Topeng Labu, Tradisi Hiburan Idulfitri yang Masih Lestari di Muaro Jambi

Topeng Labu, Tradisi Hiburan Idulfitri yang Masih Lestari di Muaro Jambi
info gambar utama

Tak akan pernah habis jika membahas mengenai ragam cara perayaan momen Idulfitri yang ada di setiap daerah Indonesia. Meski begitu, masih ada satu tradisi perayaan Hari Raya yang menarik untuk dikenal lebih dalam karena keunikannya, yakni tradisi Topeng Labu yang berasal dari Desa Muara Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Sesuai namanya, tradisi ini merupakan pawai atau hiburan keliling yang dilakukan oleh sekelompok orang, dengan menggunakan topeng yang dibuat dari labu.

Ya, jika di luar negeri topeng labu identik dengan perayaan yang dinamakan Halloween, tradisi topeng labu di salah satu wilayah Indonesia justru lahir dari suatu cerita rakyat, dan menjadi tradisi yang telah dipercaya telah dilakukan secara turun-temurun selama ratusan tahun oleh warga desa terkait.

Bagaimana wujud dan awal mula tradisi topeng labu lahir dan terus ada hingga saat ini?

Tradisi Sekura, Pesta Topeng dari Lampung dengan Beragam Makna

Kisah penderita penyakit kusta

Mengutip laman Kebudayaan Kemdikbud, berdasarkan penjelasan salah satu pelestari kesenian dan tradisi yang dimaksud bernama Mukhtar Hadi, keberadaan topeng labu merupakan bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Jambi pada zaman kolonial. Saat itu, mereka menggunakan topeng labu kala berhadapan dengan penjajah.

Namun, wujud dari topeng labu itu sendiri berkembang dari sebuah cerita rakyat. Dijelaskan bahwa dulunya ada satu masyarakat Muaro Jambi yang menderita penyakit kusta, dan penyakit tersebut diyakini sebagai kutukan yang tidak akan bisa sembuh.

Karena bisa menular, masyarakat setempat mulai merasa resah, tidak senang, dan tidak nyaman akan penyakit yang menurut mereka mengerikan, dan akhirnya menyuruh beberapa warga yang menderita kusta untuk pergi ke hutan dan mengasingkan diri.

Seiring waktu yang terus berganti hingga datangnya Idulfitri, mereka yang menderita kusta merasa rindu untuk bertemu sanak keluarga, dan suasana perkampungan yang telah lama ditinggalkan. Sadar jika tidak mungkin untuk kembali ke perkampungan dengan kondisi penyakit yang tak kunjung sembuh, akhirnya mereka membuat topeng yang terbuat dari labu untuk menutupi wajah mereka.

Dalam pembuatannya buah labu dibelah dan dihiasi dengan ijuk, kemudian digambar layaknya muka manusia. Mereka berpakaian sederhana kemudian menggendong ambung (sejenis keranjang) saat masuk ke perkampungan.

5 Tradisi Kemeriahan Malam Takbir dan Idulfitri di Berbagai Penjuru Indonesia

Hiburan dengan pesan moral yang selalu dinanti

topeng labu di Muaro Jambi | Dok. Alfi Syahri via metrojambi.com
info gambar

Tak disangka, apa yang para penderita penyakit kusta tersebut lakukan di masa lampau dengan membuat topeng labu justru menjadi hiburan tersendiri bagi para warga. Apalagi ketika memasuki perkampungan, mereka disebut berjalan dengan cara berlenggak-lenggok layaknya penari.

Sehingga setiap Idulfitri tiba, kehadiran mereka selalu dinanti terutama oleh para anak-anak. Para warga juga akan memberikan makanan, minuman, hasil pangan, atau pakaian, kepada mereka yang memakai topeng labu tersebut dengan memasukannya ke ambung yang dibawa.

Tiap tahunnya, momen hiburan berupa tradisi topeng labu ini selalu jadi saat yang paling dinanti oleh warga setempat. Di saat bersamaan, tradisi ini juga memiliki makna dan moral yang terkandung di dalamnya, yakni mengenai pesan kesetaraan sesama manusia.

Seiring dengan berjalannya waktu, kini masyarakat Muaro Jambi meyakini jika tidak ada manusia yang layak dikucilkan dan direndahkan hanya karena menderita suatu penyakit tertentu, dan semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

Momen dan gambaran moral ini juga menjadi tradisi yang tepat untuk mencerminkan solidaritas dan tradisi saat perayaan Idulfitri di masa awal pandemi tahun 2020 kemarin. Mengutip IDN Times, disebutkan jika memang hiburan topeng labu saat pandemi dilakukan dengan peraturan tidak boleh bersalaman antar warga, dan masing-masing pemain topeng menjaga jarak minimal dua meter satu sama lain.

Meski begitu, adanya pandemi juga memperkuat anggapan jika tradisi topeng labu mengajarkan kepada semua orang khususnya masyarakat lokal, jika kita tetap harus menjaga silaturahmi dan memberi dukungan kepada orang-orang yang terserang penyakit.

Pukul Manyapu, Tradisi Lebaran Ekstrem Simbol Pengorbanan Para Pejuang di Maluku

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini