cerita Kolong TimahBangka di Masa Lalu Sampai Sekarang.

Setelah berabad lamanya, kerajaan-kerajaan kuno juga menyimpan catatan timah di Bangka. Seperti Kerajaan Sriwijaya dengan ditemukannya prasasti Kota Kapur yang bercerita soal penambangan timah di Pulau Bangka pada abad ke 7.

Kepala Museum Timah Indonesia (TMI) Muntok, Fakhrizal Abubakar, menyebut ketika itu timah hanya menjadi alat barter dan bahan prasasti. Namun penggalian timahnya masih berskala kecil dengan alat sederhana.

Kisah Batu Belimbing, Teladan Persahabatan Melayu dan Tionghoa

Bahkan sejak abad ke-7 hingga 17, meskipun telah ditaklukkan, Pulau Bangka tidak menjadi perhatian Kerajaan Sriwijaya, Singosari, Majapahit, ataupun Kekaisaran Tiongkok. Mungkin saat itu, pulau ini tidak kaya dengan rempah dan hasil bumi lainnya.

Tetapi setelah pemerintahan Kesultanan Palembang, pulau ini mulai menjadi rebutan antara Vereenigde Oostindiche Compagnie (VOC) dengan Inggris. Pada saat itu memang di Eropa sedang terjadi Revolusi Industri yang mendorong pemburuan mineral, salah satunya timah di Pulau Bangka.

Apalagi sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I pada 1730-an sampai 1740-an penambangan timah di Pulau Bangka dilakukan secara besar-besaran. Tetapi produksinya tetap tidak maksimal karena hanya dipermukaan.

Wan Akub, Kepala negeri dan kepala pertambangan timah di Bangka saat itu lalu mendatangkan kuli tambang Tionghoa dari Siam dan Chocin. Seketika produksi timah meningkat drastis.

"Sehingga pundi-pundi kesultanan meningkat," jelasnya.

Sultan Palembang jadi yang terkaya

Memperkerjakan kuli tambang dari Tionghoa bukanlah tanpa alasan. Mereka dianggap memiliki disipilin, dan bertenaga kuat dibandingkan orang Pribumi. Pada tahun 1733, mereka juga sudah memiliki teknologi pacul yang belum dikenal orang-orang pribumi.

Menurut Fakhrizal, kalau dahulu orang pribumi mengambil timah menggunakan linggis ke bawah dengan diameter yang kecil seperti sumur. Orang Tionghoa yang membawa pacul bisa membuat lobang tambang mereka lebih besar dan lebar.

Karena kesuksesan ini, Kesultanan Palembang mulai banyak mendatangkan kuli kontrak dari Selatan Tiongkok yang didatangkan secara bergelombang. Terutama orang Khek yang didatangkan saat bujangan hingga kawin dengan orang pribumi.

"Sebagai buktinya kita bisa temukan puing peninggalan klenteng di Belo. Padahal mayoritas orang Belo bukan Tionghoa," jelas Suwito Wu, Ketua Heritage of Tionghoa Bangka.

Karena bisnis timah ini, Sultan Palembang pernah tercatat sebagai orang terkaya di timur. Timah-timah ini kemudian dijual pada kongsi dagang VOC.

Pulau Leebong, Surga Tersembunyi Nan Memesona di Bangka Belitung

Pada tahun 1722, VOC membuat perjanjian mengikat dengan Sultan Agung Kamaruddin dari Kesultanan Palembang. Di mana perjanjiannya berbunyi timah hanya boleh dijual kepada VOC dan jumlahnya sesuai kebutuhan.

Agar bisa menancapkan kukunya di wilayah Palembang. Bangsa Eropa mulai menempatkan loji (kantor dagang) di Palembang. Loji pertama Belanda dibangun di Sungai Aur (10 Ulu).

Para bangsawan Palembang pada era selanjutnya merasa monopoli ini tidak adil. Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemerintah Inggris yang dikomandoi oleh Thomas Stamford Raffles.

"Mereka merayu Sultan Mahmud Badaruddin II agar mengusir VOC (Belanda) dari Palembang. Rayuan ini ditolak," tulis Taufik Wijaya dalam artikel berjudul Bangka, Sejarah dan Situasi Panas Perebutan Timah yang disadur dari Mongabay Indonesia.

Ketika itu Sultan Mahmud Badaruddin II membalas surat Raffles bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam pertikaian antara Belanda dan Inggris. Serta tidak ada niatan untuk bekerja sama dengan Belanda.

"Meskipun pada akhirnya terjalin kerja sama antara Inggris-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan," jelasnya.

Peperangan demi timah

Pada 14 September 1811, loji VOC di Sungai Aur, diserang masyarakat Palembang. Loji hancur, orang-orangnya dibunuh dan diusir. VOC menuduh Inggris di balik serangan ini.

Raffles mengelak, bahkan menuduh Sultan Mahmud Badaruddin II yang berinsiatif melakukannya. Bahkan Raffles meminta Kesultanan Palembang menyerahkan Pulau Bangka kepada Inggris.

Sultan Mahmud Badaruddin II menolak. Inggris lantas menyerang dan berhasil menguasai Palembang. Sang Sultan kemudian bergerak ke wilayah Musiwaras.

"Selanjutnya Britania dan Sultan Mahmud Badaruddin II berdamai. Dia kembali menjadi Sultan," papar Taufik.

Pada 13 Agustus 1814, bedasarkan konvesi London, Inggris menyerahkan kembali Kesultanan Palembang kepada VOC. Pada masa itu, Kesultanan Palembang masih dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II.

Kelezatan Cumasi, Durian dari Bangka Belitung yang Dibanderol Rp300 Ribu per Buah

Tetapi terjadi perlawanan terhadap VOC, terutama di daerah pedalaman termasuk Bangka. Saat itu perlawanan dilakukan oleh kakak Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Muhammad Ali.

VOC saat itu meminta Putra Mahkota diserahkan kepada mereka sebagai jaminan agar Kesultanan Palembang tetap setia. Permintaan ini ditolak, akhirnya menimbulkan perang Menteng.

Palembang lantas dikalahkan, Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Ternate. VOC kemudian membubarkan Kesultanan Palembang pada tahun 1823. Sementara Bangka baru dikuasai VOC setelah Sultan Muhammad Ali meninggal dunia pada tahun 1851.

Pendidik dan budayawan Bangka Selatan, Doni Al Maleq, mengatakan hampir sebagian besar masyarakat Bangka yang hidup saat ini, terkait erat dengan para pendatang yang dahulu terlibat dalam pertambangan timah.

Kota-kota besar seperti Muntok, Sungaliat, Koba, dan Toboali, terbentuk karena aktivitas perusahaan timah di masa lalu. Doni pun mengakui leluhurnya datang dari Malaka untuk menambang timah.

"Tidaklah heran, jika hingga saat ini masih banyak pendatang ke Bangka untuk berburu timah. Kehadiran mereka tidak ditolak. Misalnya dari Kabupaten OKI di Sumsel," jelasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini