Menelusuri Sejarah Dua Presiden Indonesia yang Terlupakan

Menelusuri Sejarah Dua Presiden Indonesia yang Terlupakan
info gambar utama

Jika kamu saat ini mengenal ada tujuh orang yang pernah menduduki kursi presiden di Indonesia, sebenarnya ada dua tokoh lagi yang banyak tidak diketahui orang. Kedua orang tersebut berperan penting dalam sejarah pemerintahan di Indonesia.

Seperti yang masyarakat kenal bahwa Indonesia telah dipimpin 7 presiden, yakni Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yodhoyono, dan Joko Widodo. Jika menilik dari sejarah, ada dua presiden Indonesia yang tidak tercatat.

Kedua orang tersebut adalah Syafruddin Prawiranegara, dan Mr. Assaat. Dua nama tersebut tercatat pernah menduduki jabatan tertinggi pemerintahan Indonesia, meski dalam waktu yang singkat. Bagaimana ceritanya? Berikut penjelasannya.

Syafruddin Prawiranegara

Syafruddin Prawiranegara pernah jadi Presiden Indonesia | Foto: Republika
info gambar

Syafruddin Prawiranegara adalah salah satu tokoh yang memiliki andil besar menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Meskipun tak banyak orang yang mengetahui, Syafruddin pernah menjadi pemimpin pemerintahan Indonesia.

Ini terjadi saat agresi militer Belanda kedua pada tahun 1948. Pada saat itu, tentara Belanda menyerang Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia, serta menangkap Soekarno dan Mohammad Hatta. Soekarno dan Hatta kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.

Atas peristiwa itu, terdapat sebuah telegram yang dikirimkan kepada Syafruddin, untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatra Barat. Berikut isi pesan telegram tersebut.

“Mandat Presiden kepada Sjafruddin Prawiranegara. Kami, Presiden Republik Indonesia, dengan ini menerangkan, ibu kota Yogyakarta telah diserang pada tanggal 19-12-1948 pukul enam pagi. Seandainya pemerintah tidak lagi melakukan fungsinya, kami memberikan kekuasaan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara untuk mendirikan Pemerintahan Darurat di Sumatra.”

Tetapi sayangnya, pesan telegram tersebut tidak pernah sampai kepada Syafruddin. Meski tidak mendapatkan pesan tersebut, Syafruddin yang mendengar kabar mengenai perebutan Yogyakarta berinisiatif mengambil alih pimpinan negara.

Bersama Gubernur Sumatra waktu itu, TM Hasan, pada 19 Desember 1948, Syafruddin memutuskan untuk membentuk pemerintahan darurat. Ini dilakukan sebagai upaya menyelamatkan Indonesia dari bahaya dan kekosongan pemerintahan.

Atas tindakannya tersebut, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Pada 13 Juli 1949, atau delapan bulan pasca peristiwa, dilakukan sidang PDRI dengan presiden Soekarno dan wakil presiden Mohammad Hatta beserta sejumlah menteri.

Hasilnya terjadi perjanjian Roem-Royen yang mengakhiri upaya Belanda. Soekarno dan kawan-kawan juga dibebaskan serta kembali ke Yogyakarta. Serah terima mandat dari PDRI terjadi pada 14 Juli 1949 di Jakarta.

Mr. Assaat

Mr. Assaat pernah menjadi presiden Indonesia | Foto: Kompas
info gambar

Mr. Assaat juga merupakan salah satu tokoh yang pernah menjabat kedudukan tertinggi dalam pemerintahan Indonesia. Saat itu, Assaat menjadi pelaksana tugas Presiden Republik Indonesia pada tahun 1949.

Jabatan itu diperoleh setelah Soekarno selaku Presiden Republik Indonesia menjadi presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Atas peristiwa tersebut, Assaat diberikan mandat untuk menjadi Presiden Republik Indonesia.

Di saat yang sama, BPKNIP secara resmi mengumumkan pemberhentian Soekarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI sekaligus penyerahan kedaulatan Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat (RIS).

Setelah penerimaan mandat, Assaat kemudian membentuk pemerintahan yang berpusat di Yogyakarta bersama beberapa tokoh lainnya untuk menjalankan tugas. Selama memimpin, Assaat juga berjasa dalam menandatangani pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM).

Namun, pengembalian jabatan Presiden RI kepada Soekarno terjadi pada 15 Agustus 1950. Hal itu karena runtuhnya RIS. Saat itu Soekarno juga melakukan pembacaan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Piagam tersebut adalah hasil dari kesepakatan DPR, Pemerintahan RIS, dan BPKNIP. Siang harinya, Soekarno menerima mandat sebagai Presiden RI di Yogyakarta. Di hari itu juga Assaat selesai menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas Presiden RI.

Belajar sejarah memang tidak pernah habisnya. Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal Joko Widodo sebagai Presiden ke tujuh Indonesia. Namun, ternyata ada dua orang yang berjasa dalam menjaga kedaulatan Indonesia dan pernah menjadi Presiden Indonesia secara tak langsung.

Referensi: Okezone | Good News From Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini