Rona Mentari dan Pentingnya Dongeng Sebagai Sarana Populerkan Budaya Bertutur Kata

Rona Mentari dan Pentingnya Dongeng Sebagai Sarana Populerkan Budaya Bertutur Kata
info gambar utama

Secara sederhana, bagi kebanyakan orang dongeng hanya dipandang sebagai sebuah cerita fiksi baik yang telah ada sejak dulu atau baru dibuat seiring berjalannya waktu, sebagai sarana hiburan bagi kalangan anak-anak.

Padahal lebih dari itu, jika dipahami secara lebih mendalam dongeng memiliki peran sangat luas bahkan penting bagi semua orang yang terlibat dalam proses penceritaannya, baik bagi pendengar yang biasanya didominasi oleh kalangan anak, dan bagi pendongeng itu sendiri yang dalam dunia terkait biasa dijuluki sebagai penutur atau storyteller.

Tidak seperti dulu saat sebelum pilihan alternatif hiburan bagi anak-anak sudah lebih beragam karena adanya teknologi, kini kepopuleran mendongeng perlahan mulai tergerus dan membuat para pegiatnya atau dalam hal ini pendongeng, harus berusaha lebih ekstra untuk mepertahankan budaya mendongeng.

Beruntungnya, dari generasi ke generasi deretan sosok yang memiliki semangat untuk mempertahankan budaya mendongeng tetap ada, dan berhasil memelihara kelestariannya hingga saat ini, salah satu yang paling terkenal di antaranya adalah Rona Mentari.

Upaya Eklin de Fretes Membawa Pesan Damai dan Toleransi Melalui Dongeng

Rona Mentari dan kecintaan terhadap dongeng

Bukan nama baru, Rona Mentari merupakan salah satu sosok pendongeng profesional terbaik yang dimiliki Indonesia dan banyak digemari. Kepiawaiannya dalam bertutur kata saat menyampaikan cerita selalu berhasil menghipnotis kalangan anak-anak untuk duduk manis, dan memberikan perhatian yang disertai dengan rasa antusias.

Kerap kali mengungkap bagaimana awal mula ketertarikannya terhadap dunia dongeng dalam berbagai kesempatan, Rona diketahui sudah senang bertutur kata bahkan sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Saking cinta terhadap dongeng, sejak muda perempuan kelahiran tahun 1992 yang berasal dari Yogyakarta ini sudah banyak dikenal sebagai seorang pendongeng yang handal. Berbagai kesempatan mendongeng yang ia lakukan membawanya mengikuti ajang Sydney International Storytelling Festival pada tahun 2014, dan sejak saat itu lah dirinya memutuskan untuk fokus menjadi seorang pendongeng profesional.

Berkat ketekunannya yang dilakukan dengan penuh hasrat, ia mendapat berbagai kesempatan untuk bertutur di sejumlah panggung dongeng luar negeri, di antaranya Storytelling Hut, Emerson College, Inggris dan Singapore International Storytelling Festival.

Sementara itu dalam menyampaikan dongeng, Rona sendiri dikenal selalu memiliki cara-cara yang baru dan menyenangkan, termasuk di antaranya menggunakan alat bantu berupa boneka, wayang, atau menggunakan alat musik ukulele untuk membuat suasana menjadi lebih hidup.

Selama mendongeng, Rona juga kerap mengangkat deretan cerita rakyat Indonesia dan membuat para anak-anak pendengar ikut mencintai budaya, yang didukung dengan refleksi dalam tampilan totalitasnya yang kerap mengenakan kain tradisional seperti tenun saat mendongeng.

Dongeng Sabai Nan Aluih, Refleksi Perempuan Minangkabau dalam Cerita Sastra

Menjaga dongeng lewat Rumah Dongeng Mentari

Selain menjalani peran sebagai seorang pendongeng profesional mandiri, Rona bersama kedua saudaranya yakni Ayu Purbasari dan Putri Arumsari yang memiliki ketertarikan di bidang sama, pada tahun 2010 mendirikan sebuah komunitas bernama Rumah Dongeng Mentari.

Tujuan utama didirikannya komunitas tersebut adalah untuk memopulerkan kembali budaya bertutur yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia sebagai generasi masa depan.

Dalam komunitas tersebut, setiap dua kali dalam seminggu mereka mengumpulkan anak-anak di rumah mereka. Di sana, anak-anak bisa mendengarkan dongeng, menggambar, bermain musik, dan berbagai kegiatan lainnya.

Mengutip Suara.com, saudara Rona yakni Ayu menilai jika dongeng adalah satu-satunya kegiatan yang bisa memberikan nilai-nilai positif dan pengajaran kepada anak, dengan cara yang menyenangkan dan tidak terkesan menggurui.

Dongeng juga dapat meningkatkan minat baca dan tulis, membangun ikatan antara berbagai keterkaitan relasi semisal orang tua dan anak atau adik dan kakak, serta dapat merangsang imajinasi setiap anak yang membuat mereka mampu berpikir kreatif dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Ketika Kekuatan Dongeng Mampu Bangkitkan Semangat dan Kreativitas

Hubungan antara dongeng dan budaya bertutur

Sementara itu jika bicara mengenai mengapa dongeng masih sangat dibutuhkan sampai saat ini, sebagai seorang pendongeng Rona rupanya memilki pemahamannya tersendiri. Menurut Rona, dongeng adalah bahasa tutur yang paling mudah diingat.

Di lain sisi, kemajuan teknologi yang saat ini ada dan banyak diandalkan sebagai sarana untuk menghibur anak dengan klaim penyertaan merangsang tumbuh kembang mereka, dinilai belum bisa menggantikan peran dan posisi dongeng seutuhnya.

Lebih detail, hal yang dimaksud belum bisa digantikan adalah kebiasaan yang muncul ketika ada suara asli dan sentuhan langsung dari orang tua saat membacakan dongeng kepada anak. Hal tersebut yang juga disampaikan oleh saudara Rona sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari lainnya, yakni Ayu.

"Kegiatan mendongeng itu mendengarkan langsung suara (orang tua) kepada anaknya, kemudian mengusap-ngusap kepalanya secara langsung. Itu tidak bisa digantikan dan harus dilakukan secara terus," ungkapnya.

Berangkat dari hal tersebut, dua saudara ini berharap jika kedepannya kebiasaan dongeng sebagai salah satu cara untuk memupuk dan menumbuhkan karakter anak bangsa bisa terus ada dan terjaga.

"Semoga semakin populer budaya mendongeng ini di tengah-tengah kita. Semoga semakin banyak orangtua yang mendongeng langsung kepada anaknya, dan semoga kegiatan mendongeng tidak menjadi kegiatan yang menyulitkan."

Tentang Dongeng, Cerita ‘Bohong’ yang Masih Diperlukan Anak-Anak dan Orang Dewasa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini