Karbon dan Ekonomi Biru dalam Upaya Keberlanjutan Lingkungan, Apa Bedanya?

Karbon dan Ekonomi Biru dalam Upaya Keberlanjutan Lingkungan, Apa Bedanya?
info gambar utama

Indonesia punya sederet strategi dan peta jalan dalam mengupayakan pemulihan sekaligus pelestarian lingkungan. Mulai dari program pengembangan bahan bakar alternatif, ekonomi hijau, investasi hijau, dan sejenisnya. Namun di samping itu, ada juga program serupa yang dinamakan ekonomi biru dan karbon biru.

Kurang familiar, selama ini istilah yang cukup sering didengar adalah ekonomi hijau atau karbon hijau. Lalu, apa yang dimaksud dengan ekonomi dan karbon biru?

Pulau Maratua, Surga Wisata Kalimantan Timur yang Masuk Program Ekonomi Biru

Tentang ekonomi dan karbon biru

Nelayan, peran penting dalam ekonomi biru | Nurul46/Shutterstock
info gambar

Mengutip penjelasan Bank Dunia, ekonomi biru merupakan bentuk pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencarian sekaligus pelestarian ekosistem laut.

Sedangkan menurut penjelasan Kementerian Kelautan dan Perikanan, prinsip ekonomi biru pada dasarnya berupaya untuk mewujudkan keseimbangan antara dua aspek yang terkait dalam ekosistem kelautan yaitu ekologi dan ekonomi.

Sehingga, ekonomi biru tidak hanya semata-mata melihat potensi kelautan sebagai komoditas ekonomi. Tetapi juga sangat menekankan kepada pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup di dalam ekosistem bahari.

Tentu, untuk mewujudkan capaian terhadap dua aspek di atas, dibutuhkan program serius dengan perwujudan dan nyata dan seimbang. Dari segi ekologi, beberapa upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan berbagai gerakan nasional.

Mulai dari mengurangi sampah laut, serta memulihkan dan melestarikan hutan bakau serta ekosistem laut lainnya. Sementara itu dari segi ekonomi, beberapa gerakan yang tercatat sudah dan masih dilakukan hingga saat ini adalah meningkatkan kesejehateraan masyarakat di sekitar ekosistem laut, lewat program pembekalan dan pelatihan potensi.

Tak lupa ada juga yang dinamakan istilah karbon biru. Lebih spesifik sebagai upaya pencegahan krisis iklim, karbon biru adalah program dan strategi yang dilakukan dengan tujuan meminimalisir risiko-risiko kerusakan lingkungan.

Dengan kata lain, karbon biru adalah jenis karbon yang diserap dan disimpan oleh laut dan ekosistem pesisir seperti lamun dan bakau.

Strategi Mitigasi Perubahan Iklim, Indonesia Siapkan Karbon Biru

Potensi ekonomi dan karbon biru di Indonesia

Pulau Maratua, salah satu lokasi pengembangan ekonomi biru di Indonesia | Kaltimprov.go.id
info gambar

Sudah umum diketahui jika Indonesia menjadi negara dengan peranan penting dalam agenda karbon biru. Hal tersebut lantaran negara ini memimpin dalam hal luasan ekosistem bakau terluas di dunia, yaitu sebesar 3.364.080 hektare pada tahun 2021.

Bukan hanya itu, potensi luasan ekosistem lamun Indonesia juga terluas kedua di dunia setelah Australia, yaitu sebesar 832.000-1.800.000 hektare.

Sehingga dapat disimpulkan, jika ekonomi biru memiliki konsep dan pemahaman yang sama seperti ekonomi hijau. Di mana jika ekonomi hijau fokus pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan diiringi dengan penurunan risiko kerusakan lingkungan di darat atau area hijau. Lain halnya dengan ekonomi biru yang lebih difokuskan pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di sektor kelautan.

Lalu apakah ada wilayah di Indonesia yang saat ini sudah menjadi target atau contoh dari pembangunan program ekonomi biru? Tentu ada, salah satunya adalah wilayah Pulau Maratua, di Kalimantan Timur.

Dalam praktiknya, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Seysheles, Afrika, untuk menggarap pengembangan kawasan ekonomi biru. Nantinya, program yang dibangun akan mencakup pengelolaan wilayah pesisir, perikanan berkelanjutan, dan kawasan konservasi laut.

Karbon Biru Indonesia Ternyata Memiliki Peran Penting Dalam Pengendalian Perubahan Iklim

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini