Keindahan Batik Bakaran Khas Pati dan Cerita Tutur yang Unik

Keindahan Batik Bakaran Khas Pati dan Cerita Tutur yang Unik
info gambar utama

Batik adalah kesenian tekstil khas Indonesia yang punya banyak ragam, khususnya di pulau Jawa. Biasanya, kita mengenal batik-batik yang sudah populer seperti batik Solo, batik Yogyakarta dan batik Pekalongan.

Namun, tahukah Anda kalau Kabupaten Pati, Jawa Tengah juga memiliki batik khas?

Ya, batik tersebut bernama batik bakaran. Sesuai dengan namanya, kemunculan batik ini bermula dari Desa Bakaran, Kecamatan Juwana. Dengan wilayah yang berada di pantai utara Jawa, batik ini tergolong sebagai batik yang memiliki corak khas pesisiran.

Tak cuma memiliki estetika yang tinggi, batik ini juga punya cerita yang menarik mengenai awal mulanya.

Tampil Modis dengan 5 Motif Batik yang Cocok untuk Anak Muda

Sudah Ada Sejak Abad ke-14 dan Cerita Pelarian Nyi Banoewati

Batik Bakaran | jalurrempah.kemdikbud.go.id
info gambar

Desa Bakaran menjadi sebuah wilayah yang punya banyak pengrajin. Bisa dikatakan, wilayah inilah yang menjadi sentra dari batik Bakaran. Keterampilan yang mereka miliki ini merupakan hasil pengajaran secara turun temurun.

Ada cerita tutur dari masyarakat setempat mengenai batik ini yang bermula pada masa akhir kejayaan Majapahit, yaitu sekitar abad ke-14.

Saat itu, ada tokoh bernama Nyi Banoewati. Ia adalah seorang pembuat pakaian tentara Majapahit sekaligus penjaga museum pusaka. Saat itu, ia bersama kakaknya, Ki Dukut, melarikan diri ke daerah sekitar Juwana karena situasi politik Majapahit yang sedang penuh konflik.

Sesampainya di Juwana, mereka membagi dua wilayah kekuasaan. Merasa wilayahnya lebih kecil, Nyi Banoewati pun mengusulkan untuk membagi wilayah dengan membakar dedaunan. Sisa bakaran abu dari daun yang melayang paling pun dianggap menjadi wilayah Nyi Banoewati. Desa itu pun kelak bernama Bakaran.

Setelah mereka membuka lahan, banyak warga yang masuk dan perlahan tempat tersebut menjadi perkampungan. Nyi Banoewati pun mulai akrab dengan warga dan mengajarkan keterampilan membatiknya yang didapatkannya selama di Majapahit.

5 Motif Batik Bali yang Menarik Beserta Filosofinya

Berkembang Dengan Sangat Baik

Pembatik Batik Bakaran | Yuliati Warno Batik (Facebook)
info gambar

Dalam perkembangannya, motif tersebut mulai bertambah sesuai dengan cerita hidup yang ia alami. Misalnya ada motif gandrung yang muncul ketika ia sedang jatuh cinta dan motif magel ati ketika ia merasa sakit hati.

Yang jadi ciri khas adalah adanya motif seperti retak atau pecah bagian sogan (warna coklat). Warnanya juga cenderung lebih gelap dari batik lain.

Mengutip dari situs Pemerintah Kabupaten Pati, ada beberapa proses yang harus dilalui untuk membuat batik ini. Pertama adalah nggirah, kemudian nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo, dan nglorod.

Pembuatan batik ini bisa memakan waktu dari dua minggu hingga tiga bulan, tergantung motif apa yang dipesan. Dahulu, proses pembuatannya harus melalui ritual tertentu, misal berpuasa selama 40 hari. Namun, kini proses tersebut sudah banyak yang tidak melakukannya namun tetap dihargai sebagai tradisi.

Dalam perkembangannya, hingga saat ini motif batik Bakaran terbagi atas tiga kategori utama. Pertama adalah motif asli yang merupakan hasil turun temurun, kemudian motif modern yang menyesuaikan pasar, serta motif baru yang terinspirasi dari motif batik di luar Pati. Pasarnya pun sudah mencapai mancanegara.

Bersumber dari situs jalu rempah.kemdikbud.go.id, per Oktober 2021 sudah ada 17 motif klasik yang sudah memiliki paten HAKI. Beberapa di antaranya adalah motif blebak kopik, rawan, kopi pecah, truntum, gringsing, dan limaran.

5 Motif Batik Bali yang Menarik Beserta Filosofinya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini