Bangunan Ikonik Karya Arsitektur Ridwan Kamil, dari Museum Hingga Masjid di Palestina

Bangunan Ikonik Karya Arsitektur Ridwan Kamil, dari Museum Hingga Masjid di Palestina
info gambar utama

Saat ini nama Ridwan Kamil lebih dikenal sebagai Gubernur Jawa Barat dan sebelumnya merupakan Wali Kota Bandung pada periode 2013-2018. Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bila pria yang akrab disapa Kang Emil ini lebih dulu memulai kariernya sebagai seorang arsitek sebelum terjun ke dunia politik nasional.

Lahir di Bandung pada 4 Oktober 1971, Ridwan Kamil merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan studi S1 jurusan Teknik Arsitektur dan S2 jurusan Urban Design, ia pun menjadi dosen tidak tetap untuk program studi Teknik Arsitektur ITB sejak tahun 2002 hingga 2016.

Diketahui pada tahun 2004, ia mendirikan Urbane, perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa konsultan arsitektur, tata ruang kota, dan desain. Perusahaan tersebut pun mulai dikenal luas dan memililiki berbagai karya yang mendapat penghargaan di bidang arsitekur.

Sepanjang kariernya sebagai arsitek, sudah banyak karya arsitektur Ridwan Kamil yang ikonik, baik itu di dalam maupun luar negeri. Berikut daftarnya:

Masjid Syaikh 'Ajlin

Masjid Syaikh 'Ajlin | Instagram Ridwan Kamil
info gambar

Desain Masjid Syaikh 'Ajlin di Gaza, Palestina, dirancang khusus oleh Ridwan Kamil. Masjid ini didirikan pada tahun 1957 di perkampungan Syaikh 'Ajlin, tetapi pada tahun 2014 masjid tersebut hancur saat serangan Israel.

"Nama masjid dinisbatkan kepada tokoh mujahiddin, ahli syariah, alim ulama dan ahli tassawuf. Bayangkan ketika saat masjid tersebut hancur lebur oleh Israel, orang-orang salat di tenda darurat, mereka juga salat di bawah pasir pantai di bawah terik matahari dan di bawah guyuran hujan," ujar Direktur Aman Palestin Indonesia Miftahuddin Kemal.

Menurut keterangan sang arsitek, ia merancang masjid ini dengan konsep keseimbangan hubungan seorang Muslim dengan tuhan, serta antara manusia dan alam. Konsep ini dituangkan lewat tiga bangunan utama masjid dengan desain futuristik. Masjid tiga lantai ini dibangun tak hanya untuk tempat salat, tapi juga tempat belajar atau madrasah.

"Makanya ada struktur yang tinggi di tengah habluminallah, kanan hablumminannas dan hablumminal alam. Bahwa kita harus seimbang dalam hubungan kepada Allah, manusia dan mencintai alam," ujar Ridwan Kamil.

Ramah Lingkungan, Bandara Banyuwangi Masuk 20 Besar Arsitektur Terbaik Dunia

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh | Wikimedia Commons
info gambar

Museum Tsunami Aceh dibangun sebagai monumen simbolis bagi bencana gempa bumi dan tsunami yang pernah terjadi pada tahun 2004 silam. Sebagai arsitek museum ini, Ridwan Kamil merancang bangunan dengan detail-detail sedemikian rupa yang akan mengajak pengunjung untuk mengingat kembali bagaimana suasana pada saat tsunami terjadi. Rupanya Ridwan Kamil merupakan pemenang sayembara lomba desain Museum Tsunami Aceh tahun 2007 lalu dan ia berhasil menyisihkan 68 desain lain.

Di museum ini terdapat ruangan The light of God berbentuk sumur silinder dengan dinding sumur dipenuhi nama para korban dan pada bagian atasnya memiliki lubang dengan tulisan arab Allah. Ruangan ini mengandung nilai-nilai religi cerminan dari Hablumminallah atau konsep hubungan manusia dan Tuhan. Sementara nilai Hablumminannas, konsep hubungan antar manusia, dapat dilihat pada pola fasad bangunan yang menggambarkan tarian saman.

Untuk tampilan dari interior museum adalah tunnel of sorrow yang akan menggiring pengunjung ke suatu perenungan atas musibah yang terjadi di Aceh, sekaligus melambangkan kepasrahan dan pengakuan terhadap kekuatan Tuhan dalam mengatasi sesuatu.

Museum yang dibangun di atas lahan 10 ribu meter persegi ini mengambil konsep dasar rumah panggung tradisional yaitu Rumoh Aceh. Di museum ini juga terdapat area The Hill of Light di mana pengunjung dapat meletakkan karangan bunga untuk mengenang korban tsunami dan Escape Hill, lokasi antisipasi penyelamatan seandainya bencana alam terjadi di masa yang akan datang.

5 Bangunan Masjid di Indonesia dengan Gaya Arsitektur Khas Etnis Tionghoa

Beijing Finance Street, China

Beijing Finance Street | Wikimedia Commons
info gambar

Karya Ridwan Kamil di luar negeri adalah Beijing Finance Street Super Block yang ia rancang pada tahun 2003. Seperti Museum Tsunami Aceh, desain ini pun ia kerjakan karena memenangkan sayembara dan mewakili perusahaan di Hongkong. Saat itu, dirinya bekerja di perusahaan arsitek internasional Skidmore Owings & Merrill (SOM) yang dikenal sebagai perancang gedung Burj Khalifa, Dubai.

"Konsepnya punya twin tower untuk industri keuangan punya RTH (ruang terbuka hijau) di tengah, punya bangunan yang manusiawi. Jadi saya merubah tata kota Beijing lebih manusiawi dengan mengurangi parkir didepan gedung. Dalam dunia arsitek itu terobosan besar. Sehingga parkirnya tidak kelihatan dari jalan, hanya pedestrian, trotoar dan manusia yang jalan," jelasnya.

Masjid Al Irsyad Bandung

Masjid Al- Irsyad berlokasi di perumahan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung, Jawa Barat, dan dikenal dengan bangunan rumah ibadah berbentuk kubus tanpa kubah. Ridwan Kamil merancang masjid ini terinspirasi dari Ka'bah yang ada di Arab Saudi.

Alih-alih membuat kubah, sang arsitek menampilkan identitas keislaman melalui kalimat syahadat raksasa melalui susunan bata pembentuk dinding masjid. Konsep ini hanya terlihat seperti garis-garis hitam di seluruh dinding masjid, tetapi jika dicermati akan tampak kisi-kisi dinding dengan susunan bata bolong itu membentuk dua kalimat syahadat dalam huruf Arab. Kisi-kisi tersebut juga berfungsi sebagai penerangan yang artistik.

Masjid ini juga tidak memiliki ornamen yang biasa. Pengunjung bisa melihat di bagian atap ada 99 kotak yang merupakan lampu dan yang setiap kotaknya terdiri dari satu asma Allah. Ketika mulai gelap, 99 kotak itu akan memancarkan 99 Asmaul Husna. Kemudian, satu lagi yang ikonik dari masjid ini adalah keberadaan batu bulat berukir lafaz Allah yang diposisikan di tengah mihrab terbuka.

Desain masjid ini termasuk mahakarya seni bangunan dan telah mendapat penghargaan “Building of The Year 2010” kategori arsitektur religius dan FuturArc Green Leadership Award 2011 oleh Building Construction Information (BCI) Asia.

Wisata Halal Indonesia Terbaik Kedua di Dunia dalam Global Travel Muslim Index 2022

Rumah Botol

Rumah Botol yang merupakan kediaman sang arsitek di Bandung juga sempat menarik perhatian. Untuk membangun rumah tersebut, Ridwan Kamil mengumpulkan 30.000 botol kaca bekas minuman selama dua tahun.

Rumah yang berada di kawasan Cigadung tersebut dibangun menggunakan material botol berwarna cokelat dan dipadukan dengan kayu untuk memberikan warna senada. Pada eksterior rumah menggunakan beton ekspos yang membuat keseluruhan bangunan jadi tampak unik. Untuk ventilasi udara, rumah ini juga memiliki beberapa panel kaca yang berfungsi seperti jendela.

Dengan layout ruang terbuka, rumah ini dibangun dengan minim partisi sehingga lebih leluasa dalam bergerak. Untuk pencahayaan pada siang hari dapat terfilter melalui botol dan membentuk pola bayangan pada ruang dalam. Rumah ini juga dirancang sedemikian rupa untuk tidak membuang energi secara sia-sia.

Atas segala keunikannya, Rumah Botol pernah mendapatkan penghargaan Green Design Award 2009 oleh BCI Asia dan mengalahkan 80 partisipan dari 8 negara di Asia lain.

Selain bangunan-bangunan yang telah disebutkan, masih banyak karya arsitektur Ridwan Kamil lainnya. Di dalam negeri, ia merancang Masjid Agung Sumatera Barat, Medan Focal Point, Museum Taufik Hidayat, Gerbang Kemayoran (Kemayoran Urbangate), Sungai Epicentrum Rasuna Said, Taman Dewi Sartika Restorasi Anak Sungai Cikapayang, Masjid Al Safar di Rest Area KM99 Tol Cipularang, Masjid Raya Al-Azhar Bekasi, Masjid Raya Asmaul Husna Serpong, Masjid 99 Kubah Makassar, Masjid Baiturahim Yogyakarta, dan Masjid Al Jabbar Bandung.

Sementara itu karyanya di luar negeri antara lain Masjid Raya Sevilla Spanyol, Masjid Islamic Centre Beijing, Marina Bay Waterfront Singapura, Ras Al Khaimah Waterfront di Uni Emirat Arab, dan Suzhou Retail Masterplan di China.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini