Mangongkal Holi: Tradisi Memindahkan Tulang Belulang Leluhur Batak

Mangongkal Holi: Tradisi Memindahkan Tulang Belulang Leluhur Batak
info gambar utama

Mangongkal holi adalah sebuah tradisi membongkar kembali tulang belulang dan menempatkannya kembali ke suatu tempat, tepatnya di sebuah tugu. Tradisi ini adalah salah satu kebudayaan masyarakat Batak Toba yang ada hingga saat ini.

Bentuk dari Mangongkal Holi adalah upacara. Tidak ada catatan yang pasti mengenai awal mula upacara Mangongkal Holi ini. Akan tetapi, secara tradisi dikatakan bahwa upacara ini akan ada jika arwah datang kepada salah satu anggota keluarga.

“...baik lewat mimpi ataupun penglihatan, lalu memohon untuk memindahkan tulang belulangnya ke tempat yang lebih layak,” tulis dalam laman Wikipedia.

Dalam proses Mangongkal Holi, jasad para leluhur yang terkubur di dalam bangunan makam akan dikeluarkan. Ini memerlukan persetujuan dari orang-orang yang dituakan dalam keluarga.

Tembang Cinta Kala Martandang: Tradisi PDKT bagi Para Pemuda Batak

Setelah mendapatkan persetujuan, barulah jasad itu dibawa pulang ke rumah untuk dibersihkan, tentu dengan proses ritual adat. Dalam proses ini pihak keluarga dari garis keturunan perempuan memiliki hak untuk membersihkan tulang belulang leluhur mereka.

Tulang belulang leluhur yang sudah puluhan tahun tertanam di dalam tanah dicuci dengan air jeruk. Agar tampak bersih tulang-tulang yang sudah puluhan tahun tertanam dalam tanah dicuci dengan air jeruk dan kemudian dilumuri air kunyit.

Setelah dikeringkan, baru tulang-tulang leluhur mereka kembali dimasukkan ke dalam peti. Diikuti dengan sebuah prosesi adat, peti-peti itu diletakkan di hadapan keluarga untuk didoakan kembali dan setelahnya dimasukan ke dalam makam baru.

Biaya sangat mahal

Tujuan utama dari diselenggarakan Tradisi Mangongkal Holi adalah untuk menyatukan jasad seseorang dengan kerabat keluarga yang dicintainya. Hal ini akan sangat terasa bagi seseorang yang meninggal dan dikubur di tempat yang jauh dari sanak keluarganya.

Karena itu masyarakat percaya perlu ada penyatuan agar jasad berada di satu tempat dengan jasad keluarganya. Apalagi bagi mereka yang suami istri. Masyarakat Batak memiliki keyakinan bahwa jasad mereka harus disatukan dalam tempat yang sama.

Dimuat Merdeka, selain memiliki nilai religius, Mangongkal Holi juga bagian dari upaya menjaga silsilah keluarga. Dengan berada di satu tempat, generasi selanjutnya akan lebih mudah mengetahui siapa-siapa saja nenek moyang atau generasi di atasnya.

Apalagi tradisi ini merupakan simbol tingginya martabat dari sebuah keluarga di Batak. Mangongkal Holi dipercaya akan mengangkat martabat sebuah marga dengan menghormati kedua orang tua dan para leluhur.

Kain Warisan Peradaban Batak Raih Penghargaan Internasional

Semakin indah dan mahal sebuah makam atau tugu, maka semakin jelas dan bergengsi status marga pemilik tugu tersebut. Melalui tradisi ini orang Batak berharap limpahan berkat yakni berupa keturunan, panjang umur, dan kekayaan.

Karena itulah, tradisi bukan bukanlah kegiatan sembarangan. Mangongkal Holi adalah tradisi dengan biaya yang sangat banyak. Hal ini karena tradisi Mangongkal Holo dilakukan sesuai dengan adat Batak.

Marga yang menggelar Mangongkal Holi harus menjamu seluruh keluarga besar dan tetangga kampung yang ada. Bahkan dalam pelaksanaan upacara ini biasanya dihidangkan daging kerbau.

Selain itu, dalam pelaksanaan upacara ini juga dibutuhkan hewan yang akan dikurbankan. Tidak jarang masyarakat menggunakan kuda sebagai hewan yang dikurbankan. Dalam upacara ini juga harus disediakan kain ulos sebagai harapan agar selalu mendapat berkah.

Ajang silaturahmi

Pada tradisi ini terdapat berbagai nilai luhur yang terkandung. Salah satunya adalah sebagai bukti penghormatan terhadap orang tua atau generasi terdahulu. Dalam Suku Batak, ada keyakinan bahwa seseorang yang sudah meninggal akan hidup abadi.

Hal ini bisa dicapai dengan menaruh tulang belulangnya ke tempat yang lebih layak tinggi. yang berarti mendekatkan arwah itu kepada sang pencipta. Tradisi ini juga dilakukan bersama keluarga sebagai simbol eratnya silaturahmi.

Menengok Lapo Tuak, Tempat Orang Batak Bercakap dan Menghibur Diri

Tradisi ini memang bertujuan untuk mengeratkan tali kekerabatan di antara keluarga atau marga. Hal ini tercermin ketika keluarga menari tor-tor bersama serta saling memberikan salam dan memegang pipi.

Selama menari tor tor ini, biasanya ada yang menyawer di atas piring yang diisi beras sebagai bentuk dukungan materiil untuk pesta adat besar yang sedang dilaksanakan. Hal ini sebagai upaya membantu sanak keluarga agar acara berlangsung lancar.

Upacara Mangongkal Holi pun menjadi wadah untuk membahagiakan orang tua serta tempat berkumpul semua generasi marga, sehingga memungkinkan untuk saling mengenal satu sama lain, mengenalkan silsilah keluarga besar, sarana edukasi adat dan sebagainya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini