Pesona Tarian Kembang dari Mangkunegara yang Memikat Negeri Belanda

Pesona Tarian Kembang dari Mangkunegara yang Memikat Negeri Belanda
info gambar utama

Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal dengan panggilan Gusti Nurul sempat menjadi buah bibir pada masanya. Dirinya merupakan putri tunggal dari Kanjeng Adipati Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegara VII.

Dirinya terkenal dengan parasnya yang cantik, cerdas, serta mempunyai keteguhan dalam memegang prinsip. Karena itu, Ratu Belanda, Wilhelmina menjulukinya De Bloem van Mangkunegaran atau Kembang dari Mangkunegaran.

Kecantikan putri Solo ini bahkan mampu membuat beberapa tokoh nasional seperti Soekarno dan Sultan Hamengkubuwono IX terpikat. Tetapi lamaran beberapa tokoh untuk mempersuntingnya tidak diterimanya.

Kisah Putri Keraton Solo dan Hari Patah Hati Nasional Pertama

Gusti Nurul tidak hanya terlibat dalam kegiatan sosial, namun juga mempunyai bakat menari dan menonjol kegiatan olahraga. Dirinya mahir bermain tenis dan juga mengendarai kuda. Di sisi lain, Gusti Nurul juga turut berperan dalam pergolakan fisik pasca kemerdekaan.

Karena kepandaian dalam menari, sang ayah Mangkunegara VII pernah mengajak Gusti Nurul ke Belanda. Mangkunegara VII ingin putrinya menari di hadapan Ratu Wilhelmina dan anggota kabinet di Amsterdam, Belanda.

Keluarga Gusti Nurul berangkat dari Jawa ke Belanda dengan menaiki kapal Marnix selama satu bulan lebih. Mereka berangkat dari Batavia pada 11 November 1936, dan sampai di Den Haag, Belanda pada bulan Desember.

Menghibur penonton

Di atas kapal, Gusti Nurul menyempatkan untuk berlatih menari. Ketika tiba di Den Haag, Mangkunegara VII mengusulkan agar tarian Sari Manunggal yang akan dibawakan Gusti Nurul masuk dalam susunan acara inti pernikahan Putri Juliana dan Pangeran Bernhard.

Awalnya panitia tampak keberatan dengan usul tersebut, alasannya karena waktu yang mepet dan rumitnya persiapan. Tetapi panitia kemudian menerima setelah diyakinkan oleh Mangkunegara VII.

Kemudian pada hari H yakni 6 Januari, di Istana Noordeinde, disaksikan para petinggi negara Belanda, raja dan ratu dari berbagai negara, serta kedua mempelai, Gusti Nurul membawakan tarian Sari Manunggal.

Kisah Putri Keraton Solo dan Hari Patah Hati Nasional Pertama

Dimuat di Detik, putri Solo ini menari dengan iringan lantunan gamelan Kyai Kanyut Mesem yang dimainkan di Pura Mangkunegaran. Gamelan ini tak ikut diboyong, melainkan dipancarkan secara langsung melalui stasiun radio Solosche Radio Vereeniging (SRV).

Kualitas gelombang saat itu sempat mengganggu suara gamelan dari radio SRV. Bentung GKR Timur, yang duduk dekat arena pentas ikut memandu tarian putrinya tersebut dengan sebuah aba-aba.

Diketahui, ketika Gusti Nurul menari di Belanda, di waktu yang sama, kakaknya yaitu GRay.Partinah juga ikut menari di Pura Mangkunegaran dalam rangka menyelaraskan iringan gending yang dimainkan.

Dipuji Ratu Belanda

Gusti Nurul pun sukses menari di hadapan kedua mempelai, Ratu Wilhelmina serta pejabat dan tamu kerajaan Belanda. Lenggak-lenggok si Kembang Mangkunegaran rupanya berhasil memikat pejabat dan masyarakat di Negeri Kincir Angin itu.

Bahkan seusai Gusti Nurul menari, Ratu Wilhelmina sempat menghampiri Mangkunegara VII dan GKR Timur. Dirinya menyebut tidak pernah melihat tarian yang begitu indah seperti halnya yang diperagakan Gusti Nurul.

“Saya belum pernah melihat tarian begitu indah,” kata Ratu kepada Mangkunegaran VII seperti dituturkan Gusti Nurul dalam buku Gusti Noeroel Mengejar Kebahagiaan.

Pesona Keraton Surakarta: Tak Hanya Klasik tapi Juga Mewah

Bahkan surat kabar Belanda ramai memberitakan tarian yang dibawakan oleh Gusti Nurul sebagai kado dari Mangkunegara VII atas pernikahan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard.

Sejumlah tamu dikabarkan tertarik belajar kebudayaan timur setelah melihat tarian dari Gusti Nurul. Gusti Nurul bahkan masih ingat sebuah surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant memberikan sebuah komentar yang memuji penampilannya.

“Bagaimana mungkin bisa terjadi bahwa orang-orang Timur ini, yang berabad-abad lamanya telah kehilangan apa-apa, yang bagi kami lebih penting menjadi beradab, bisa mencapai kebudayaan yang begitu tinggi,” kata Gusti Nurul mengutip surat kabar tersebut.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini