Tentang Dongeng, Cerita ‘Bohong’ yang Masih Diperlukan Anak-Anak dan Orang Dewasa

Tentang Dongeng, Cerita ‘Bohong’ yang Masih Diperlukan Anak-Anak dan Orang Dewasa
info gambar utama

Bagaimana jadinya jika Cinderella dikisahkan tanpa kereta kencana dari sebuah labu? Apalagi bagaimana jadinya kalau tidak ada Ibu Peri yang membantu Cinderella menjadi cantik dan layak berdansa di istana?

Percaya atau tidak percaya sebenarnya ada kisah Cinderella tanpa sebuah kereta kencana dan sosok Ibu Peri. Hal ini yang pernah membuat seorang yang dikenal sebagai saksi sejarah, Grande Damme, dirundung gundah-gulana.

Sebab, ada sekitar 500 versi kisah Cinderella yang beredar. Dari versi Prancis hingga China. Dan sosok Cinderella tanpa kereta kencana dari buah labu serta Ibu Peri itu pernah dibuat oleh Grimm Bersaudara yang bekerja dengan sutradara Andy Tennant.

Mereka berusaha menjungkirbalikkan kisah Cinderella yang umum diketahui, dengan menunjukkan Cinderella versi asli yang diketahuinya. Yaitu dengan tidak lagi memunculkan tokoh bernama Cinderella, melainkan nama aslinya Danielle de Barbaric.

Kisahnya tertuang pada sebuah film apik berjudul Ever After yang pertama kali dirilis tahun 1998. Drew Barrymore kala itu dipercaya memerankan sosok Cinderella versi asli. Sosok anak tiri masih melekat pada Danielle—si Cinderella asli, tetapi dia tumbuh dengan buku-buku, filsafat, dan sastra, sehingga Danielle dewasa menjadi seorang gadis cerdas dan mandiri.

Sosok Danielle dalam Ever After sangat bertolak belakang dengan Cinderella yang seolah digambarkan sebagai gadis legawa dengan keadaan ibu tiri dan saudara-saudara tirinya.

Menariknya, bukan Ibu Peri yang membantu Danielle untuk menarik hati Sang Pangeran. Leonardo da Vinci sang pelukis Monalisa yang masuk menggantikan peran Ibu Peri.

--

Kisah umum Cinderella seolah-olah menjadi tolok ukur dongeng di seluruh dunia yang mengisahkan bagaimana keajaiban bisa menjadi satu-satunya jawaban bagi siapa saja yang bersikap baik hati dan legawa dengan keadaan.

Termasuk kisah-kisah dongeng asli Indonesia. Hanya saja plot dan nama tokoh dibuat lebih terasa Indonesia. Sebut saja kisah Bawang Merah-Bawang Putih. Layaknya dongeng, tidak ada yang tahu pasti cerita mana yang lebih dulu dikenal masyarakat.

Kalau kisah Cinderella versi Danielle yang diceritakan kepada anak-anak, apakah akan laku? Kalau begitu dongeng Danielle memang untuk segmentasi orang dewasa? Bagaimana kalau kisah Bawang Merah-Bawang Putih diceritakan kepada orang dewasa? Apakah akan laku?

''Cerita rayat itu everlast. Jadi akan terus diceritakan, tapi memang versinya akan berubah-ubah. Ada penambahan dan ada pengurangan. Jadi versinya akan banyak,'' kata seorang pendongeng Indonesia yang terus berkiprah di dunia mendongeng, Mochamad Ariyo Faridh Zidni, Pendiri Ayo Dongeng Indonesia, kepada GNFI, Jumat (18/9/2020).

Mendongeng Itu Bukan Bertutur Saja, Tapi Mendengarkan

Mendongeng Adalah Bercerita dan Mendengarkan
info gambar

Tawa, celoteh, dan aneka respons dari bocah pendengar dongeng bisa jadi sebuah energi bagi pendongeng. Hal ini pernah Ariyo akui saat diwawancara oleh CNN Indonesia (4/5/2020). Bahkan itu bisa jadi amunisi dirinya mengembangkan sebuah cerita.

Kepada CNN Indonesia, Ariyo pernah satu kali memberikan dongeng Timun Mas yang awalnya direncanakan berdurasi hanya 10 menit. Kenyataanya kisah Timun Mas disampaikan memakan waktu hingga satu jam. Cerita semakin seru kala Timun Mas harus berlari demi menghindari kejaran raksasa.

"Ada yang nyeletuk, 'Coba naik ojek online.' (Saya merespons), 'Oke naik ojek, buka aplikasi dulu. Aduh! di-cancel terus nih.' Karena enggak dapet ojek, enggak ada kendaraan lain, kita belokin lagi. Timun Mas tetap berlari,’’ tutur Ariyo sembari mengingat momen tersebut.

Kepada GNFI, Ariyo pun mengungkapkan bahwa salah satu hal yang paling sulit bagi pendongeng itu buka hanya sekadar bertutur dan bercerita, tapi juga mendengarkan.

"Kalau aku suka ngajarin teman-teman, itu sebenarnya yang paling sulit dalam mendongeng, tapi ini juga yang paling unik dalam mendongeng. Jadi dari awal kita harus mendengarkan audience kita seperti apa dan maunya mereka seperti apa," jelasnya.

Mendongeng sejatinya adalah proses komunikasi dua arah. Ariyo sendiri mengaku bahwa ketika sudah ingin memulai bercerita maupun mendongeng, dirinya dan para pendongeng harus juga siap untuk mendengarkan. Terutama mendengarkan umpan balik dari pendengar mereka yang mayoritas adalah anak-anak.

"Dalam mendengarkan itu nanti kita akan menentukan apakah cerita yang sudah kita siapkan itu tepat? Bisa enggak kita membentuk cerita ini menjadi bentuk yang baru? Yang lebih fleksibel, yang bisa menciptakan suatu pengalaman baru di dalam bercerita," jelas Ariyo.

Jadi tidak heran—dan tentu tidak salah juga—kalau satu buah dongeng akan tampil dalam banyak versi, tergantung dari permintaan pendengar.

Cerita "Bohong" Untuk Imajinasi dan Ekspresi Perasaan

Dongeng Adalah Cerita Bohong
info gambar

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan dongeng sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. KBBI juga menambahkan pengertian dongeng dengan cerita tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh.

Kalau begitu, mendongeng adalah menceritakan hal-hal bohong?

"Nah, ini yang sebenarnya perlu dipahami oleh banyak orang, bahwa dongeng telah mengalami perluasan makna. Dongeng itu memang cerita bohong, cerita rekaan yang tidak ada benarnya, nggak ketahuan siapa pengarangnya. Tapi itu sesuai dengan perkembangan anak," ungkap Ariyo.

Heru Kurniawan, pendiri Rumah Kreatif Wadas Kelir, tempat pendidikan kreativitas untuk anak-anak desa, pernah menjelaskan soal kecerdasan linguistik yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam bukunya Kreatif Mendongeng Untuk Kecerdasan Jamak Anak (2015).

Dalam bukunya tersebut Heru menjelaskan bahwa kecerdasan linguistik adalah kecerdasan anak dalam mengolah kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik ini ditandai dengan kelancaran dan terampil dalam berbahasa, yang meliputi kegiatan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.

Pada akhirnya kecerdasan linguistik ini berpusat pada kemampuan anak-anak dalam menggunakan kata untuk memahami dan mengekspresikan diri. Dan pusat utama stimulasi kecerdasan linguistik adalah pada stimulasi kata.

Dongeng adalah salah satu hal yang paling potensial untuk menstimulasi kecerdasan itu, karena dongeng merupakan dunia cerita yang dibangun dari kata-kata. Ariyo menambahkan bahwa anak-anak, memang tidak membutuhkan cerita yang realistis. Mereka justru butuh cerita yang dikarang, yang kalau dicari faktanya tidak akan pernah ada wujudnya.

"Karena mereka masih bebas. Imajinasinya masih bebas banget. Mereka tidak dibatasi oleh pengalaman, informasi, dan pengetahuan," jelasnya.

Heru dalam bukunya juga mengatakan bahwa tujuan utama yang harus menjadi fokus adalah upaya meningkatkan penguasaan pembendaharaan kata, meningkatkan kemampuan anak menyimak dan berbicara, meningkatkan kemampuan anak memahami cerita, sampai melatih kemampuan anak untuk mengekspresikan ide dan perasaannya.

Sekarang bagaimana kalau tujuan dongeng itu ditujukan kepada orang dewasa? Bukankah orang dewasa juga tetap perlu meningkatkan pembendaharaan kata? Terutama soal kemampuan mengekspresikan ide dan perasaannya?

Tak sedikit orang dewasa justru tumbuh sebagai sosok yang terlalu logis, tidak sentimental, tidak bersahabat, kurang empati, sampai kerap membuat segala keputusan pribadi hanya berdasar pada prinsip, bukan perasaan.

"Sungguh Kasihan Orang Dewasa…"

Orang Dewasa Juga Butuh Dongeng
info gambar

Dalam dunia psikologi, sifat orang dewasa yang cenderung terlalu logis itu disebut alexithymia. Dalam Salem Press Encyclopedia of Health (2019) yang ditulis oleh Caffrey dan Cait, alexithymia tidak dijelaskan sebagai jenis gangguan jiwa karena tidak didagnosis secara klinis, melainkan sebuah sifat kepribadian yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri, termasuk sulit mengekspresikan emosi yang harus ditunjukkan kepada orang lain.

Orang dengan alexithymia tidak dapat memahami seluk-beluk dan nuansa emosi, sehingga sering tidak dapat menempatkan kata-kata untuk perasaannya sendiri. Mereka juga biasanya memiliki imajinasi yang terbatas dan kerap memiliki cara berpikir yang sempit.

Meski begitu, orang dengan alexithymia bukan berarti tidak bisa mengekspresikan emosi. Mereka lebih kepada sulit mengidentifikasi dan menafsirkan perasaan. Mereka masih dapat menunjukkan tanggapan emosional, terutama kesedihan dan kemarahan. Hanya saja mereka tidak mengerti mengapa perasaan itu muncul.

Tak hanya orang dewasa, sebenarnya anak-anak juga kerap memperlihatkan sikap logisnya kala diceritakan sebuah dongeng. Sebagai seseorang yang sudah berkiprah menjadi pendongeng lebih dari satu dekade, Ariyo juga menyadari bahwa anak-anak juga kerap bersikap skeptis serta memperlihatkan kemampuan logisnya, layaknya orang dewasa.

Bahkan mereka sudah menyadari kalau cerita yang akan disampaikan adalah cerita karangan yang tidak pernah bisa dan tidak akan pernah terjadi di dunia nyata. Tak jarang Ariyo juga kerap dibuat tak berkutik dengan respon yang diberikan oleh anak-anak.

"Sebenarnya mereka (bersikap seperti itu) karena mereka memiliki pengalaman informasi dan pengetahuan yang berbeda-beda. Buat anak yang sudah skeptis, itu karena dia sudah punya pandangan baru," kata Ariyo.

Meski begitu, Ariyo selalu percaya bahwa cara pandang anak yang berbeda tidak akan memengaruhi kesukaan mereka pada sebuah cerita dan sebuah dongeng. Setiap orang—bukan anak saja—menurut Ariyo pasti suka dengan cerita.

Jenis cerita, genre, media, dan cara penyampaiannya sudah beragam dan itu membuka kesempatan bagi siapapun untuk suka dengan cerita sesuai dengan pengetahuan, informasi, dan pengalamannya. Hal ini juga berlaku bagi orang dewasa.

"Sebenarnya yang sedih, yang kasihan itu adalah orang dewasa. Karena pengetahuan informasi dan pengalamannya sudah banyak, jadi kalau mendengar dongeng, sudah nggak menarik lagi. Jadi dia (orang dewasa) nggak bisa menikmati untuk berimajinasi. Jadi itu yang kasihan sebenarnya," imbuh Ariyo.

Meski begitu Ariyo tidak menafikan bahwa orang dewasa pun butuh mendengarkan cerita. Jenis dan cara penyampaian ceritanya yang pasti akan berbeda. Hanya saja, satu yang perlu diingat, pendongeng atau penyampai cerita harus mengikuti apa yang ingin didengar oleh khalayaknya.

"Lebih dewasa lagi itu biasanya cerita-cerita yang memotivasi, inspiring storyfrom zero to hero. Karena semakin besar kalau dihadapkan dengan sesuatu itu kita sudah berpikir banyak. Jadi mereka pasti mencari, 'gue akan dapat apa dari sini,’ ’’ jelas Ariyo.

Ada sebuah penjelasan yang cukup menarik tentang kebutuhan orang dewasa akan cerita dongeng. Pendapat ini dikemukakan oleh Marguerite Johnson, profesor dalam studi klasik, dari University of Newcastle.

Menurut Johnson, bagi orang dewasa, dongeng adalah sebuah narasi yang paling tepat untuk merangkai ekspresi dari pemikiran dan berbagai pengalaman manusia.

"Kegembiraan, ketidakpercayaan, kekecewaan, ketakutan, iri hati, bencana, keserakahan, kehancuran, nafsu, dan kesedihan, mereka (dongeng atau narasi) memberikan bentuk ekspresi yang tidak hanya pada kehidupan yang kita alami sendiri, melainkan pada kehidupan di luar kehidupan kita sendiri,’’ jelas Johnson yang tertuang dalam artikel Friday Essay: Why Grown-Ups Still Need Fairy Tales yang dirilis oleh The Conversation pada 24 November 2017.

Bagi orang dewasa, menurut Jonhson, dongeng tidak harus berakhir dengan happily ever after atau berakhir bahagia selamanya. Justru dongeng memberikan letak kekuatan sebuah cerita dan perenungan yang berarti tanpa perlu memikirkan bahwa akhir cerita harus melulu bahagia.

"Dongeng juga wujud perayaan kisah keberuntungan tak terduga dan sebuah tindakan kebaikan dan kepahlawanan. Dengan demikian (dongeng) memperkuat—bahkan memulihkan—keyakinan kita pada kemanusiaan.’’

"Sebuah dongeng rakyat tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerminkan gejolak dan 'kemenangan' masyarakat kelas bawah," ungkap Johnson.

Maka dari itu Ariyo pun melihat bagaimana pertumbuhan Disney—sebagai kiblat dongeng dunia—yang pada akhirnya menyasar pada orang-orang dewasa, tidak lagi berbatas pada anak-anak.

"Disney itu banyak angkat cerita rakyat juga, tapi cerita rakyat yang kemudian diolah untuk bisa dikonsumsi secara universal, untuk dewasa, untuk semua umur," kata Ariyo.

"Nah, ini yang suka aku sampaikan ke orang bahwa sebenarnya cerita rakyat itu bukan cerita anak-anak. Harus diolah lagi dan ditulis ulang. Cerita yang baik itu kan nggak mungkin ada keajaiban yang tiba-tiba di akhir menyelamatkan si tokoh utamanya,’’ pungkasnya.

Bagi Ariyo, cerita yang mengandung proses dan memiliki sebab akibat bukan hanya dibutuhkan untuk orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Ini juga yang menjadi sebab mengapa akan lahir berbagai macam versi dongeng. Tak heran pula kalau ada sampai 500 versi kisah Cinderella, atau bahkan lebih.

Melihat masih ada potensi tingginya kebutuhan cerita maupun dongeng untuk orang dewasa, sebagai salah satu pendiri Ayo Dongeng Indonesia, Ariyo pun membangun komunitas The Nest. Sebuah sesi cerita malam yang disuguhkan khusus untuk remaja dan dewasa.

Komunitas The Nest ini perdana melakukan siaran dongeng untuk orang dewasa pada 23 Juni 2020 lalu yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Ayo Dongeng Indonesia. Jika Kawan GNFI penasaran dongeng seperti apa yang dikategorikan sebagai dongeng dewasa, kawan bisa pantau kanal mereka dan akun Instagram The Nest.

Jangan Salahkan Gawai dan Anak Zaman Sekarang

Anak-Anak Butuh Dongeng
info gambar

Ritual mendongeng kepada anak yang tergerus oleh zaman?

Saat dihadapkan dengan pertanyaan tersebut, Ariyo menampiknya. Malah justru anak-anak zaman sekarang tidak bisa digeneralisir. Jika alasannya adalah kecanggihan gawai yang menggerus tradisi dongeng, Ariyo justru bersikap skeptis kepada opini tersebut.

"Senangnya, sudah banyak orang tua yang cerdas sekarang,’’ ungkapnya, "Mereka banyak memberikan akses ke anaknya untuk bisa mencari informasi, mencari, menambah pengetahuan. Justru jadi beragam aksesnya."

Keberagaman akses itu pula yang membuat dongeng anak-anak menjadi semakin beragam, begitu juga ketertarikan anak. Fitrah anak yang masih senang berimajinasi dan diceritakan sesuatu yang membentuk suatu theatre of mind, membuat Ariyo yakin bahwa keberagaman anak-anak dan perkembangan gawai bukanlah suatu kesalahan.

Bagi Ariyo perkembangan teknologi dan kemudahan akses gawai canggih bukan menjadi kompetitor dalam kegiatan mendongeng. Gawai hanya sebuah alat yang kaya akan manfaat.

Itulah sebabnya Ariyo juga menyayangkan jika masih ada orang tua yang memanfaatkan gawai hanya untuk mengamankan anak-anak mereka di dalam rumah dan situasi rewel yang memusingkan.

"Di zaman sekarang menurutku masih tetap ada orang, anak-anak yang tetap mendengarkan cerita. Apalagi jika dituturkan secara langsung oleh orang-orang terdekat mereka. Jadi, sebenarnya apapun medianya nggak pernah jadi hambatan. Itu cuman pikiran negatif dari anak-anak yang mau mulai saja."

"Mereka ketakutan kalau, 'Aduh nanti anaknya cenderung memilih main gadget. Takutnya malah nggak suka (dongeng).' Tapi kalau dicoba, dicoba, dan dicoba lagi, nanti pasti akan dapet deh (momentumnya). Karena hubungan interpersonal antar manusia pasti akan lebih kuat mengalahkan segalanya," tutur Ariyo.

Terkait dengan potensi dongeng asli dalam negeri, Ariyo mengaku optimistis. Ini karena dia melihat sendiri bahwa para penulis, ilustrator, bahkan penerbit buku, masih berlomba-lomba untuk menyasar pasar anak-anak. Bahkan tidak menutup kemungkinan pasar dewasa.

"Ada penemuan dari teman-teman penerbit, kalau sekarang lagi bergairah banget demand terhadap buku anak. Masih tinggi. Ada gaya-gaya penulisan baru, ilustrator cerita anak bertambah banyak. Jadi kegiatan bercerita sebenarnya sekarang makin banyak," ungkap Ariyo.

"Karena aku percaya setiap orang (anak-anak dan dewasa) pada dasarnya itu senang dengan cerita. Terlebih lagi kalau dia bisa merasakan keberadaannya itu dikenali dan bisa berinteraksi dalam kegiatan itu. Ada human touch secara emosional dan psikologis yang membuat itu seru.''

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Leila S. Chudori, Cinderella Tanpa Kereta Kencana (1999), majalah Tempo | Marguerite Johnson, Why Grown-Ups Still Need Fairy Tales (2017) | Caffrey dan Cait, Alexithymia: Salem Press Encyclopedia of Health (2019) | Heru Kurniawan, Kreatif Mendongeng Untuk Kecerdasan Jamak Anak (2015) | CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini