Fenomena Tuyul, Makhluk Halus Pencuri Fulus yang Muncul dari Krisis Ekonomi Dunia

Fenomena Tuyul, Makhluk Halus Pencuri Fulus yang Muncul dari Krisis Ekonomi Dunia
info gambar utama

Clifford James Geertz, seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat. Pada dekade 1950-an, meneliti sebuah kota kecil di Mojokuto, Kota Pare, Kediri, Jawa Timur.

Setelah melakukan penelitian, Geertz menemukan uraian sistematis mengenai makhluk halus di Jawa. Dirinya mengatakan ada tiga jenis pokok makhluk halus: memedi, lelembut, dan tuyul.

"Tuyul menyerupai anak-anak ini, hanya mereka bukan manusia tetapi anak-anak makhluk halus. Mereka tidak mengganggu, menakut-nakuti atau membuat orang sakit; sebaliknya mereka sangat disenangi oleh manusia karena membuatnya jadi kaya," kata seorang tukang kayu muda kepada Geertz dalam Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa.

Warga Mojokuto, menurut Geertz menyakini ada tiga orang yang memilihara tuyul yaitu seorang jagal, perempuan pedagang tekstil, dan seorang haji. Ketiganya mendapatkannya setelah mengunjungi sisa-sisa candi Hindu seperti Borobudur, Penataran, dan Bongkeng serta makam Sunan Giri.

Di masing-masing tempat keramat ini mereka bersumpah, kalau makhluk halus disitu berkenan memberikan tuyul. Mereka akan mempersembahkan korban manusia yang dibunuh, baik saudara ataupun teman setiap tahunnya.

Dongeng Sabai Nan Aluih, Refleksi Perempuan Minangkabau dalam Cerita Sastra

Geertz menyebut bahwa untuk bisa melakukan perjanjian dengan tuyul ada beberapa orang yang melakukan meditasi dengan puasa. Tetapi lebih banyak orang yang percaya bahwa mereka perlu melakukan perjanjian dengan setan, supaya tuyul mau menerima tawarannya.

Tetapi tentu saja resikonya tidak main-main, orang yang melakukan perjanjian gaib ini akan tersiksa ketika sekaratul maut. Napas mereka makin lama makin pendek, mereka akan merasakan sakit dan demam tinggi yang berkelanjutan serta meninggal pelan-pelan dengan sangat menyakitkan.

Namun sepertinya, penderitaan ini merupakan harga yang murah bagi para pemelihara tuyul. Pasalnya sekali seseorang memiliki tuyul, uang akan mengalir masuk, tanpa bisa dilacak sama sekali.

Dalam catatan Geertz, masyarakat menggolongkan beberapa karakter orang yang memilihara tuyul. Beberapa dari mereka dianggap kikir, memiliki kebiasaan buruk, tetapi juga dianggap menyimpang secara sosial.

"Mereka berbicara keras- keras, agresif, kurang beradat, berpakaian kedodoran dan mempunyai kebiasaan yang kurang bersifat Jawa, yaitu mengatakan secara spontan apa saja yang ada dalam benak mereka tanpa dipikirkan terlebih dahulu," jelasnya.

Hal ini dicontohkan oleh Geertz dalam diri saudagar perempuan yang dituduh memelihara tuyul. Bedasarkan informan, dahulunya saudagar ini selalu tenang dan pendiam seperti umumnya perempuan, tetapi setelah kaya dia bertingkah seperti binatang buas.

Krisis ekonomi yang lahirkan fenomena tuyul

Merujuk dari Historia, Sejarawan Peter Boomgard menyatakan Geertz merupakan penemu dari istilah tuyul. Dalam tulisannya yang berjudul Kekayaan-kekayaan Haram, Boomgard menyebut Geertz menjadi orang pertama yang memiliki gambaran panjang dan terinci tentang tuyul, seperti kegiatannya, kalangan orang yang memilikinya, dan cara mendapatkannya.

Meski demikian, lanjut Boomgard, sosok hantu penghasil uang sudah diceritakan sekilas oleh G.W.J. Drewes dalam Verboden rijkdom: Een bijdrage tot de kennis van het voolksgeloof op Java en Madoera yang dimuat dalam Djawa 9 tahun 1929. Di sini hantu penghasil uang yang dimaksud adalah setan gundul.

Dinukil dari Republika, pada tahun 1929 memang terjadi krisis ekonomi dunia (malaise) yang membuat rakyat miskin semakin bertambah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kerusuhan, pencurian, perampokan yang marak di kota-kota maupun di desa-desa.

Dalam sebuah naskah al- Adawiyah diceritakan banyak orang-orang yang mendatangi benda-benda keramat dan dukun. Salah satu alasannya karena maraknya terjadi peristiwa pencurian.

Menurut Nurman Kholis, pada tahun itulah muncul istilah ”tuyul", hal ini sempat disinggung oleh Drewes dalam karyanya. Sehingga tuyul --saat itu setan gundul-- kemudian menjadi populer di masyarakat Indonesia sebagai makhluk yang dapat membuat kaya majikannya dalam sekejap.

Kisah Pilu Siti Ariah, Sosok di Balik Legenda Hantu Si Manis Jembatan Ancol

"Dengan demikian, sejak tahun 1929 memelihara tuyul merupakan perbuatan yang menambah maraknya praktik-praktik kemusyrikan di kalangan masyarakat," ucap pria yang menjabat sebagai Badan litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Nurman menyebut fenomena tuyul ini menarik perhatian para peneliti dari Belanda, apalagi karena dipercaya dapat memberikan kekayaan. Sehingga pada observasi Mies Grijns tahun 1988 menyatakan bahwa sejumlah penduduk desa percaya bahwa di Bandung banyak yang memelihara tuyul.

Mirip dengan hasil penelitian Geertz, Nurman menyebut memelihara tuyul sangat membahayakan bagi pemiliknya. Pasalnya makhluk gaib ini biasanya minta dimanja dan akan marah jika keinginannya tidak dipenuhi.

Karena itu para pemilik tuyul harus memberi imbalan dengan memberikan manusia sebagai korban (kerabat, pembantu) secara teratur. Selain itu tuyul juga berbahaya bagi istri pemiliknya, karena wanita yang mempunyai bayi harus menetekinya.

"Tetekan untuk tuyul ini sangat menyakitkan dan membahayakan kesehatan wanita tersebut," ujar Nurman.

Takhayul dan problem kemiskinan masyarakat Indonesia

Kepercayaan akan takhayul seperti tuyul sebenarnya punya sejarah yang panjang. Fenomena ini bisa dilacak hingga zaman kolonial Belanda yang mempercayai bahwa ini jalan pintas orang miskin untuk bisa memperbaiki hidupnya yang serba melarat.

Misalnya dalam tulisan Kuntowijoyo dalam buku Muslim Tanpa Masjid, dirinya melihat ada budaya dalam masyarakat argaris tentang pesugihan. Bahwa mereka bisa menjadi kaya tanpa bekerja, tetapi harus memelihara tuyul, babi ngepet, dan semacamnya.

Sementara itu, ketika masa tanam paksa (cultuurstelsel) sejak 1830-1870, penduduk setempat begitu sengsara. Saking sensaranya, orang Sunda memiliki ungkapan satir: Orang lahir, kawin, dan mati di ladang tom.

Kondisi inilah yang menimbulkan kecurigaan, ketika ada seorang bumiputra yang tiba-tiba menjadi kaya dan sejahtera. Orang-orang disekitarnya yang miskin dan iri, lalu menghembuskan desas-desus bahwa orang kaya itu memelihara tuyul, pesugihan, babi ngepet, dan lain sebagainya.

Setidaknya walau tidak secara langsung, orang itu akan dilabeli sebagai pelaku ilmu hitam. Sebagai ganti kekayaan itu, mereka harus membuat miskin orang lain. Sejak itulah ada kepercayaan bahwa seorang pedagang atau usahawan berhasil karena perjanjian dengan setan.

"Seseorang yang sukses di antara para bumiputra, khususnya pengusaha, bukannya dihargai, namun malah dipandang jelek karena dianggap melakukan pesugihan," tulis Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong.

Di Balik Dongeng Si Kancil, Sebuah Perwakilan Kepribadian Orang Jawa

Sementara itu dalam tulisan Abdul Hadi yang berjudul Babi Ngepet, Setan, dan Inferioritas Warga +62 yang dimuat di Islami, menyebut kondisi ini terjadi karena masyarakat tidak menemukan kejelasan bagaimana orang yang kelihatan tidak bekerja sekeras mereka, tetapi bisa kaya dan sejahtera, sementara mereka tetap miskin dan menderita.

Hal ini sesuai dengan pidato Mochtar Lubis, kemudian dibukukan dengan tajuk Manusia Indonesia (2001) yang menyebut salah satu sifat manusia Indonesia adalah enggan bertanggung jawab terhadap nasibnya.

Sifat lain menurut Mochtar, adalah munafik, berperilaku feodal, berwatak lemah, dan percaya takhayul. Wartawan senior ini tidak salah karena manusia Indonesia rupanya memang percaya takhayul, apalagi bila dikaitkan dengan agama.

Kepercayaan seperti ini, kata Mochtar, membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Akhirnya, percaya pada jimat dan jampe.

“Dengan jimat dan mantra kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita,” ujar Mochtar yang dimuat di Alinea.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini