Heboh Harimau Jawa Muncul di Sukabumi, Benarkah Sang Raja Hutan Belum Punah?

Heboh Harimau Jawa Muncul di Sukabumi, Benarkah Sang Raja Hutan Belum Punah?
info gambar utama

Beberapa hari ini ramai kabar kemunculan harimau jawa di Sukabumi yang ditulis di beranda Facebook Dinas Kehutanan Jawa Barat. Hewan ini disebut terlihat warga di Kedusunan Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi.

Heboh penampakan harimau ini mengundang kedatangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar ke lokasi untuk mengecek informasi. Sejumlah sampel diambil di antaranya bulu yang diduga milik hewan bernama latin Panthera tigris sondaica itu.

Kepala Desa (Kades) Cipeundeuy Bakang Anwar As’adi menceritakan soal penampakan harimau di wilayah tersebut sebenarnya sudah sering terjadi. Hamparan Hutan Surade yang sebagian hutan rakyat memang menjadi habitat sejumlah hewan liar.

“Kalau di wilayah luar desa cerita soal penampakan hewan liar termasuk harimau sudah sering diceritakan warga. Kalau jenisnya (harimau) apa kurang tahu. Jadi hanya dengar selewat kemudian ramai,” kata Bakang yang dikutip dari Detik, Kamis (9/6/2022).

Bakang menjelaskan bahwa penampakan yang diduga harimau ini pernah dilihat di kawasan Karang Bolong. Menurutnya kawasan hutan mulai dari Karang Bolong-Sukatani Kecamatan Cidahu memang sering ada cerita penampakan.

Sedangkan harimau Jawa yang ramai ini terlihat pada bulan Agustus dan September 2019 oleh salah satu warga. Saksi yang melihat adalah Rifi Yanuar Fajar (24) yang ketika itu baru pulang dari Surade, Minggu (18/8/2019) malam.

Hari Harimau Sedunia: Mengenang Kembali Spesies Jawa dan Bali yang Telah Punah

Rifi saat itu menggunakan motor sementara empat temannya mengendarai mobil di belakang melintasi jalan desa. Ketika itu pukul 23.00 WIB, kondisi jalanan gelap, sementara di kanan dan kiri jalanan merupakan kawasan hutan rakyat.

Ketika itu, ada sosok yang diduga harimau jawa meloncat tepat ke arah jalan, Rifi yang takut kemudian pergi dari lokasi. Paginya cerita itu langsung ramai, saat itu memang cerita penampakan harimau ini langsung tersebar.

Camat Surade, Chairul Ichwan membenarkan adanya kabar munculnya harimau jawa di daerahnya. Dirinya mengaku cukup senang dengan kabar tersebut meskipun belum dipastikan kebenarannya.

Karena itu, Ichwan meminta masyarakat menyikapi isu ini secara lebih arif, terutama dengan lingkungan sekitarnya. Dirinya meminta ketika ada orang yang melihat jejak atau penampakan harimau untuk melapor kepada pemerintah.

“Nanti kita akan sikapi segera berkoordinasi bisa dengan BKSDA atau Dinas Kehutanan Provinsi. Bukti-bukti yang ada atau ditemukan warga tersebut saat ini dalam penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kami belum mendapat kabar hasilnya seperti apa,” pungkasnya.

BRIN turun tangan

BKSDA Jabar Bidang Wilayah I Bogor membenarkan menerima informasi perjumpaan warga dengan hewan yang diduga harimau jawa. Namun pihak Balai Besar KSDA Jabar baru menerima informasi sekitar Januari 2022.

Dalam informasi itu pun disampaikan terdapat sampel sehelai rambut yang ditemukan di lokasi pada Jumat 27 September 2019. Untuk memastikan kebenarannya, sampel sehelai rambut itu masih diidentifikasi para peneliti.

Kepala Bidang KSDA Bidang I Bogor, Lana Sari menyebut proses penelitian sehelai rambut yang diduga harimau tersebut perlu waktu oleh para peneliti dari BRIN. Proses penelitian juga akan menjalani tes DNA.

“Saat ini kami masih menunggu hasil penelitiannya,” ujarnya yang dimuat Kompas.

Lana mengatakan, selain mengirimkan sampel rambut ke lembaga penelitian, pihak KSDA Bogor juga telah mengirimkan petugas ke lokasi. Petugas dari wilayah Sukabumi sudah mengecek lokasi dan bertemu dengan saksi mata yang melihat hewan tersebut.

Halu Uleo, Kasubag Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan BKSD Jabar juga menyatakan pihaknya telah memasang camera trap di beberapa titik di lokasi yang diduga menjadi tempat munculnya harimau.

“Informasi terkait harimau, dari pemantauan teman-teman di lapangan dengan camera trap, yang didapat hanya macan tutul bukan harimau,” kata Halu yang dimuat Detik.

Karena itulah, dirinya masih menunggu hasil sampel yang ditemukan di lapangan. Hingga kini, jelasnya, sampel bulu itu masih dalam tahap penelitian dan belum ada perkembangan, terutama mencari pembanding untuk sampelnya.

BRIN sendiri masih perlu melakukan pendalaman terkait kabar penemuan harimau jawa di wilayah hutan Sukabumi ini. Khoirul Himmi, Plt Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN mengatakan pihaknya tengah berdiskusi.

Dari hasil diskusi itu, lanjut Khoirul, tim periset masih membutuhkan pendalaman lebih jauh mengenai kabar temuan harimau yang sudah dinyatakan lama punah ini. Karena itulah hasil analisa belum bisa dibagikan ke publik.

“Tim dari organisasi hayati dan Lingkungan BRIN akan bekerjasama dengan BKSDA Jabar untuk turun ke lapangan mengumpulkan bukti tambahan yang diperlukan. Hal itu dilakukan untuk memperkuat dan mengkonfirmasi kesimpulan awal yang ada,” ujar Khoirul.

Benarkah belum punah?

Secara resmi, International Union for Conservation Nature mengumumkan bahwa harimau jawa telah punah pada tahun 1980-an. Harimau jawa terlihat terakhir di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur 1976.

Dimuat dari Mongabay Indonesia, harimau jawa diperkirakan masih mencapai 200-300 ekor pada 1940. Namun kemudian terus menyusut pada 1950 yang hanya tersisa 25 an ekor. Lalu pada 1976, inilah terakhir kali sang raja hutan terlihat.

Meski dinyatakan telah punah, cerita raja hutan ini kerap masih terdengar. Misalnya pada 8 Oktober 2021 lalu, muncul di media sosial mengenai klaim anak harimau Jawa. Kemudian 10 Februari 2022 ada unggahan sebuah foto yang diklaim sebagai harimau jawa.

Didik Raharyono, pemerhati harimau jawa jadi salah satu figur yang terus mencari bukti keberadaan hewan ini. Dia bersama tim Peduli Karnivor Jawa (PKJ) dan relawan berbagai komunitas, terus mendalami kesaksian warga yang mengaku berjumpa harimau jawa.

Seolah ‘’Bangkit’’ dari Kepunahan, Harimau Jawa Terlihat di Hutan Jawa Tengah

Sejak 1997, dirinya secara pribadi telah memperkuat analisis tanda kehadiran harimau jawa melalui taksimetri. Selain itu, dilakukan juga metode penjaringan, pengujian, dan penilaian informasi langsung dari para saksi melalui rekaman video.

“Menjaga hutan berarti kita serta merta melindungi habitat harimau jawa di hutan-hutan tersisa. Ini tujuan utamanya. Namun, karena “opini punah” sangat kuat, banyak kesaksian yang dinihilkan. Banyak bukti tanda kehadiran diabaikan yang berdampak tidak maksimalnya pengelolaan hutan dan ekosistemnya di Jawa,” terangnya.

Namun, Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafi’i menyatakan jika penemuan harimau jawa sangat kecil. Hal ini jelas Aan, demikian dia kerap disapa, harimau jawa masuk dalam kategori punah sejak lama.

Karena itu dirinya memastikan bahwa kemungkinan untuk masih menemukan harimau jawa adalah hal yang tidak mungkin. Karena itu dirinya berharap kabar penemuan ini tidak membuat masyarakat menjadi berandai-andai.

“Tidak perlu berharap ada tindakan apapun dari pemerintah karena ya memang tidak mungkin masih ditemukan. Tidak perlu berandai-andai,” ujarnya.

Ketua Forum Harimau Kita, Ahmad Faisal juga meyakini bahwa harimau jawa telah punah dan isu yang beredar belum ada data secara saintifik. Sedangkan dirinya juga mempertanyakan posisi satwa tersebut yang terlalu baik untuk difoto.

Dirinya malah menduga munculnya isu-isu mengenai harimau jawa masih terjadi, karena memang ada sejumlah individu yang merindukan spesies raja hutan tersebut. Apalagi masih ada berbagai kebudayaan yang menggunakan harimau sebagai simbol.

“Sejak dahulu, harimau merupakan satwa yang kharismatik. Orang seluruh dunia pasti sangat mengenal tiger. Di Jawa, harimau tidak bisa dilepaskan dari budaya. Misalnya sejarah reog. Masih pakai loreng-loreng yang menyerupai kulit harimau,” ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini