Misteri Pesugihan Gaib di Balik Pesona Keindahan Gunung Kawi

Misteri Pesugihan Gaib di Balik Pesona Keindahan Gunung Kawi
info gambar utama

Gunung Kawi dikenal sebagai objek wisata yang indah. Namun, ada pula kisah tentang misteri pesugihan Gunung Kawi yang konon biasa dilakukan oleh sebagian pengunjungnya.

Jawa Timur menawarkan sensasi wisata yang luar biasa bagi siapapun yang datang ke sana, terutama daerah bagian tengah dan selatan. Alamnya yang sejuk dan tenang membuat daerah tersebut menjadi tujuan para wisatawan baik itu dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu objek wisata yang cukup terkenal di sana adalah Gunung Kawi. Gunung Kawi terletak di antara Kabupaten Malang dan Blitar. Secara administratif, sebelah barat gunung berada di Blitar, sementara bagian timurnya masuk daerah Malang.

Gunung Kawi sejatinya bukan tempat wisata biasa karena ada pula kisah mistis di baliknya. Gunung Kawi kerap disebut sebagai tempat orang-orang biasa melakukan pesugihan.

Pesugihan Gunung Kawi diyakini bisa mendatangkan kekayaan bagi orang yang melakukannya. Meskipun tentunya klaim ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun kisah tentang pesugihan Gunung Kawi sudah kadung beredar di masyarakat.

Menjelajahi Pesona Objek Wisata di Kaki Gunung Semeru

Mitos Pesugihan Gunung Kawi

Ada kepercayaan bahwa Gunung Kawi memang mendatangkan rejeki melalui ritual-ritual tertentu. Prasto Wardoyo, Anang Made Mahmudi, dan Khoirul Anam dalam Gunung Kawi: Fakta & Mitos menulis bahwa kepercayaan tersebut menyebut jika seseorang melakukan ritual dengan rasa kepasarahan dan pengharapan yang tinggi, maka permintaannya akan terkabul terutama jika menyangkut kekayaan.

Mitos inilah yang dipegang banyak orang. Salah satu tempat di Gunung Kawi yang kerap dijadikan lokasi ritual adalah Pesarean.

Pesarean Gunung Kawi merupakan area pemakaman yang dikeramatkan. Makam ini adalah tempat Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Imam Soedjono dimakamkan.

Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Malang di laman resminya, Kyai Zakaria II yang juga dikenal sebagai Mbah Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono adalah tokoh bangsawan yang berperan dalam usaha melawan penjajah Belanda. Keduanya berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro.

Kyai Zakaria dan Raden Mas Imam Soedjono juga merupakan keturunan Kesultanan Mataram. Mbah Djoego adalah buyut dari Susuhanan Pakubuwono yang memimpin Kraton Kertosuro pada 1705-1717. Lalu RM Imam Soedjono adalah buyut dari Sultan Hamengku Buwono I sang pendiri Kraton Jogjakarta sekaligus pemimpinnya pada 1755-1892.

Karena keberadannya yang dikeramatkan, orang yang mendatangi Pasarean Gunung Kawi tidak boleh bertindak sembarangan harus menaati sejumlah aturan. Prasto Wardoyo, Anang Made Mahmudi, dan Khoirul Anam lebih lanjut menjelaskan jika pengunjung harus mandi dan keramas sebelum memulai ritual doa di makam.

Ada filosofi di balik aturan tersebut. Mandi dan keramas adalah simbol kesucian. Kewajiban untuk melakukan keduanya adalah simbol bahwa seseorang harus dalam keadaan suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Orang yang melakukan ritual di Pesaeran Gunung Kawi lazimnya membawa uang atau sesaji untuk dibagikan kepada orang lain yang ada di sana. Tindakan ini bermakna berkah akan datang jika seseorang membagi hartanya kepada sesama manusia.

Seperti dicatat Vivanews.com. ritual pesugihan Gunung Kawi disebut terdiri dari tapabrata atau upaya mengendalikan keinginan dan hawa nafsu selama tiga hari di bawah pohon keramat. Dalam ritual ini, pelaku pesugihan harus membuat kontrak dengan penguasa gaib Gunung Kawi dan memberikan tumbal setiap tahunnya.

Pemberian tumbal ini terbilang mengerikan. Sebab, tumbal dari pelaku pesugihan adalah orang yang masih memiliki hubungan darah dengannya. Setelah ritual dilakukan dan tumbal diberikan, menurut mitos yang beredar makan daun pohon dewandari akan jatuh dan daun tersebut harus disimpan pelaku pesugihan. Daun itulah yang dipercaya bisa memberikan uang gaib.

Bukan Hanya Pesugihan

Gunung Kawi bukan hanya soal ritual atau pesugihan. Tidak semua orang yang datang ke Pasaeran Gunung Kawi bertujuan untuk melakukan ritual. Ada pula pengunjung yang datang untuk melakukan penelitian maupun sekadar berwisata karena tempat ini juga cocok menjadi tujuan rekreasi bagi semua kalangan, termasuk bersama keluarga.

Hal menarik lain adalah akulturasi budaya Jawa dan Tonghoa yang ada di Pasaeran Gunung Kawi. Banyak bangunan di Pesaeran Gunung Kawi berdiri dengan gaya arsitektur Tionghoa. Namun di sisi lain, para pelayan yang bekerja biasa menggunakan pakaian adat Jawa.

Di Pesarean Gunung Kawi, terlepas dari citranya yang melekat sebagai tempat pesugihan, adalah desa wisata yang menawarkan wisata religi, budaya, dan keindahan arsitektur. Ada juga kuliner nikmat yang siap menemani para pengunjung.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat Pesarean Gunung Kawi sebagai desa wisata yang masuk dalam kategori berkembang. Di laman resminya, Kemenparekraf memberi informasi mengenai fasilitas, atraksi, hingga makanan yang tersedia di sana dan bisa dinikmati pengunjung.

Untuk wisata religi, Gunung Kawi punya objek wisata masjid berasitektur Demak yang dikunjungi umat Islam. Selain itu, ada Vihara Dewi Kwan Im Kraton Gunung Kawi dan Klenteng yang juga ramai.

Aneka pagelaran seni juga siap menyajikan kebolehannya di hadapan pengunjung. Untuk seni tari, di Pesaeran Gunung Kawi ada berbagai tarian mulai tradisional maupun kontemporer yang bisa disaksikan. Jika ingin menyaksikan pertunjukan wayang kulit, ada tempat khususnya di Gedung Sasana Ringgit.

Bagi masyarakat Gunung Kawi, wayang kulit bukanlah sekadar pagelaran seni, melainkan ada makna filosofis di baliknya.

Ini sebagaimana dijelaskan oleh Bupati Malang M. Sanusi di tengah persiapan pagelaran wayang kulit dalam rangka Khoul Eyang Raden Mas Imam Soedjono. Menurut M. Sanusi, pagelaran wayang kulit adalah sarana manusia untuk senantiasa mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, maka manusia akan senantiasa berupaya melakukan amal kebaikan untuk mendapatkan bekal di akherat.

Pemerintah sadar betul akan potensi yang dimiliki Gunung Kawi sebagai tujuan wisata. Tidak hanya pemerintah pusat melalui Kemenparekraf, pemerintah daerah pun tidak ketinggalan berupaya menjadikan Gunung Kawi sebagai salah satu penopang pariwisata.

“Kawasan Gunung Kawi selama ini telah dikenal sebagai destinasi wisata rohani yang dikenal bukan hanya pada skala regional, melainkan juga pada tingkat nasional dan internasional. Akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Kecamatan Wonosari maupun Kabupaten Malang jika potensi ini dapat kita maksimalkan bersama,” kata M. Sanusi seperti dilansir Medcom.id.

Gunung Semeru, Tempat Bersemayam Para Dewa yang Jadi Paku Tanah Jawa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini