Memulihkan Eksistensi Padi Lokal Rojolele Delanggu Lewat Ekowisata dan Pemberdayaan

Memulihkan Eksistensi Padi Lokal Rojolele Delanggu Lewat Ekowisata dan Pemberdayaan
info gambar utama

Padi adalah salah satu makanan pokok paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, terutama di Indonesia. Sebagai negara yang menjadikan beras dari padi sebagai makanan utama, tak heran jika keberadaan tanaman bernama ilmiah Oryza sativa ini begitu berperan penting bagi masyarakat.

Terbukti, karena data Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (FAO) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-3 sebagai negara penghasil beras terbanyak di dunia. Sementara itu dari segi komoditas, beras menempati komoditas terbanyak kedua setelah minyak kelapa sawit.

Bicara mengenai jenisnya, secara garis besar ada tiga jenis tanaman padi penghasil beras yang dibedakan berdasarkan varietasnya. Ketiga jenis padi yang dimaksud terdiri dari varietas padi hibrida, varietas padi unggul, dan varietas padi lokal.

Di tengah kebutuhan pangan akan kecukupan beras yang tinggi dan berasal dari dua varietas seperti padi hibrida serta padi unggul, tak dimungkiri jika padi lokal harus menghadapi tantangan dari segi eksistensi.

Hal tersebut lantaran berbeda dengan dua jenis sebelumnya, padi lokal hanya tumbuh dan berada di daerah tertentu, karena membutuhkan spesifikasi khusus untuk tumbuh dengan baik. Pada akhirnya, kondisi tersebut yang membuat sejumlah jenis padi lokal perlahan mulai ditinggalkan dan hilang.

Salah satu jenis padi lokal yang mengalami kondisi di atas adalah padi Rojolele Delanggu. Sempat terlupakan, kini varietas padi tersebut perlahan mulai dibudidayakan kembali oleh sejumlah pihak. Bukan semata-mata untuk membudidayakan komoditas lokal, namun ada makna tradisi dan budaya yang ingin dikembalikan dari eksistensi padi ini.

Selamat! Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Penghasil Padi Terbesar di Dunia

Mengenal padi Rojolele Delanggu

Karakter gabah padi Rojolele Delanggu | Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS
info gambar

Rojolele Delanggu adalah jenis padi lokal yang tumbuh beradaptasi dalam jangka waktu lama dengan kondisi geografis di Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Rojolele sesuai dengan namanya dianggap sebagai ‘Raja’ dibandingkan jenis padi lain, karena dianggap oleh masyarakat lokal memiliki kualitas rasa yang terbaik.

Oleh karena itu, petani di Delanggu memiliki semboyan khusus berupa “makan lauk apapun akan terasa nikmat apabila dikonsumsi dengan nasi Rojolele Delanggu”. Ungkapan tersebut kebalikan dari mindset masyarakat saat ini, yang biasanya mengutamakan lauk sebagai elemen penting.

Dari segi budaya ritual, masyarakat lokal memanfaatkan padi tersebut sebagai syarat wajib baik untuk ritual yang sifatnya kegiatan pertanian ataupun lingkup keluarga. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa hormat masyarakat Delanggu terhadap Tuhan.

Namun sayangnya padi yang penuh akan nilai tersebut mulai ditinggalkan oleh petani sejak digalakannya Revolusi Hijau yang diawali pada tahun 1968. Revolusi hijau adalah program pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dengan menekankan pada efektifitas dan efisiensi.

Akhirnya metode pertanian tradisional dianggap kurang produktif, apalagi Rojolele Delanggu asli membutuhkan waktu tanam hingga panen kurang lebih 6 bulan. Saat ini, Rojolele Delanggu ironisnya hanya merupakan sebuah nama dalam sak plastik beras yang tujuannya semata-mata untuk meningkatkan nilai jual beras, walaupun isinya bukan beras Rojolele Delanggu asli.

Padi 'Amphibi', Varietas Baru Karya Peneliti UGM

Membudidayakan yang asli

Kegiatan preservasi budaya pertanian tradisional Rojolele Delanggu | Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS
info gambar

Melihat situasi yang ada, akhirnya upaya untuk mengembalikan kembali eksistensi padi/beras Rojolele Delanggu yang sesungguhnya dilakukan oleh pihak gabungan, yang terdiri dari Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Sedyo Makmur Desa Sabrang dengan tim Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS).

Melalui pendekatan desain partisipatif, kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan kembali potensi pertanian padi yang merupakan ciri khas dari area Kecamatan Delanggu.

Setelah melalui tahap diskusi dan pendekatan, disimpulkan bahwa para petani lokal mengharapkan pembudidayaan kembali padi Rojolele Delanggu beserta aspek budaya tradisional yang dihasilkan.

Dalam mengawali kegiatan preservasi padi yang dimaksud, di wilayah Kecamatan Delanggu diketahui sudah tidak ditemukan benih padi Rojolele Delanggu asli, karena padi tersebut ditanam terakhir sekitar 30 tahun yang lalu.

Namun melalui dukungan dari Balai Besar Penelitian Padi Subang (BB Padi Subang), benih padi Rojolele Delanggu asli dapat diperoleh untuk dibudidayakan. Di tahun 2020, kuantitas benih yang diterima dari BB Padi yaitu sebanyak segenggam, dan dapat ditanam di luas area 4 meter persegi.

Saat ini (2022), padi Rojolele Delanggu tersebut berhasil diperbanyak hingga luas area tanam 4.000 meter persegi yang berlokasi di Dusun Karangmojo, Desa Sabrang, Kecamatan Delanggu.

Dalam proses budidayanya, selain pendekatan tradisional juga digunakan teknologi scanning melalui drone secara rutin di area yang ditanami Rojolele Delanggu, yang bertujuan untuk mengontrol kesehatan padi Rojolele Delanggu.

Padi sebagai Tanaman dari Surga yang Dipercayai Masyarakat Dayak

Proyek ekowisata dan pemberdayaan

Kegiatan preservasi budaya pertanian tradisional Rojolele Delanggu | Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS
info gambar

Tidak hanya melakukan program pembudidayaan yang melibatkan petani semata, namun upaya untuk mengembalikan eksistenis padi Rojolele Delanggu ini juga dilakukan melalui pendekatan ekowisata.

Beberapa kegiatan yang bersifat budaya pertanian dan dijadikan ‘menu’ ekowisata antara lain pembenihan, ritual tanam, penanaman, pelaksanaan ritual wiwitan, dan juga panen bersama dengan menggunakan alat tradisional ani-ani atau pisau kecil dengan pegangan dari bambu.

Di mana faktanya, kegiatan tradisional tersebut rata-rata sudah tidak dipraktekkan oleh petani lokal. Seperti contohnya ritual Wiwitan yang merupakan “festival” menjelang panen, dan sudah tidak dilakukan oleh masyarakat sejak 25 tahun lalu.

Akhirnya dalam penyelenggaraan ekowisata ini, petani menyambut sangat antusias hingga terharu mengingat bagaimana interaksi sosial yang terbangun dimasa lalu hadir kembali di masa kini. Lain itu, dilangsungkan juga acara rutin berupa selebrasi masa panen bernama ‘Dahar Sareng’ atau makan bersama sebagai pelestarian budaya kuliner berbasis Rojolele Delanggu.

Program food culture ini diselenggarakan untuk memperkenalkan kembali kearifan lokal dalam proses memasak beras Rojolele secara tradisional, seperti menanak nasi menggunakan dandang dan kukusan hingga membuat wadah makanan serta sendok dengan menggunakan material daun pisang.

Kegiatan ‘Dahar Sareng’ Rojolele Delanggu | Dok. GAPOKTAN dan FSRD UNS
info gambar

Berbagai makanan tradisional yang biasa menggunakan bahan beras Rojolele Delanggu dimasa lalu juga dibuat kembali lewat kesempatan tersebut, seperti sego trancam (nasi Rojolele dengan sayur-sayuran), lintingan katul (kue tradisional dari bekatul Rojolele), dan bubur katul (bubur dari bekatul Rojolele).

Terakhir sebagai upaya untuk pemberdayaan, selain dikonsumsi oleh petani lokal beras Rojolele Delanggu asli juga dijual secara umum dengan target pasar masyarakat yang ingin bernostalgia dengan rasanya yang khas, ataupun pasar baru yang ingin mengonsumsi beras lokal berkualitas.

Karena itu dari segi branding, desain dari kemasan Rojolele Delanggu dibuat oleh tim FSRD UNS dengan visual yang merepresentasikan cerita dari petani lokal baik dari ciri khas alam, budaya, serta pemandangan di Kawasan pertanian Desa Sabrang.

Beras ini dikemas dengan ukuran 1 dan 2 kilogram serta diperjualbelikan secara langsung di GAPOKTAN maupun online. Dalam proses pengemasannya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Sedyo Mulyo dilibatkan sebagai upaya pemberdayaan keluarga petani Desa Sabrang.

Aktivitas Wisata di Desa Karangrejo Magelang, dari Menanam Padi hingga Keliling Naik VW

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini