Jali, Sumber Karbohidrat Alternatif yang Terlupakan

Jali, Sumber Karbohidrat Alternatif yang Terlupakan
info gambar utama

Dengan dianugerahi kekayaan alam flora dan tanah yang subur, Indonesia punya berbagai sumber makanan lokal yang kaya akan manfaat. Bila dikatakan bahwa kita berpotensi akan menghadapi krisis pangan, setidaknya diversifikasi pangan bisa jadi hal yang sangat membantu kita dengan banyaknya sumber pangan alternatif.

Diversifikasi pangan sendiri merupakan sebuah upaya untuk membuat masyarakat bisa mengonsumsi makanan pokok dengan tidak berpatok dari satu jenis makanan saja. Misal, kalau kita biasa memakan nasi, maka pada saat tertentu kita mencoba untuk memilih kentang, singkong, atau jagung sebagai makanan pokok.

Nah, salah satu pangan alternatif yang bisa jadi pilihan adalah jali.

Secara ilmiah, tanaman jali memiliki nama Coix lacryma-jobi. Layaknya nasi yang kita konsumsi sehari-hari, tanaman ini juga tergolong sebagai padi-padian atau serealia. Selain dikenal sebagai jali, tanaman ini juga kerap disebut sebagai jelai, hanjel, maupun enjelai.

Jali punya berbentuk seperti biji-bijian, hampir mirip dengan kacang tanah. Tanaman ini kerap dianggap keliru sebagai barli (Hordeum vulgare) atau jewawut (Setaria italica). Padahal, kedua tanaman tersebut adalah jenis yang berbeda, meskipun sama-sama tergolong sebagai serealia.

Cara mengolah jali sebagai makanan pokok pun mirip dengan nasi. Teksturnya juga sama-sama lembut, lengket, dan kenyal. Untuk rasanya pun juga serupa layaknya nasi dengan campuran sensasi rasa seperti kacang.

Jali ini juga tergolong sebagai tanaman yang ‘tahan banting’, sebab bisa bertahan pada suhu yang panas. Menurut Suyadi, peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul), tanaman ini sangat cocok sebagai pangan alternatif dalam menghadapi pemanasan global. Waktu panennya juga bisa mencapai 3 kali dalam setahun

“Padi hanya bisa bertahan di suhu 30 derajat, sementara tanaman jelai di suhu 40 derajat produksinya bisa semakin banyak,” katanya sebagaimana dikutip dariKorankaltim.com.

Banyak yang Belum Tahu, Ada Tanaman Bernama Garut yang Serbaguna dan Bernutrisi Luar Biasa

Jadi Pilihan oleh Suku Dayak dan Sempat Populer di Jakarta

Mengutip dari situs BPTP Kalimantan, oleh masyarakat pedalaman Kalimantan Timur, jali menjadi tanaman yang terus dibudidayakan secara turun temurun sebagai sumber makanan.

Tanaman ini bersanding dengan nasi sebagai makanan pokok. Bahkan, sendiri sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Timur. Misal, dalam upacara adat atau ketika melakukan gotong royong, jali tak ketinggalan hadir sebagai suguhan utama.

Selain terkenal di kalangan masyarakat Dayak, tanaman jali ini juga populer di berbagai wilayah di Indonesia, misalnya dalam masyarakat Betawi.

Kamu mungkin pernah mendengar lagu Jali-jali?

Kata ‘jali’ yang digunakan pada lagu ini merujuk pada tanaman jali. Dahulu, tanaman ini kerap tumbuh di rumah-rumah masyarakat Betawi dan kerap dimanfaatkan sebagai sumber pangan.

Satu peninggalan budaya berupa kuliner tersebut adalah bubur jali, makanan khas Betawi yang kini semakin langka. Biji jali juga kerap dibuat menjadi tasbih oleh masyarakat Betawi.

Sayangnya, sekarang keberadaan tanaman ini seakan sudah semakin terlupakan oleh masyarakat Jakarta.

Belajar Ketahanan Pangan dari Uma Lengge: Penyelamat dari Bencana Kelaparan

Lebih Sehat dan Tak Kalah Mengenyangkan

Jali yang sudah dimasak | @3princeformommy (Cookpad)
info gambar

Menurut Kementerian Pertanian, ada empat varietas jali yang ada di Indonesia, antara lain mayuen, agrotis, aquatic, dan palutris.

Sebagai perkiraan untuk kandungan nutrisinya, dalam 100 g jali mayuen memiliki 76.4% karbohidrat, 14.1% protein, 7.9% lemak, serta 54 mg kalsium.

Secara nutrisi, jali memberikan manfaat yang baik bagi tubuh. Kadar karbohidrat dari jali memang tergolong lebih sedikit dari nasi, namun untuk kandungan proteinnya lebih tinggi.

Oleh karena itu, jali sangat cocok sebagai sumber karbohidrat untuk orang yang mengalami diabetes atau sedang menjalankan program diet. Selain itu, jali juga tergolong sebagai tanaman obat dan superfood.

Sebagaimana tertulis dalam buku, Jelai (Coix lacryma-jobi L.) : Bahan Pangan Pokok Alternatif dan Fungsional karangan Suyadi, penelitian Global Medicine (2016) menunjukkan bila jali memberikan kepuasan mengenyangkan yang tinggi. Bahkan, lebih tinggi dari padi, kentang, maupun gandum.

Dalam skala 1-5, jali mendapatkan angka 3,0. Lalu, diikuti oleh padi (2,5), kentang (2,0), dan gandum (2,0).

Jadi, sebagai orang Indonesia yang masih banyak memegang prinsip ‘belum kenyang kalau belum makan nasi’, jali bisa jadi pilihan. Apalagi dengan kandungan gizi yang lebih baik untuk tubuh, tentunya makanan ini sangat cocok sebagai alternatif pangan di masa depan.

Mengenal 5 Tanaman Obat yang Banyak Diandalkan untuk Mencegah Penyakit Ginjal


Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini