Menguak Situs Watu Ombo: Petilasan Tribhuwana Tunggadewi di Mojokerto

Menguak Situs Watu Ombo: Petilasan Tribhuwana Tunggadewi di Mojokerto
info gambar utama

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya di daerah Trowulan sekitar tahun 1293 Masehi-1527 Masehi. Selama berdiri kurang lebih tiga abad, Majapahit telah mewariskan banyak bangunan bersejarah.

Salah satunya peninggalan Kerajaan Majapahit adalah Petilasan Tribhuwana Tunggadewi atau biasa disebut Watu Ombo. Petilasan ini terletak di tengah persawahan Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Diwartakan di Sinergi Papers, masyarakat menyebut petilasan ini dengan istilah napak tilas yaitu tempat pertapaan untuk bermeditasi. Seperti namanya dipercaya lokasi ini merupakan tempat bermeditasi raja ketiga Majapahit, Tribhuwana Tunggadewi.

Misteri Situs Mbah Gempur: Dijaga Dua Burung Puyuh hingga Dikunjungi Peziarah

Hal ini karena pada permukaan atas sisi barat yoni terdapat ukiran angka tahun menggunakan aksara Jawa. Sesuai angka tahun tersebut, Candi ini dibangun pada 1924 saka atau 1372 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

“Hipotesis kami candi ini dibangun pada masa Hayam Wuruk untuk pemujaan ke Tribhuwana Tunggadewi. Raja itu kan dihormati, walaupun sudah mati yang dihormati aura magisnya itu. Aura magisnya ditarik dengan peripih yang letaknya di sumuran candi itu,” jelas Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Pahidi yang dikutip dari Detik.

Tempat ini menjadi jujukan wisata religi dan sejarah sejak dibangun masyarakat tahun 1960-an. Selama puluhan tahun, beberapa batu umpak yoni saja yang tampak sebagai benda cagar budaya di situs tersebut.

Tiga tahap ekskavasi sejak 2018-2020 berhasil menemukan struktur di bawah bangunan modern. Ternyata yoni dan bangunan batu andesit yang selama terpendam adalah sebuah candi seluas 14x14 meter persegi.

Misteri di balik situs

Proses penggalian Situs Bhre Kahuripan dilakukan sejak 19 Agustus 2019 lalu dan berakhir pada 30 Agustus 2019. Selama 12 hari, BPCB melakukan ekskavasi pada sisi utara dan barat kawasan situs.

Pada proses penggalian, tim ekskavasi menemukan struktur pagar dari batu kuno, lantai dari batu andesit dan pecahan genteng. Selain itu juga ditemukan bongkahan batu andesit dengan warna yang berbeda.

Sementara di sisi barat, ditemukan struktur yang membentuk tangga. Namun benda-benda kuno yang ditemukan selama ekskavasi, tidak semuanya dalam kondisi utuh. Ada pula struktur tambahan yang kemungkinan dibangun pada abad 20-an.

Ironi Pencurian Bata Merah Candi di Situs Mbah Gempur Klaten

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Ismail Lutfi menyebut beberapa struktur yang ditemukan di situs Tribhuwana Tunggadewi belum menunjukkan bagaimana kondisi awal dari situs itu berdiri.

Dikatakannya bangunan masa lalu dari situs petilasan ini juga belum bisa dipastikan karena struktur dan benda-benda kuno yang ditemukan, sebagian besar merupakan sisa-sisa sehingga sulit digambarkan.

“Yang kami temukan tinggal sisa-sisa, kebetulan sekali kami menemukan batas bagian luar dari situs yang kami temukan sebelumnya,” ungkapnya yang dinukil dari Kompas.

Kemiripan pola bangunan

Meski belum bisa memprediksi bentuk bangunan, Ketua Ikatan Ahli Arkeolog Indonesia (IAAI) Jatim itu memprediksi ada kemiripan pola bangunan antara Situs Bhre Kahuripan di Mojokerto dengan Candi Penataran di Kabupaten Blitar.

Kemiripan pola tersebut, Luthfi menjelaskan bisa dilihat dengan penemuan satu struktur yang membentuk tangga. Struktur di sisi barat tersebut diperkirakan merupakan satu dari dua tangga untuk naik atau turun dari bangunan situs yang ditemukan lebih dulu.

Sementara itu, lanjutnya, di bagian barat itu memang ada tanda-tanda. Kemungkinan katanya untuk naik atau masuk ke bangunan tersebut, sehingga ada dua tangga naik ke atas, kanan-kiri.

Geger Penemuan Benda Cagar Budaya Ketika Proyek Pembangunan Jalan Tol

“Di selatan itu diduga ada satu lagi karena dari posisinya tidak persis di tengah dari bangunan yang ada,” katanya.

Bentuk bangunan dari petilasan ini ditemukan lebih awal, yakni berupa sebuah yoni atau bangunan yang berasal dari batu andesit. Benda purbakala dari batu ini berada di atas struktur bangunan.

Dari penampakan di lokasi situs, yoni dari batu andesit tersebut merupakan bangunan tertinggi daripada struktur di sekitarnya. Sementara itu, dari beberapa struktur yang baru ditemukan, posisi paling atas dari struktur lebih rendah dari yoni maupun bangunan lain.

“Di Jawa Timur, terutama di zaman Majapahit memang ada hal yang sama. Jadi polanya seperti Candi Penataran di Blitar atau Candi Jago di Malang. Polanya yang seperti Candi Penataran kalau bentuk bangunan belum bisa kita pastikan,” ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini