Kenapa Uang Panai' dalam Pernikahan Bugis-Makassar Sangat Tinggi ?

Kenapa Uang Panai' dalam Pernikahan Bugis-Makassar Sangat Tinggi ?
info gambar utama

Uang Panai’ adalah uang yang menjadi prasyarat pernikahan dalam adat Bugis - Makassar. Yang membuatnya menjadi buah bibir dewasa kini adalah nominalnya yang acapkali membuat kantong pria miskin seperti saya ketar-ketir.

Tradisi memberikan uang Panai’ oleh mempelai pria kepada mempelai wanita diyakini telah ada sejak dulu. Ia telah menjadi bagian dari urat nadi kebudayaan Bugis-Makassar yang terus dirayakan.

Kendati nominalnya sangat tinggi, ia memuat tafsiran-tafsiran filosofis yang terus menghidupkan tradisi ini, diantaranya;

Pertama, Uang Panai’ adalah Cerminan Keseriusan Pria

Uang Panai’ adalah ukuran keseriusan seorang pria tatkala ingin meminang tambatan hatinya. Nominalnya yang tinggi disinyalir menjadi motivasi tersendiri bagi seorang pria untuk bekerja keras mengumpulkannya.

Sebagaimana petuah Bugis berbunyi;

“Lapa nakulle’ taue’ mabbaina, narekko naulle’ni magguli-lingiwi dapurenge’ we’kka pitu”

(Apabila seseorang ingin beristeri, ia harus sanggup mengelilingi dapur tujuh kali).

Mengutip buku Sosiologi Bugis-Makassar (2020) bahwa dapur merupakan simbol utama kehidupan rumah tangga. Sedangkan tujuh kali merupakan padanan jumlah hari.

Maka, sebelum seorang pria ingin berumah tangga, ia harus memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab dalam menghidupi keluarganya setiap hari kelak.

Kedua, Uang Panai’ adalah Bentuk Penghargaan terhadap Perempuan

Uang Panai’ juga adalah bentuk penghargaan terhadap pihak (keluarga) perempuan. Dengan nominal tertentu yang tinggi, itu dianggap sebagai “balasan” pihak laki-laki terhadap keluarga perempuan yang telah membesarkan dan mendidik anak perempuannya.

Kendati kehormatan seorang perempuan tidak dapat dipadankan secara materi atau uang, namun dibalik uang Panai’ yang tinggi itu, ada nilai kesungguhan, kerja keras, dan komitmen bagi pihak laki-laki.

Maka harapannya kelak, Ia akan selalu teringat betapa sulitnya mendapatkan istrinya, sehingga kemungkinan untuk berpisah dikemudian hari dapat diminimalisir.

Ketiga, Uang PanaiTidaklahSama dengan Mahar

Ada beberapa istilah yang terkait dengan biaya pernikahan, yakni Sompa’ dan Dui’ Menre’ (Bugis) atau Doe’ Balanja (Makassar), dan inilah yang disebut sebagai uang Panai’.

Uang Panai’ adalah “Uang Hantaran” dengan nominal tertentu yang harus diserahkan dari pihak mempelai pria kepada pihak mempelai perempuan. Ini sifatnya wajib menurut hukum adat Bugis-Makassar.

Sedangkan Mahar adalah pemberian berupa emas, uang atau harta benda dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai syarat sahnya pernikahan menurut hukum Islam.

Jika uang Panai’ digunakan untuk membiayai semua kebutuhan resepsi pernikahan dan diberikan pada orangtua/wali istri, maka Mahar diberikan pada istri dan menjadi hak mutlak bagi dirinya sendiri.

Selain uang Panai’, pihak mempelai wanita juga akan mensyaratkan Sompa’ atau Sunrang, yakni harta tidak bergerak seperti rumah, sawah atau kebun. Berikut juga erang - erang, yakni aksesoris, pakaian, kosmetik dlsb.

Lantas Kenapa Uang Panai’ Begitu Tinggi ?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan standar uang Panai’ dipatok begitu tinggi. Mulai dari latar belakang keluarga, status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan hingga "konspirasi" para tante dari pihak mempelai perempuan.

Bagi kalian para pria yang ingin meminang gadis Bugis-Makassar, setidaknya ada 5 variabel utama yang dapat kalian pertimbangkan, yaitu diantaranya;

  1. Keturunan Darah Bangsawan: umumnya ditandai dengan gelar “Andi'” pada nama mempelai perempuan.
  2. Tingkat Pendidikan: Semakin tinggi status pendidikannya, misal Dokter atau S-2, semakin tinggi pula nominal uang Panai’-nya.
  3. Status Sosial-Ekonomi: Perempuan yang berasal dari keluarga mapan, misal dari keluarga pejabat atau pengusaha, sangat mempengaruhi nominal uang Panai’-nya.
  4. Pekerjaan: Status PNS tentu lebih tinggi nilainya ketimbang pegawai kontrak atau honorer.
  5. Paras: Biaya skin care selalu berbanding lurus dengan kecantikan, maka ini juga memainkan peranan penting dalam menentukan besaran harga uang panai’.

Dapat dibayangkan jika seorang gadis Bugis-Makassar memiliki seluruh variabel di atas, berparas cantik, bergelar “Andi'”, pendidikan dokter atau S-2, keluarga pejabat atau pengusaha, maka uang ratusan juta dan sebidang tanah adalah harga yang mesti dibayar.

Berdasarkan pengamatan penulis sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Daeng, berikut rincian kasar harga uang Panai' ;

  • Lulusan Kedokteran/ S-2 + Keluarga Pejabat/Pengusaha = 250 juta hingga Miliaran rupiah
  • Lulusan Sarjana + Keluarga Menengah + Pekerjaan tetap = 100 juta - 250 juta
  • Lulusan Sarjana + Keluarga Bawah + Pekerjaan tetap = 50 juta - 100 juta
  • Lulusan SMA ke bawah = 50 juta ke bawah

Nominal uang Panai' di atas tentunya dapat dinegosiasikan. Oleh karena itu, pada saat lamaran, utuslah seseorang negosiator handal agar uang Panai' yang disepakati "tidak memberatkan pria, tetapi juga tidak merendahkan pihak wanita"

Selain 5 variabel di atas, seringkali faktor lain berupa gengsi dan "konspirasi para tante" pihak perempuan juga ikut serta menentukan berapa angka uang Panai’ yang harus dirogoh oleh pihak mempelai pria.

Misal jika si Fulana punya sepupu perempuan yang telah menikah dan uang Panai’nya semisal 70 juta, maka si Fulana ini juga minimal dihargai 70 juta, pantang dibawahnya. Dan inilah harga gengsi sosial.

Uang Panai' telah menjadi bagian dari kekayaan budaya suku Bugis dan Makassar yang hingga saat ini terus hidup. Adapun sisi baik-buruknya tergantung pada bagaimana kita menafsirkannya.

Selamat Berjuang Saribattang!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Achmad Faizal lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Achmad Faizal.

Terima kasih telah membaca sampai di sini