Legenda Nenek Limbong: Hubungan Manusia dan Buaya yang Pernah Hangat di Singkil

Legenda Nenek Limbong: Hubungan Manusia dan Buaya yang Pernah Hangat di Singkil
info gambar utama

Seorang nelayan, warga Desa Asantola, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil, Antonius (28) diterkam buaya pada 2020 lalu. Akibat kejadian itu korban mengalami luka robek di bagian wajah dan kepala.

Dimuat dari CNN Indonesia kawasan pencarian teripang tersebut merupakan sarang atau habitat buaya. Bahkan korban Antonius bukan orang pertama yang diterkam buaya di lokasi yang dinamai warga sekitar dengan sebutan Kampung Lamo itu.

Dari data yang dihimpun, konflik antara buaya dengan nelayan Aceh Singkil telah terjadi beberapa tahun terakhir, bahkan mengakibatkan 12 korban, dengan rincian lima orang tewas dan tujuh orang selamat.

Upaya Kembalikan Kejayaan Komoditas Nilam Aceh yang Terlelap Puluhan Tahun

Dipaparkan oleh Waspada Aceh, semakin mengganasnya buaya, masyarakat di Kecamatan Singkil menjadi ketakutan ketika mencari nafkah di sungai maupun di laut, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

Kini buaya yang menjadi penghuni perairan tersebut sewaktu-waktu siap menerkam dan merenggut nyawa mereka. Warga Singkil layaknya memakan buah Simalakama, di makan mati bapak, tak dimakan mati emak.

“Mereka yang hendak mencari nafkah turun ke air harus siap mempertaruhkan nyawanya, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” tulis laman tersebut.

Sosok Nenek Limbong

Kawasan muara Sungai Singkil merupakan habitat utama buaya muara di pesisir selatan Ekosistem Leuser. Diperkirakan satwa liar yang juga dilindungi tersebut telah mendiami daerah rawa itu sejak 2006.

Diperkirakan populasi buaya ini mulai meningkat akibat maraknya perburuan biawak yang dibawa ke Pulau Nias, Sumatra Utara. Sebab biawak adalah reptil pemakan telur-telur buaya yang dapat mengurangi perkembangan predator air tersebut.

Warga Singkil pun memiliki cerita sendiri mengenai keberadaan buaya di wilayahnya. Masyarakat memiliki sebutan yakni Nenek Limbong. Namanya disakralkan penduduk yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Riwayat Nilam Aceh yang Kualitasnya Dianggap Terbaik di Dunia

“Nama Nenek Limbong memang tidak menakutkan. Namun begitu tahu ukuran badan buaya di habitat sungai Singkil, nyali pun ciut,” tulis Gatot Widakdo dalam Nenek Limbong dan Sungai Singkil terbitan Kompas.

Cerita warga di Desa Kilangan, Singkil Baru, panjang buaya terbesar yang pernah ditangkap di Sungai Singkil hampir 8 meter atau kira-kira sama dengan truk sedang. Bobotnya sekitar 4 ton dan tingginya hampir 1 meter.

Menurut Kepala Desa Kilangan, warga yang sudah lama tinggal di dekat sungai ini, telah hidup berdampingan dan memiliki ikatan kuat dengan para buaya. Mereka tidak akan saling mengganggu.

Pernah bersahabat

Warga Aceh Singkil bernama Rizky AL mengisahkan para manusia dan buaya saling bersahabat. Ketika para penduduk sedang mencari lokan di sungai mereka kerap kali bertemu dengan buaya muara.

“Nek, kami tidak bermaksud mengganggu tidurmu, kamu hanya mengambil lokan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami sehari-hari,” ungkapnya yang dimuat Wasatha.

Kononnya lagi, dengan sendirinya buaya muara itu pun pindah ke tempat lain untuk melanjutkan tidurnya. Hal ini juga dibenarkan oleh Zulkarnain bahwa dahulu manusia bersahabat dengan buaya muara.

Kisah Kota Singkil: Atlantis dari Aceh yang Ditinggalkan karena Tsunami

Warga Aceh Singkil percaya bahwa lokan adalah tempat tidur sang buaya muara. Karena itulah disebut bila buaya memakan manusia, hal ini bisa jadi tidak lepas dari aktivitas ulah tangan manusia atau makanan buaya telah habis.

Menurut Rifan Darmawan, salah seorang penduduk Desa Teluk Rumbia, Aceh Singkil, buaya muara sekarang memakan manusia disebabkan karena merasa terganggu oleh tingkah manusia yang selalu mengusik tidurnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini