Peran Orang Kaya dalam Perdagangan Rempah di Banda Neira Maluku

Peran Orang Kaya dalam Perdagangan Rempah di Banda Neira Maluku
info gambar utama

Sejak dahulu, Kepulauan Banda Neira, Maluku telah dikenal dengan sebutan ‘Pulau Rempah’. Kepulauan ini merupakan satu-satunya kepulauan yang memproduksi pala dan fuli selama bertahun-tahun.

Kepulauan Banda Neira tidak diperintah oleh sebuah kerajaan hingga sekitar abad ke 16. Kepulauan Banda ini diperintah oleh tetua adat yang biasa disebut sebagai ‘Orang Kaya’ dan mereka merupakan golongan yang mengatur kehidupan masyarakat.

Syahidah Sumayyah dalam Perdagangan Rempah di Banda Neira Maluku dan Peran Orang Kaya menyebut Orang Kaya ini juga merupakan kelompok yang mengatur jalannya perdagangan di Kepulauan Banda.

“Sistem yang berlaku di Banda ini banyak ditemukan juga di wilayah Filipina dan Spanyol, di mana sekelompok tetua memiliki kekuasaan atas daerahnya sendiri, berdasarkan batas yang disepakati secara adat,” paparnya.

Syahidah menyebut komoditi utama yang diperjualbelikan dan menghasilkan keuntungan bagi Orang Kaya adalah rempah-rempah, kepemilikan tanah, budak, dan lainnya. Harga jual beli pala yang dihasilkan di Kepulauan Banda bergantung pada Orang Kaya ini.

Mengenal 4 Kawasan Konservasi Perairan Maluku yang Baru Diresmikan

Karena manfaat dan kelangkaanya, pala menjadi salah satu rempah termahal di dunia. Harganya secara otomatis berlipat, bergantung jumlah perpindahan tangan perantara dan jauhnya jarak yang ditempuh komoditas itu ke berbagai penjuru dunia.

Harga pala semakin melambung ketika rempah itu diyakini mampu menangkal wabah “Kematian Hitam” yang melanda Eropa pada abad ke 13. Dalam catatan Jerman dari abad 14 disebutkan harga 0,5 kilogram pala setara dengan tujuh lembu jantan gemuk.

Karena terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan di Kepulauan Banda, dalam perkembangannya membuat harga pala terus meningkat di pasaran luar negeri. Hal ini berdampak kepada status Orang Kaya di Banda.

Ditulis oleh Syahidah, mereka menjadi semacam bangsawan dagang yang secara kolektif mengendalikan sekelompok masyarakat pesisir yang sangat kecil, namun makmur karena aktivitas perniagaan.

“Orang Kaya inilah yang kemudian berurusan langsung dengan para Syahbandar yang berada di pelabuhan,” paparnya.

Datangnya orang Eropa

Pada permulaan abad ke 14 dan sebelumnya, rempah yang ada di Kepulauan Indonesia sangat bergantung dengan para pedagang Asia. Para pedagang Asia memegang penuh jalur perdagangan rempah mulai dari hilir sampai hulu.

Agar tetap menjadi pedagang tunggal, mereka menciptakan mitos-mitos di kalangan masyarakat Eropa mengenai daerah yang penuh dengan bahaya. Misalnya untuk mencapai sumber rempah ini para pelaut harus melewati monster laut.

Pala Banda yang dibawa dari daerah satu ke daerah lain tentu telah melewati banyak tangan tengkulak, sehingga harga pala ketika sampai di daratan Eropa dapat naik hingga 1.000 kali lipat dari harga aslinya di Banda.

Meskipun mahal, masyarakat Eropa masih tetap membeli rempah-rempah ini sebagai gaya hidup kelas atas. Pala digunakan sebagai bahan masakan kelas atas Eropa ketika mengadakan perjamuan pesta.

Dikala Konstantinopel sebagai gerbang masuk produk eksotis dari daerah tropis telah jatuh ke tangan bangsa Kesultanan Turki. Maka salah satu jalur pasokan rempah menjadi langka, dari sinilah muncul keinginan para pedagang Eropa berlayar ke wilayah Nusantara.

Saat Eropa memasuki zaman Renaisans pada abad ke 15, dorongan eksplorasi untuk menemukan sumber rempah-rempah, termasuk pala tak terbendung. Kekuatan maritim seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda pun mulai berdatangan.

Namun keinginan para pedagang Eropa untuk menguasai pala ini terhalang oleh Kepulauan Banda. Keberadaan Orang Kaya di Banda ini juga merupakan salah satu penyebab dari sulitnya melakukan monopoli perdagangan rempah di Kepulauan Banda.

Disebut Syahidah, keberadaan Orang Kaya tidak seperti sebuah kerajaan di mana rajanya bisa diajak melakukan kerja sama. Kelompok Orang Kaya juga bergabung menghadapi ancaman terhadap kepentingan mereka yang datang, seperti Portugis dan Inggris.

“Orang Kaya di Banda sejak awal juga tidak mengizinkan adanya pendirian benteng atau kantor dagang milik Portugis di wilayah kekuasaan mereka,” ucapnya.

Sejarah dan Alam Banda Neira yang Tak Lekang Oleh Waktu

Pada 1607, Belanda baru memasuki Kepulauan Maluku ketika membantu mengusir pasukan Spanyol. Belanda kemudian melakukan perjanjian dengan Kesultanan Ternate untuk mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.

Namun Orang Kaya lebih berpihak kepada Inggris daripada Belanda yang akhirnya menimbulkan perang. Lama kelaman, baik Belanda maupun Inggris lelah dengan perang yang mereka lakukan.

Keduanya pun sepakat mengakhiri konflik dalam perundingan, Belanda rela memberikan New Amsterdam, Manhattan (sekarang New York), kepada Inggris demi mendapatkan penghasil pala satu-satunya di dunia.

Genosida Orang Kaya

Setelah mendapat hak atas kepulauan Banda, Belanda segera melakukan kontak dengan masyarakat, khususnya Orang Kaya. Admiral Pieterszoon Verhoeven, pemimpin Belanda tiba di Banda pada 1608 untuk bernegosiasi.

“Ketika mencoba bernegosiasi, orang-orang Banda ini malas bertemu dengan orang Belanda,” kata Meta Sekar Puji Astuti yang dimuat dari Historia.

Orang-orang Banda menaruh curiga kepada Belanda saat mereka datang dengan membawa pasukan, serta persenjataan lengkap. Karena itu orang-orang Banda ini mengelabui Belanda dengan memerintahkan mereka ke suatu tempat.

Tanpa menaruh curiga, Verhoeven pun menyetujui pertemuan tersebut. Namun setelah sampai di tempat tersebut dirinya tidak menemukan siapapun. Bahkan dirinya malah dihadang oleh banyak orang bersenjata.

Gagal melakukan negosiasi, Verhoeven sangat kecewa dan memutuskan untuk pergi. Namun saat hendak pergi, orang-orang Banda itu menyerang, sang admiral dan beberapa orang bawahannya tewas dalam serangan mendadak itu.

“Verhoeven tewas seketika dan kepalanya ditancapkan di atas tombak oleh orang-orang Banda,” tulis Willard A Hanna dalam The Banda Islands: Hidden Histories & Miracles of Nature.

Mempertahankan Keindahan Surga Hayati Dunia di Banda Neira

Dalam penyerangan itu, hanya sedikit orang yang selamat, salah satunya adalah Jan Pieterszoon Coen. juru tulis Verhoeven ini begitu marah dan diliputi rasa ingin balas dendam yang sangat besar kepada orang-orang Banda.

Coen kemudian membangun kekuatan tempurnya di Batavia. Dia menghimpun armada kapal besar sebelum bertolak ke Banda. Bergabungnya para samurai pun menambah kekuatan armada Coen.

Pada 1621, Coen akhirnya berangkat menuju Banda yang kali ini sama sekali tak berniat untuk berunding. Dirinya lantas mengumpulkan seluruh rakyat Banda di sebuah lapangan besar untuk menyaksikan eksekusi Orang Kaya.

Total ada 44 Orang Kaya yang menjadi korban kebengisan VOC. Kepala mereka dipenggal, potongan kepala dan tubuh mereka lalu ditancapkan di sepotong bambu untuk dipertontonkan kepada warga lainnya sebagai pengingat.

Coen memang bertindak sangat kejam sebagai perwujudan balas dendam. Hampir seluruh penduduk di Kepulauan Banda dimusnahkan dengan sangat kejam dan tidak berperikemanusian.

“Diperkirakan dari 15 ribu penduduk Kepulauan Banda saat itu, yang tersisa kurang dari 1.000 orang saja akibat pembantaian VOC tersebut,” tulis Iswara N Raditya dalam Pembantaian Orang-Orang Banda yang dimuat di Tirto.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini