Kisah Membangkitkan Mayat dari Kematian dalam Lontar Calon Arang

Kisah Membangkitkan Mayat dari Kematian dalam Lontar Calon Arang
info gambar utama

Disebutkan ada seorang janda tinggal di Desa Girah (Gurah, Kediri), Calon Arang namanya. Dirinya memiliki seorang putri bernama Ratna Menggali, parasnya cantik tetapi tidak ada yang mau melamar.

Para lelaki ini takut dengan sosok Calon Arang yang berparas mengerikan. Karena kondisi ini, Calon Arang berkehendak untuk menghancurkan Kerajaan Daha. Untuk mencapai tujuannya, Calon Arang kemudian pada tengah malam berjalan menuju kuburan.

Diiringi murid-muridnya: Voksirsa, Mahisawadana, Lende, Guyang, Larung, dan Gandi. Mereka akan berdoa dan menari, menghormat pada Bhatari Durga. Kepadanya, Calon Arang akan menyampaikan permohonan agar dendam kesumatnya bisa dibalaskan.

Durga begitu ditakuti karena bisa bisa menyebarkan penyakit sekaligus melindungi manusia dari wabah penyakit. Di Nusantara, khususnya di Jawa, Durga dikenal dalam dua aspek yaitu sebagai pembinasa asura dan penguasa penyakit menular.

Di kuburan itu mereka pun menari sembari membunyikan alat musik. Maka Durga merasa senang, kemudian mewujudkan diri bersama dengan para pasukannya. Kuburan menjadi sebuah panggung tarian bagi pemuja dan pujaan.

Kisah Calon Arang dan Misteri Leak yang Dirahasiakan Masyarakat Bali

“Tuanku, putera tuanku ingin mohon kehancuran penduduk seluruh negeri, demikian tujuan hamba,” kata Calon Arang sambil menyembah di hadapan Bhatari Durga.

Sri Bhagavati merasa senang dan mengabulkan permintaan Calon Arang. Namun dengan syarat, jangan sampai membunuh hingga ke tengah kerajaan dan menimbulkan duka yang teramat sangat. Calon Arang menyepakati dan melanjutkan tariannya di tempat itu.

Permohonan Calon Arang benar-benar terkabul, banyak orang di negara itu mati. Kematian banyak orang membuat negara serasa mencekam. Rakyran Apatih menghadap Raja Erlangga (Airlangga) melaporkan kejadian ini. Calon Arang pun diburu.

Calon Arang makin marah dan kembali mengajak murid-muridnya ke kuburan. Dia membaca mantra diiringi murid-muridnya. Alat musik dibunyikan, mereka menari. Calon Arang berjalan ke tengah kuburan mencari mayat yang meninggal pada hari Sabtu Kliwon.

Mayat itu diikatkan ke pohon kepuh, lalu dihidupkan kembali. Mayat yang dihidupkan itu bukan menjadi zombie, tetapi benar-benar manusia yang hidup seperti sediakala. Mayat itu berterima kasih karena telah dihidupkan.

Tetapi sayang, terima kasih saja tidak cukup. Dia harus membayar lebih karena telah dihidupkan kembali, mayat ini harus mati. Sang penyihir langsung memotong leher si mayat hingga kepalanya melesat. Darah yang memancar digunakan Calon Arang untuk keramas.

Badan dari mayat ini kemudian dipersembahkan kepada Durga. Di sini Calon Arang memohon kembali agar Durga mau mengizinkan untuk membinasakan orang seluruh negara bahkan sampai ibu kota.

Permohonan Calon Arang diizinkan. Wabah penyakit yang hebat di seluruh negara mengakibatkan orang banyak yang mati. Mayat-mayat membusuk di rumah dan menumpuk di kuburan, ladang, dan jalan. Desa menjadi sepi, orang-orang memilih menyelamatkan diri.

Naskah tentang Calon Arang

Begitulah kedahsyatan kutukan Calon Arang di seluruh negeri. Kisah itu ditemukan dalam naskah berjudul Calon Arang. Filolog R.Ng. Poerbatjaraka menerjemahkannya dari bahasa Jawa Kuno ke dalam bahasa Belanda pada 1926 dalam tulisannya, De Calon Arang.

Naskah Calon Arang, menurut Poerbatjaraka dianggap berkaitan dengan peristiwa pada masa Raja Airlangga. Dia menghubungkan dengan Prasasti Sanguran (Calcutta Stone) dari 982 Masehi. Di dalamnya tertulis seorang raja perempuan yang sakti seperti raksasa.

“Sihirnya telah dibinasakan oleh Airlangga, raja yang masyhur. Gambaran ini mengisahkan antara Airlangga dan Calon Arang,” tulis Risa Herdahita Putri dalam artikel Calon Arang Memuja Durga Sang Penguasa Penyakit yang dimuat Historia.

Sedangkan Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia dalam disertasinya Kedudukan Bhatari Durga di Jawa pada Abad X-XV Masehi meragukan cerita ini muncul pada zaman Kediri. Menurutnya lebih pas jika ditempatkan pada zaman Singhasari akhir atau Majapahit.

Alasanya nama Empu Barada baru muncul pada prasasti Arca Joko Dolog dari masa Kertanegara tahun 1289. Selain itu bukti-bukti adanya praktik upacara Tantra dalam cerita Calon Arang masih sangat dijumpai pada abad-abad sebelum pemerintahan Kertanegara.

Empu Barada terkenal sebagai orang sakti. Dirinya disebut telah mendapatkan sari-sari ajaran yoga dan amerta. Amerta adalah salah satu jenis air suci yang diperebutkan oleh raksasa dan dewa karena bisa membuat abadi.

Tarian Nini Thowong, Permainan Boneka Arwah yang Penuh Mistis dari Jawa

Dalam teks Calon Arang, Empu Barada juga diceritakan bisa menghidupkan orang mati. Kisah ini ditunjukan ketika Empu Barada akan bertemu dengan Calon Arang. Manusia yang sudah mati bisa dihidupkan lagi dengan syarat tubuh orang itu masih utuh.

Dalam teks ini diberitahu bahwa Empu Barada bisa menghidupkan orang mati dengan memercikan Tirtha Gangga Merta (amerta). Misalnya ketika melanjutkan perjalanan, dirinya menemukan tiga mayat.

Ketiganya diperciki Tirta Gangga Merta. Hanya dua yang hidup kembali. Karena hanya tubuhnya yang masih utuh saja yang bisa dihidupkan kembali. Di tempat lain, Empu Barada melihat dua mayat lagi, kemudian dipercikan lah air itu sehingga hidup kembali.

Empu Barada juga bertemu dengan seorang wanita yang kehilangan suaminya. Dengan perasaan sedih, wanita untuk memohon agar Empu Barada menghidupkan suaminya. Dia menyuruh wanita itu membuka kain penutup mayat suaminya, saat itu pula jantungnya kembali berdenyut.

“Kain itu dibuka-tutup sebanyak dua kali. Pada bukaan kedua, napas kembali ke dalam tubuh itu dan memberi kehidupan. Lalu dalam jangka waktu kurang lebih rwang sepah (dua kali mengunyah sirih pinang), orang mati yang sudah hidup itu bisa duduk kembali dan menghaturkan terima kasih kepada Empu Barada,” tulis Iga Darma Putra dalam Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap.

Praktik yang dirahasiakan

Menurut Iga dalam lontar Calon Arang banyak hal yang belum terungkap. Misalnya saja kisah Calon Arang yang mencuci rambut dengan darah manusia. Baginya adegan ini tidak sesederhana seperti melihat perempuan mencuci rambut di kali atau sungai.

Selain itu, setelah Calon Arang mencuci rambutnya dengan darah. Rambutnya kemudian menjadi kusut. Dijelaskan oleh Iga, dalam teks Calon Arang, rambut kusut ini disebut gimbal (magimbal pwa kesanira). Jadi kata gimbal bukan kata baru.

Selain itu semua bagian mayat itu diolah dan dijadikan persembahan berupa Caru kepada semua Bhuta (Buto). Dari sisi ini, menurut Iga, bisa terlihat suatu praktik yang tercatat dalam teks dan barangkali memang benar-benar terjadi pada suatu masa.

“Persembahan Caru yang kini dikenal di Bali kebanyakan menggunakan binatang bukan manusia,” ucapnya.

Baginya, catatan dari naskah Calon Arang ini perlu diketahui, agar ditimbang apa pula penyebab praktik itu tidak bisa ditemukan lagi jejaknya. Karena cerita tentang persembahan daging manusia hanya bisa dinikmati lewat penuturan para tetua.

Selain itu dalam lontar Calon Arang juga ditemukan terkait ajaran Tantrayana. Ajaran ini diyakini dianut oleh Calon Arang. Ajaran ini menekankan kedekatan antara jiwa manusia dengan para dewa.

Proses perkembangan Tantra terjadi sekitaran abad ke 5 masehi sampai abad ke 13 Masehi. Teks-teks Nusantara dan Bali khususnya jelas mengikuti arus peradaban Tantra ini. Teks-teks Tattwa Nusantara jelas adalah teks Saiwa-siddhanta.

Sedangkan dari arus “kiri” seperti ajaran Bhairawa dan Sakta Tantra yang condong pada sihir terwariskan di Bali dalam teks-teks Kawisesan. Berbeda dengan teks Tattwa, dalam teks Kewisesan sangat mencirikan karakter Feminim, seperti Ilmu Leyak dari Calon Arang, Durga, Bhagavati, Bhairavi, dan sebagainya.

Putu Yudiantara dalam Ilmu Tantra Bali (Vol.1): Memetakan Ajaran Spiritual Para Leluhur menyebut dari segi mengajarkan pun Tantra bersifat rahasia. Terbukti dalam berbagai teks ditekankan berkali-kali pentingnya menurunkan ajaran kepada murid yang telah siap.

Di Bali peninggalan yang mencerminkan adanya paham Tantra yaitu Arca Siwa-Bhairawa di Candi Kebo Edan, Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar. Arca ini menggambarkan raja Bali terakhir yaitu Paduka Bhatara Sri Astasutra Ratna Bumi Banten (1337-1343).

Di samping peninggalan berupa prasasti, ada juga naskah lama yang menyebutkan macam-macam mantra yang bersifat baik (panengen) maupun jahat (pangiwa). Mantra-mantra ini berhubungan dengan ilmu sihir untuk memuja Dewi Durga.

“Dari Pangiwa munculah pengetahuan tentang leak, Desti, Teluh, Taranjana dan Wegig, sedangkan dari Panengen muncullah pengetahuan tentang Kawisesan dan Pragolan,” jelas Ida Ayu Devi Arini dan Ida Bagus Gede Paramita dalam Eksistensi Ajaran Tantrayana dalam Kehidupan Beragama Hindu di Bali.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini