Tarian Nini Thowong, Permainan Boneka Arwah yang Penuh Mistis dari Jawa

Tarian Nini Thowong, Permainan Boneka Arwah yang Penuh Mistis dari Jawa
info gambar utama

Spirit doll atau boneka arwah kini sedang viral jadi perbincangan. Sebenarnya keberadaan boneka arwah telah ada sejak zaman dahulu. Biasanya boneka ini digunakan dalam ritual pemujaan keagamaan.

Masyarakat Jawa juga memiliki kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan arwah atau roh, termasuk dalam hal ini boneka. Dunia roh memang diyakini oleh orang Jawa memiliki kekuatan magis dalam membantu manusia.

Suwardi Endraswara dalam bukunya yang berjudul Dunia Hantu Orang Jawa: Alam Misteri, Magis, dan Fantasi Kejawen (2004) yang dimuat dalam Solopos menyebut sebuah boneka dengan nama Nini Thowong yang dianggap memiliki kekuatan magis oleh sebagian masyarakat Jawa.

Nini Thowong sebenarnya hanya boneka biasa. Dia terbuat dari gayung yang dibedaki menggunakan kapur yang dirias memakai jelaga. Rambutnya dari tanaman dan bebungaan. Boneka ini berwujud seorang perempuan sehingga disebut dengan Nini.

Nini Thowong terdiri atas dua kata nini dan thowong. Nini dalam bahasa Jawa artinya embah wedok yaitu orang perempuan yang sudah lanjut usia atau sudah nenek. Sementara thowong diartikan kosong.

"Dengan demikian Nini Thowong adalah seorang perempuan yang sudah tua (roh halus) dan menempati tempat yang masih kosong, yakni boneka," tulis Sujarno dalam Permainan Tradisonal Nini Thowong, Fungsi dan Nilainya Bagi Masyarakat.

Misteri Palasik, Sosok Hantu Pemangsa Bayi dari Ranah Minang

Nini Thowong sebenarnya merupakan penggambaran manusia hidup dibumi. Manusia hidup ini terdiri dari rasa atau badan dan roh atau nyawa.

Sementara itu manusia bisa tumbuh dan berkembang bila dalam tubuhnya terdapat roh. Hal ini pula yang terdapat dalam Nini Thowong, yaitu bila roh yang menempati badannya atau raga itu pergi (tidak ada) maka tidak akan bisa bergerak.

Boneka Nini Thowong baru bisa bergerak bila diminta bantuan oleh roh yang dipanggil oleh pawang. Biasanya pengambilan roh dilakukan di makam yang berada di desa setempat, dengan pemberian berupa sesaji dan juga lagu-lagu pengundang roh.

Kekuatan supranatural ini yang menjadikan Nini Thowong bukan boneka semata, akan tetapi menjadi sebuah pertunjukan sarat dengan mistis. Bahkan dipercaya bisa menjadi media konsultasi bagi masyarakat untuk meminta keselamatan.

Nini Thowong tidak dapat berbicara, biasanya hanya mengangguk dan menggeleng-geleng. Tanda tersebut mempunyai makna bahwa menggeleng-geleng berarti “tidak” dan mengangguk berarti “ya”.

Nini Thowong memang permainan yang bersifat mistis yang masih bisa bertahan. Sedangkan permainan sejenis di daerah lain yang masih dikenal antara lain Nini Edhok, Nini Dhiwut, Cowongan, Jelangkung.

Cara memanggil roh dalam boneka Nini Thowong

Nini Thowong kini sudah menjadi seni tradisi masyarakat Grudo, Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, sebagai permainan meminta keselamatan. Memang, salah satu kepercayaan adalah dapat menyembuhkan penyakit.

Pada awal kemunculannya Nini Thowong merupakan permainan anak-anak di bulan purnama. Nini Thowong juga kerap digunakan untuk suatu upacara memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, atau mencari barang yang hilang.

Faktor yang menarik dari permainan Nini Thowong ini adalah aspek memanggil roh, yang kemudian dimasukan ke dalam boneka. Karena itulah, Nini Thowong dipandang sebagai kesenian yang penuh dengan hal-hal yang keramat (wingit).

Roh yang biasanya memasuki boneka Nini Thowong adalah roh perempuan yang dipercaya juga tinggal di dusun setempat, baik itu roh baik atau roh jahat.

Pertunjukan Nini Thowong lazim dimainkan oleh ibu-ibu yang memegang boneka yang dipimpin oleh pawang. Boneka Nini Thowong dapat bergeleng-geleng, mengangguk, meloncat-loncat, berputar, dan kedua tangannya melambai-lambai.

Sementara penonton dalam pertunjukan Nini Thowong, harus menjaga sopan santun, baik dalam tindakan dan ucapan. Karena dipercaya jika ada penonton yang mengeluh, maka Nini Thowong akan marah dan membenturkan badannya ke penonton tersebut.

Kisah Pilu Siti Ariah, Sosok di Balik Legenda Hantu Si Manis Jembatan Ancol

Anak-anak kecil yang menonton biasanya akan beringsut agak menjauh. Seorang lelaki bersurjan akan menyalakan lilin dan juga hio. Entah apa yang diucapkan, namun boneka Nini Thowong ini menjadi lebih "jinak".

Biasanya ada beberapa lagu yang dinyanyikan yaitu salah satunya lagu Ilir-ilir sebagai pengiring permainan. Pada zaman dahulu, umumnya permainan Nini Thowong hanya diiringi lagu dan tepuk tangan.

Pementasan kesenian Nini Thowong ini juga melakukan praktik ritual dengan membuat sesaji sebagai perwakilan atas keinginan mereka. Tujuan pemberian sesaji itu adalah bentuk dari persembahan kepada para mahkluk roh halus yang bersemayam disuatu tempat, misalnya di kuburan.

Pemberian sesaji memiliki makna simbolik seperti pisang raja dua sisir yang menyimbolkan agar cita-cita kita senantiasa luhur, atau bunga setanam yang berarti bahwa manusia dalam kehidupan di dunia tidak dapat terlepas dari lingkungan alam.

Masyarakat Grudo memahami dan meyakini mitos yang terdapat pada kesenian Nini Thowong sebagai media untuk mencarikan obat untuk orang sakit, kesejahteraan dan rezeki masyarakat meningkat. Sehingga kesenian ini masih ditradisikan oleh masyarakatnya sampai sekarang ini.

Boneka mistis yang menjadi kesenian daerah

Seni spiritual Nini Thowong dipercaya oleh masyarakat daerah sudah ada sejak zaman Mataram dipimpin oleh Penembahan Senapati. Ketika itu, Penembahan Senapati yang telah selesai bertapa beristirahat di daerah Pundong.

Di situ dia menyamar menjadi peminta-minta, dan secara kebetulan melihat segerombolan anak-anak yang dolanan boneka di tengah bulan purnama. Penembahan Senapati kemudian meminta minuman pada anak-anak yang dolanan itu, tetapi tidak diberi.

Lalu dia pergi, tiba-tiba anak yang bermain tadi bersorak-sorak, karena mainan bonekanya bergerak terus, mengayun-ayun, mengikuti perjalanan Penembahan Senapati menuju ke tepi sungai. Namun, raja besar itu sekejap hilang dari pandangan anak-anak. Sejak itu, boneka jadi-jadian itu tenang lagi.

Awalnya orang tua melarang kalau anak-anaknya bermain boneka arwah malam hari. Tetapi lama-kelamaan jadilah boneka arwah yang menyenangkan, karena bisa diajak komunikasi.

Sementaara itu tarian Nini Thowong mulai ada di Dusun Grudo sejak tahun 1938. Kesenian Nini Thowong pertama kali diciptakan oleh Udiseda yang lalu diwariskan kepada para penerusnya hingga kini.

Tokoh utama didalam permainan ini adalah boneka perempuan. Bentuk Nini Thowong yang berada di dusun Grudo masih menjaga ketradisionalan, masih menggunakan benda-benda bambu, tempurung, gayung, merang, dan busa.

Fenomena Tuyul, Makhluk Halus Pencuri Fulus yang Muncul dari Krisis Ekonomi Dunia

"Yang menjadi paradoks, dalam cerita lisan disebutkan sang gadis itu jahat. Tetapi ketika menjadi Nini Thowong, boneka yang sudah kesurupan lelembut itu konon bisa menunjukkan obat bagi yang sakit, dan bila dituruti si sakit dapat sembuh. Ini salah satu fungsi sosialnya," kata Hartono Hangno, peneliti budaya Jawa dari Yayasan Cahaya Nusantara (YANTA), Yogyakarta, dalam Liputan6.

Hangno menjelaskan bahwa permainan ini diiringi oleh gejug lesung dan gamelan Mega Mendung. Pada zaman dahulu diiringi tembang dengan bawa (solis) macapat yang mistis. Tetapi dalam perkembangan zaman, mulai berubah dengan iringan lagu-lagu Jawa kontemporer.

Dirinya menyatakan permainan Nini Thowong tidak bermaksud untuk mempermainkan lelembut. Sebaliknya, malah mengajak para penghuni alam lain itu bergembira bersama.

Pasalnya, dalam tradisi orang Jawa tak mengenal kosa kata menyakiti atau mengganggu sesama ciptaan Tuhan penghuni semesta.

"Di Jawa, istilah musuh saja sebenarnya tak ada. Kalaupun sekarang ada itu adalah kata serapan. Itulah sebabnya manusia dan semua makhluk ciptaan Tuhan bisa hidup berdampingan, bergembira bersama," kata Hangno.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini