Menanti Realisasi Hadirnya Bank Emas Indonesia di Tahun 2023

Menanti Realisasi Hadirnya Bank Emas Indonesia di Tahun 2023
info gambar utama

Bukan hanya uang, penyimpanan atau bank untuk benda berharga yang memiliki nilai ekonomi nyatanya juga ada yang diperuntukkan bagi logam mulia, yakni bank bullion atau bank emas. Belum memiliki wujudnya secara mandiri hingga saat ini, menariknya fasilitas tersebut sedang dalam tahap pertimbangan untuk dihadirkan pada tahun 2023 mendatang.

Seperti apa rencana pembuatan bank emas di Indonesia?

Untuk diketahui, bullionk bank atau bank emas adalah bank khusus yang melayani transaksi logam mulia baik emas atau perak.

Rencana mengenai pembuatan bank emas diusulkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto pada kisaran bulan Februari lalu. Lebih detail, hal tersebut ia sampaikan dalam acara Webinar BRI Microfinance Outlook 2022, bertajuk Boosting Economic Growth Through Ultra Micro Empowerment, pada Kamis (10/2/2022).

10 Negara Penghasil Emas Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?

Alasan Indonesia harus punya bank emas

produksi emas terbesar di Indonesia | PTFI
info gambar

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi pentingnya kehadiran bank emas di Indonesia. Pertama, Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara penghasil emas terbesar di dunia.

Berdasarkan data Global Mine Production, Indonesia berada di posisi ke-9 negara penghasil emas dengan produksi mencapai 117,5 ton di sepanjang tahun 2021. Posisi yang sama juga diraih pada tahun 2019, dengan hasil produksi mencapai 180 ton.

Sayangnya, dengan potensi sumber daya sebanyak itu Indonesia selama ini belum memiliki fasilitas hilir atau penampungan dan pengolahan emas sendiri. Disebutkan bahwa, logam mulia berupa emas atau perak yang ada di Aneka Tambang, selama ini bahan bakunya masih diimpor dari luar.

Begitupun dengan siklus produksi emas yang selama ini berjalan di Indonesia.

Dalam kesempatan webinar yang telah disebutkan sebelumnya, Menko Airlangga menjelaskan, bahwa Selama ini Indonesia lebih sering mengeskpor emas, lalu mengimpor kembali dalam bentuk perhiasan.

“Kalau ditangkap ini (hasil produksi emas) dengan bullion bank, tidak perlu dikirim ke Singapura, karena kebanyakan sekarang dikirim ke Singapura, dari Singapura masuk lagi ke Indonesia. Sehingga hampir seluruh industri perhiasan itu adalah cost-nya hanya tolling fee karena tentu kaitannya dengan insentif fiskal dengan PPN," ujar Airlangga.

Adapun salah satu negara yang menjadi destinasi wara-wiri pengolahan emas di Indonesia adalah Singapura. Sehingga jika nantinya bank emas benar dimiliki, maka keberadaannya akan menguntungkan industri emas Indonesia.

Nantinya, keberadaan bank emas di RI tidak hanya menerima simpanan logam mulia saja, melainkan juga layanan berupa peminjaman dan investasi logam mulia.

Akhirnya, Indonesia Kuasai Saham Freeport

Masih dikaji

Lebih dari enam bulan belalu sejak rencana tersebut disuarakan, tentu kelanjutan dari fasilitas ini tetap dinanti. Apalagi jika meningat tahun 2022 tinggal tersisa empat bulan lagi.

Apalagi, pemerintah sendiri sudah melakukan beberapa pembenahan kelola bisnis yang disebut sebagai upaya untuk mendukung pembentukan bank emas. Salah satunya dengan mengambil langkah merger antara PT Pegadaian, PNM, dan BRI menjadi holding ultra mikro.

Tapi di lain sisi, rencana kehadiran bank emas rupanya juga masih dikaji oleh pihak Otoritas Jasa keuangan (OJK), yang menjadi bagian dari working group pembentukan bank emas itu sendiri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Sekar Putih Djarot, selaku Juru Bicara OJK belum lama ini.

"OJK juga saat ini terus mengkaji pendirian bullion bank. Tentu dari sudut pandang dan kepentingan regulator memberikan masukan kepada working grup yang juga terdapat lembaga terkait lainnya untuk dibahas bersama," ujarnya, Kamis (25/8), mengutip Kontan.

Leih detail, disebutkan bahwa kajian yang dimaksud mencakup aspek kelayakan usaha, potensi bisnis dan kontribusinya pada perekonomian.

7 Pulau dengan Cadangan Bijih Emas Terbesar di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini