Ketika Hewan Kurban Menjadi Pengantin Lewat Ritual Manten Sapi

Ketika Hewan Kurban Menjadi Pengantin Lewat Ritual Manten Sapi
info gambar utama

Tepat di tanggal 10 Juli 2022 atau 10 Zulhijah 1443 Hijriah, umat muslim di tanah air merayakan kemeriahan Iduladha yang identik dengan aktivitas pemotongan kewan kurban.

Jika dilihat di setiap daerah, pasti dijumpai gelaran penyembelihan dan pemotongan hewan kurban secara bergotong royong dalam perayaan ini. Jenis hewan yang dikurbankan sudah pasti beragam, mulai dari sapi, kambing, hingga domba.

Terlepas dari tradisi berkurban secara umum, di beberapa daerah menariknya memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut dan melaksanakan momen Iduladha dan kurban. Tradisi yang dimaksud biasanya terdiri dari ritual yang berhubungan dan harus dijalani langsung oleh masyarakat, bahkan ada juga ritual yang dilakukan secara khusus untuk hewan yang akan dikurbankan.

Seperti halnya di Pasuruan. Pada salah satu kota yang ada di Provinsi Jawa Timur ini, terdapat sebuah ritual menjelang kurban yang dinamakan Manten Sapi. Seperti apa ritual yang dimaksud dan bagaimana pelaksanaannya?

Mengenal Jenis Sapi Kurban yang Ada di Indonesia

Penghormatan kepada hewan kurban

Sudah umum di kalangan pemilik hewan kurban atau bahkan peternak hewan kurban itu sendiri, terdapat paham dan kebiasaan bahwa mereka akan memperlakukan hewan kurban dengan sangat baik menjelang waktu penyembelihan atau pemotongan.

Mulai dari perawatan seperti dimandikan, pembersihan kandang yang lebih rutin, bahkan hingga pemberian pakan berserat yang lebih tinggi. Hal tersebut dilakukan agar hewan kurban terhindar dari stress dan tidak merasa tertekan menjelang waktu pemotongan.

Di lain sisi, hal tersebut juga dipandang sebagai bentuk penghormatan manusia bagi hewan yang dipercaya akan mengantar mereka sebagai amalan baik. Rupanya, perlakuan istimewa tersebut menjadi unik jika mengintip tradisi di Pasuruan.

Masyarakat Pasuruan bisa melakukan ritual manten sapi menjelang Iduladha, atau yang dalam bahasa Indonesia juga berarti pengantin sapi. Ritual tersebut dilakukan warga terhadap sapi sebelum diserahkan kepada panitia kurban di setiap wilayah.

Sudah ada sejak bertahun-tahun lalu dan masih dipertahankan hingga saat ini, mengutip penjelasan di laman Pemerintah Pasuruan, tujuan dilakukan ritual manten sapi tak lain adalah sebagai syiar Agama, terlebih mengingatkan masyarakat untuk berkurban, baik sapi, kambing, domba maupun unta.

Upaya Hindari Kantong Plastik untuk Pembagian Daging Kurban

Dirias layaknya pengantin

Sebelum disembelih, sapi-sapi terlebih dulu dimandikan dengan air bunga. Setelahnya, sapi akan dihias layaknya pengantin seperti dikalungkan dengan bunga tujuh rupa, aksesoris warna-warni, dan kalung.

Lain itu ada juga yang biasanya melilitkan serban di bagian kepala sapi. Sedangkan bagian punggungnya akan dibalut dengan kain kafan dan sajadah. Tak asal dilampirkan, rupanya setiap benda yang dikenakan pada tubuh sapi memiliki makna tersendiri.

Sajadah dan serban memiliki makna religius, sedangkan kain kafan digunakan untuk menandakan kesucian orang yang melakukan kurban. Sementara itu bunga tujuh rupa yang dimaksud juga ditetapkan terdiri dari bunga melati, cempaka putih, mawar merah, mawar putih, sedap malam, kenanga, dan melati gambir.

Ketujuh jenis bunga yang dimaksud nyatanya sering digunakan pada upacara ritual, siraman, dan keagamaan. Kombinasi dari bunga-bunga tersebut tidak boleh diganti dan umum dipakai untuk membersihkan diri dan pikiran dari hal-hal yang bersifat negatif.

Selanjutnya, hewan-hewan kurban yang sudah dihias sedemikian rupa akan diarak keliling kota dan dipamerkan ke masyarakat, dengan tujuan akhir ke masjid atau tempat pemotongan untuk diserahan ke panitia kurban.

Sembari diarak, biasanya masyarakat yang terlibat dalam penghiasan akan membawa bahan-bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan bumbu-bumbu.

Setiap tahun, ritual ini selalu menjadi saat yang dinanti oleh masyarakat Pasuruan dan prosesnya selalu sukses menyita perhatian. Sejumlah warga yang mengikuti rangkaian manten sapi, mengaku sangat senang menjaga tradisi satu ini.

Karena bagi mereka, banyak tradisi lokal yang kini sebenarnya sudah hilang akibat tidak dapat dimaknai dengan benar arti yang terkandung di dalam tiap tradisi yang ada.

"(Manten sapi) bukan hanya semata syiar agama, tapi ini juga merupakan alat komunikasi dalam menjaga tradisi lokal," ujar Ansori, salah satu warga Pasuruan dalam ritual manten sapi.

Mengenal Jenis Kambing Kurban Unggulan yang Ada di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini