Telok Ukan, Makanan Ikon Kemerdekaan Indonesia dari Palembang

Telok Ukan, Makanan Ikon Kemerdekaan Indonesia dari Palembang
info gambar utama

Kemerdekaan Indonesia tidak hanya identik dengan ragam lomba 17 Agustus yang paling dinanti berbagai kalangan. Dari segi kuliner, nyatanya juga ada ragam makanan khas yang selama ini identik sebagai santapan wajib dalam perayaan HUT RI.

Beberapa santapan yang dimaksud sebut saja nasi oyek yang terbuat dari singkong, nasi jagung, bandros, hingga yang paling populer adalah nasi kuning/tumpeng. Di samping itu, masih banyak lagi ragam santapan khas kemerdekaan yang sebenarnya bisa dijumpai di berbagai daerah, salah satunya Telok Ukan, yang berasal dari Palembang.

Masih asing atau bahkan baru pertama kali mendengar makanan dengan nama telok ukan?

Makanan Para Pejuang Kemerdekaan Pada Kala Itu

Mengenal telok ukan

Jika dilihat sekilas, sebenarnya akan langsung diketahui jika telok ukan adalah makanan yang dibuat dari telur sebagai bahan utama. Namun bedanya, pada bagian atas telur yang utuh akan nampak potongan gabus untuk menutup sedikit bagian lubang yang sengaja dibuat.

Berbeda dari telur biasa, telok diolah dengan mencampur isian telur dengan ragam bumbu dan bahan lain, salah satunya santan. Karena itu, lubang yang dibuat pada bagian atas telur bertujuan untuk mengeluarkan isinya terlebih dahulu, untuk kemudian dicampur dengan bumbu.

Lebih detail, dalam pembuatan telok jenis telur yang dipakai umumnya adalah telur bebek. Namun tak sedikit juga yang menggunakan telur ayam biasa. Ketika isian telur sudah dikeluarkan, langkah selanjutnya adalah mengocok isian tersebut dengan santan, kapur sirih, jus daun pandan, dan garam.

Setelah teraduk rata, isian berbumbu tersebut dimasukkan kembali ke dalam telur dan ditutup menggunakan gabus yang dipotong seukuran dengan lubang. Setelah itu, adonan telok tinggal dikukus selama 15 menit dan siap untuk disantap. Karena menggunakan santan, cita rasa dari telok sendiri terbilang lebih gurih.

Membahas mengenai makna penamaannya, telok ukan merupakan penyebutan untuk kalimat yang berarti telur atau bukan. Dijelaskan bahwa dulunya, banyak pendatang atau orang yang bukan asli Palembang bertanya, apakah hidangan tersebut telur atau bukan, karena jika dilihat dari penampilan memang memiliki wujud berbeda.

Sehingga dari kata-kata telur bukan, lama kelamaan berubah menjadi telok ukan.

Makanan ini disebut sebagai ikon kemerdekaan di Palembang, karena nyatanya memang hanya banyak dijumpai atau dijual saat bulan Agustus saja. Lebih tepatnya menjelang hari perayaan Kemerdekaan RI.

Lebih detail, santapan satu ini akan banyak dijumpai menjelang kemerdekaan di sekitar Jalan Merdeka. Umumnya, telok ukan dijual dengan harga Rp5.000 per butir.

Cerita Tanaman Porang, Makanan Tentara Jepang saat Jajah Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini