Ngerinya Tarung Sarung Orang Bugis - Makassar: Tradisi Berdarah Pertahankan Harga Diri

Ngerinya Tarung Sarung Orang Bugis - Makassar: Tradisi Berdarah Pertahankan Harga Diri
info gambar utama

Orang Bugis dan Makassar adalah orang yang identik dengan nilai-nilai Siri’ na Pacce/Pesse, yakni dorongan menjunjung tinggi rasa malu dan harga diri. Apabila sesuatu telah menyangkut kehormatan diri, maka nyawa pun tak ada arti.

Salah satu tradisi dalam masyarakat Bugis dan Makassar yang erat kaitannya dengan upaya menjaga Siri’ adalah Sigajang laleng lipa’ yakni baku tikam dalam sarung. Tradisi ini telah eksis sejak ratusan tahun lalu.

Berikut beberapa hal menarik yang perlu kamu ketahui tentang tradisi baku tikam ini.

Pertama, Tarung Sarung adalah Mekanisme Penyelesaian Masalah orang Bugis-Makassar

Tradisi Sigajang Laleng Lipa (bugis), Sitobo’ Lalang Lipa’ (Makassar) adalah cara yang digunakan masyarakat Bugis dan Makassar dalam menyelesaikan masalah.

Ketika ada pertikaian antara dua pihak dan keduanya menemui jalan buntu untuk berdamai, maka jalan terakhir adalah dengan cara bertarung.

Masalah yang ada biasanya berkaitan langsung dengan rasa malu (siri’) dan harga diri (pacce), seperti penghinaan, perselingkuhan, atau konflik antar keluarga yang berkepanjangan.

Gambarannya adalah saling tikam menggunakan badik dalam satu sarung yang dilakukan dua pria hingga keduanya sama-sama mati atau sama-sama hidup, atau salah satunya mati. Menariknya sangat jarang dalam ritual ini ada pihak yang mati atau hidup sendirian.

Sebelum duel dilakukan, kesepakatan dibangun antar kedua belah pihak bahwa apabila salah satunya meninggal, maka pihak satunya tidak boleh menuntut atau dikenakan sanksi apapun.

Kedua, Tarung Sarung adalah Bentuk Pembelaan Rasa Malu dan Pemulihan Harga Diri (Siri' na Pacce)

Ada filosofi hidup orang Bugis yang menyangkut kehormatan diri yakni “narekko siri kuh mo'lejja-lejja, copponna mih kawalie ma'bicara”, yang artinya “jika kamu menginjak injak rasa malu saya, maka ujung badik yang bertindak.”

Terang dan tegas tercermin dalam prinsip tersebut. Tatkala menyangkut rasa malu dan harga diri seseorang yang disinggung, maka darah dan nyawapun adalah harga yang mesti dibayar.

Mengutip Buku Sosiologi Bugis Makassar (2020) bahwa “Siri‟ sendiri merupakan sebuah konsep kesadaran hukum dan falsafah dalam masyarakat Bugis-Makassar yang dianggap sakral.

Begitu sakralnya nilai itu, sehingga apabila seseorang kehilangan “Siri'”nya atau de'ni gaga siri'na (tidak ada lagi rasa malunya), maka tak ada lagi artinya dia menempuh kehidupan sebagai manusia.

Bahkan orang Bugis-Makassar menganggap kalau mereka itu “sirupai olo’ kolo’e” (seperti binatang). Petuah Bugis berkata : “Siri’mi Narituo” (karena malu kita hidup).

Bagi orang Bugis-Makassar, tidak ada tujuan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’-nya, dan kalau mereka dipermalukan (Nipakasiri’/Ripakasiri’), mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’-nya dari pada hidup tanpa Siri’.

Maka tatkala Sigajang Laleng Lipa' sudah diucap dan kedua pihak telah bersepakat, maka tak ada kata mundur. Pantang bagi seorang yang mengalir darah Bugis-Makassar di nadinya menarik ucapannya kembali.

Sebagaimana petuah Bugis yang berbunyi;

Sadda mappabati’ ada, Ada mappabati’ gau, Gau mappabati' tau

(Bunyi mewujudkan kata dan ucapan, ucapan menandakan kelakuan, dan kelakuan menunjukkan manusia).

Ketiga, Pengabadian Tradisi Tarung Sarung melalui Budaya Populer

Kini tradisi Sigajang laleng lipa' nyaris tak lagi ditemukan di tengah masyarakat Bugis-Makassar tatkala mereka diperhadapkan dengan kebuntuan menyelesaikan sebuah masalah.

Sebagai upaya merawat tradisi, maka tradisi ini lebih banyak dipertunjukkan melalui seni kreatif alih-alih duel berdarah yang sesungguhnya. Di tangan sutradara Archie Hekagery misalnya, tradisi ini digubah melalui film "Tarung Sarung" yang rilis pada akhir 2020 lalu.

Kemudian dalam berbagai kesempatan, pertunjukkan tarung sarung juga dipentaskan bersamaan dengan cabang kesenian lainnya seperti pementasan tari, drama ataupun ritual bakar diri menggunakan obor.

Biasanya pementasan duel baku tikam ini akan diawali dengan aksi bakar diri oleh penari dengan menggunakan obor. Lalu dilanjutkan dengan pemberian mantra oleh seorang Bissu (gender ke-5 dalam budaya Bugis) pada peserta agar terhindar dari cedera dan lepas kendali.

Bagaimana? menarik bukan?. Jika ingin melihat ilustrasi duel tarung sarung ini, kalian dapat menonton filmnya di situs film kesayangan kalian.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini