Stasiun Lempuyangan, Stasiun Penuh Sejarah di Yogyakarta

Stasiun Lempuyangan, Stasiun Penuh Sejarah di Yogyakarta
info gambar utama

Hampir setiap hari, Stasiun Lempuyangan selalu ramai. Sejarah Stasiun Lempuyangan juga mencatat bahwa stasiun tersebut punya kisah panjang dalam menjadi bagian dari layanan kereta api, khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Bicara tentang stasiun kereta api di Daerah Isitimewa Yogyakarta (DIY), hal yang pertama kali terlintas di kepala mungkin adalah Stasiun Tugu Yogyakarta. Stasiun itulah yang sering tampil sebagai ikon perkeretaapian di DIY.

Wajar, memang. Dengan bangunannya yang estetik dan letaknya yang sangat strategis membuat Stasiun Tugu bisa dianggap sebagai wajah perkeretaapian Yogyakarta. Namun jangan lupa, ada lagi stasiun besar lain di kota gudeg, namamya Stasiun Lempuyangan.

Seperti Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan juga terletak di wilayah administrasi Kota Yogyakarta. Lokasi keduanya pun terbilang berdekatan. Jarak antarkedua stasiun hanya sekitar 1,5 kilometer.

Pamor Stasiun Lempuyangan bisa dibilang kurang mentereng dibandingkan Stasiun Tugu. Namun keberadaannya tak kalah penting dibandingkan “saudaranya” itu. Stasiun Lempuyangan bahkan sudah memainkan peran penting sejak zaman baheula. Stasiun berketinggian 114 meter di atas permukaan laut itu punya riwayat panjang sebagai penopang kehidupan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Menariknya lagi, Stasiun Lempuyangan ternyata sudah ada lebih dulu dari Stasiun Tugu. Bisa dibilang, Stasiun Lempuyangan adalah salah satu stasiun kereta api tertua di Indonesia.

Meriahkan 17 Agustus, Lokomotif Listrik Zaman Kolonial Belanda Hidup Kembali

Sejarah Stasiun Lempuyangan

Bagaimana Stasiun Lempuyangan bisa berdiri di tempat sekarang? Jawabannya adalah proyek pembangunan rel kereta api yang dimulai di Kemijen, Semarang, pada era 1800-an. Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta, saat itu Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun rel dengan rute Semarang-Vorstenlanden ( wilayah Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) dan Semarang-Ambarawa sepanjang 202,1 kilometer.

Proyek pembangunan rel dijalankan untuk mendukung kegiatan ekonomi di sektor kehutanan dan perkebunan yang saat itu sedang kencang-kencangnya. Vorstelanden dulu dikenal sebagai daerah penghasil aneka komoditas mulai dari kayu, tembakau, kopi, hingga gula yang diekspor ke Eropa. Dari Vorstenlanden, komoditas perdagangan tersebut harus dibawa ke Semarang untuk selanjutnya dikirim ke Eropa menggunakan kapal laut.

Untuk itulah, pemerintah membangun rel lengkap dengan berbagai fasilitas perkeretaapian lainnya termasuk stasiun. Berhubung rel rute Semarang-Vorstenlanden melewati Yogyakarta, maka dibangunlah Stasiun Lempuyangan oleh perusahaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (NISM) pada 2 Maret 1872.

Stasiun Lempuyangan mulai beroperasi sejak 10 Juni 1872. Sejak itu pula Stasiun Lempuyangan diandalkan sebagai sentra pengangkutan gula dan penumpang di rute Semarang-Vorstenlanden.

Fasilitas yang ada di stasiun ini di antaranya gudang penyimpanan barang dan bensin, kantor, hingga tempat mengatur persinyalan. Selain itu, ada pula perumahan pegawai NISM. Perlu diketahui, NISM membedakan perumahan pegawainya dari kalangan orang Eropa dan bumiputra.

Setelah masa kolonialisme Belanda berakhir dan berganti dengan masa penjajahan Jepang hingga Indonesia merdeka, Stasiun Lempuyangan tetap setia melayani. Penguasa boleh silih berganti, namun Stasiun Lempuyangan dengan layanannya masih terus aktif menggerakan ekonomi hingga saat ini.

Stasiun Lempuyangan saat ini dikenal sebagai tempat pemberhentian kereta kelas ekonomi yang melintasi Yogyakarta. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat bahwa Stasiun Lempuyangan sudah sejak dulu menjadi tempat pelayanan kereta ekonomi sebelum adanya kebijakan pemisahan stasiun untuk kereta ekonomi dan nonekonomi.

Kendati dikenal sebagai sentra layanan kereta penumpang kelas ekonomi, Stasiun Lempuyangan juga punya fungsi penting dalam angkutan barang. Dalam Logistik Perkotaan di Indonesia, Kuncoro Harto Widodo, dkk. yang mengutip dokumen tata transportasi wilayah DIY menulis bahwa Stasiun Lempuyangan memiliki fasilitas pergudangan. Ini membuat Stasiun Lempuyangan tidak hanya ramai oleh arus lalu lintas manusia, namun juga barang. Tidak heran ada banyak kendaraan barang yang datang dan pergi ke Stasiun Lempuyangan setiap harinya.

Karena sejarah panjang yang dimilikinya, Stasiun Lempuyangan saat ini berstatus cagar budaya dengan landasan hukum SK Gubernur No. 120/KEP/2010 , Permenbudpar RI No. PM.89/PW.007/MKP/2011, dan Perda DIY No 188 Tahun 2014. Artinya, bangunan Stasiun Lempuyangan tidak boleh diubah atau dibongkar menjadi bangunan berarsitektur lain.

Beberapa kali Stasiun Lempuyangan mengalami renovasi dan pembenahan, mulai dari perbaikan peron hingga penataan arus keluar-masuk penumpang. Pada 2021 juga ada perubahan drastis di mana Stasiun Lempuyangan menjadi pemberhentian Kereta Rel Listrik (KRL). Namun karena statusnya sebagai cagar budaya, bentuk bangunan asli stasiun tetap dipertahankan dan masih bisa dinikmati di masa depan.

Mengenal 8 Terowongan Kereta Api Terpanjang di Indonesia

Menjadi Stasiun KRL

Cukup lama Stasiun Lempuyangan sibuk melayani kereta ekonomi sebelum perubahan yang cukup besar terjdi beberapa tahun silam: Pemerintah menghadirkan KRL rute Yogyakarta-Solo. Untuk itu, seluruh stasiun di rute tersebut pun berbenah, tak terkecuali Stasiun Lempuyangan.

Rel yang melintasi Stasiun Lempuyangan dielektrifikasi agar KRL bisa melaju di atasnya. Alat-alat pendukung seperti mesin tiket khusus juga dipasang demi mendukung terwujudnya KRL Yogyakarta-Solo. Akhirnya sejarah baru pun tercipta, Stasiun Lempuyangan melayani perjalanan KRL yang sebelumnya baru ada di wilayah Jabodetabek.

KRL Yogyakarta-Solo diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 1 Maret 2021. Acara peresmian tidak dilaksanakan di Stasiun Lempuyangan, melainkan di Stasiun Tugu. Namun, dalam acara tersebut presiden turut mencoba langsung perjalanan KRL dari Stasiun Tugu hingga Stasiun Klaten yang tentunya melewati Stasiun Lempuyangan.

“KRL ini adalah sebuah transportasi massal yang ramah lingkungan, dengan waktu tempuh yang lebih cepat dan dari sisi biaya operasi lebih murah dibandingkan KRD Prameks. Ini sebuah efisiensi yang bagus sekali. Saya berharap ini bisa membantu mobilisasi masyarakat di Jogja-Solo dan bisa meningkatan pariwisata dan ekonomi kita,” ujar Jokowi seperti dikutip laman resmi Kemenhub.

Dampak langsung yang jelas terlihat dari dijadikannya Stasiun Lempuyangan sebagai pemberhentian KRL sudah tentu arus lalu lintas kereta dan penumpang yang semakin ramai. Meskipun sesibuk KRL Jabodetabek, namun jelas frekuensi kedatangan dan keberangkatan kereta mengalami peningkatan.

Sebelum adanya KRL, sebetulnya Stasiun Lempuyangan sudah melayani kereta komuter Yogyakarta-Solo bernama Prambanan Ekspres alias Prameks. Namun, frekuensi perjalanan Prameks tentu tidak sebanyak KRL.

Ke depannya, Stasiun Lempuyangan kemungkinan besar akan bertambah ramai dan sibuk. Ini tidak lepas dari terus berekspansinya KRL Yogyakarta-Solo. PT KAI tampak selalu berusaha memperpanjang jangkauan KRL hingga jaraknya semakin jauh yang mana nantinya sangat terbuka kemungkinan jumlah kereta yang dioperasikan juga bertambah banyak.

Tahun ini saja, PT KAI memperpanjang layanan KRL hingga mencapai Stasiun Palur, Karanganyar. Dalam keterangan di laman resmi PT KAI, uji coba layanan KRL hingga Stasiun Palur telah dilakukan pada 17 Agustus lalu. Dengan demikian, bersiaplah melihat semakin banyak kereta yang berlalulalang di Stasiun Lempuyangan.

Transformasi Tiket Kereta di Indonesia dari Masa ke Masa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini