Mengenal Proses Pengerjaan Karawo, Sulaman Paling Rumit di Dunia dari Gorontalo

Mengenal Proses Pengerjaan Karawo, Sulaman Paling Rumit di Dunia dari Gorontalo
info gambar utama

Gorontalo memiliki warisan kerajinan tradisional bernama karawo, sulaman dengan teknik paling rumit di dunia. Penyulaman karawo pada satu kain saja bisa menghabiskan waktu sampai dua minggu atau bahkan 40 hari, tergantung tingkat kerumitan dan luas bidang kain yang akan disulam. Pantas saja, karawo menjadi warisan budaya tak benda dari Gorontalo sejak 2014 dan kini pemerintah setempat sedang mendaftarkannya ke UNESCO.

Seluruh tahap sulaman karawo dikerjakan dengan tangan. Kira-kira prosesnya begini, sebelum mulai menyulam, terlebih dahulu dilakukan pengirisan dan pencabutan benang. Perajin mesti menyesuaikan jumlah benang yang akan diiris dengan pola yang hendak diterapkan pada kain. Apabila jumlah benang tidak sesuai, akan sangat berpengaruh pada hasil sulaman.

Pada tahap ini, perajin harus menghitung jumlah lubang yang akan diiris. Berikutnya benang diiris satu per satu. Ketajaman mata dan kesabaran perajin sangat diandalkan. Jika salah iris, langkah tersebut bisa jadi gagal.

Tak sampai di situ, pengirisan dan pencabutan benang harus disesuaikan pula dengan jenis serat kain, ketebalan, dan kerapatan kain. Setelah itu, barulah kain disulam dengan jarum. Tak semua kain dapat diberi sulaman karawo. Hanya kain yang berserat vertikal dan horizontal saja yang bisa dipakai untuk menyulam dengan teknik karawo.

Setidaknya pengerjaannya membutuhkan tiga orang. Orang pertama bertugas membuat pola dengan menggambar di atas kertas grafik. Orang kedua mengiris atau mengurai benang pada kain yang akan disulam sesuai pola yang diinginkan. Sedangkan, orang ketiga akan menyulam kain dengan benang yang sudah diurai tadi.

Setelah selesai menyulam, perajin akan melilitkan jalur-jalur benang dengan satu kali lilitan untuk memperkuat sulaman sehingga hasil akhirnya menjadi kokoh dan tidak mudah putus. Sangat rumit, bukan? Tapi, kerumitan itu dibayar setimpal dengan harganya yang tinggi. Satu kain sulaman karawo dibanderol Rp700 ribu sampai Rp2 juta.

Nikmatnya Ilabulo, Makanan Khas Gorontalo untuk Buka Puasa

Sejarah Singkat Sulaman Karawo

Mengutip siat.ung.ac.id, karawo lahir dan ditekuni masyarakat Gorontalo sejak 1713 di Desa Ayula, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Mulanya, karawo dikerjakan untuk mengisi waktu luang bagi perempuan Desa Ayula. Motif atau desain sulaman kala itu tak jauh dari bentuk anggur atau daun.

Seiring waktu, sulaman karawo mulai dibuat pada baju koko untuk dikenakan para pria muslim beribadah ke masjid dan pakaian putih untuk melayat. Dalam perkembangan tersebut, karawo kian digemari oleh kaum perempuan dari daerah lain di Gorontalo, di antaranya: Kecamatan Bongomeme, Telaga, dan Batudaa Pantai.

Awal tahun 1970, antusias masyarakat untuk melestarikan karawo semakin meningkat. Akhirnya muncul kreasi baru karawo dalam bentuk selendang dan pakaian pesta dari kain sifon. Pada masa ini para penyulam sudah mulai bermain warna benang. Kalau sebelumnya warna yang digunakan hanya putih atau senada dengan kain, saat ini perajin sudah mengkreasikan warna sulaman agar terlihat timbul dan lebih cantik.

Lambat laun, kreativitas perajin karawo menarik perhatian warga luar Gorontalo, sehingga melahirkan banyak kelompok perajin karawo yang disebut Komunitas Perajin Karawo.

Jenis dan Motif Sulaman Karawo

Karawo terkenal memiliki dua macam sulaman. Pertama, karawo ikat, sulamannya berbentuk ikatan simpul pada kain, dibuat menggunakan benang jahit biasa. Biasa diterapkan pada sapu tangan (lenso) dan kipas karawo.

Kedua, karawo manila, sulamannya berupa garis lurus membentuk pola motif tertentu, dibuat memakai benang emas atau benang manila. Karawo jenis ini paling sering digunakan untuk membuat pakaian.

Di samping itu, motif sulaman karawo yang biasa dibuat ada empat, antara lain: motif fauna, flora, geometri, dan motif alam. Tapi, kalau untuk pakaian adat, motif karawo yang digunakan beda lagi. Paling sedikit ada 25 macam dengan makna tersendiri dan sangat rumit. Beberapa di antaranya ada motif pohon pinang (bermakna lurus dan jujur), mahkota (berguna bagi orang lain), buaya (hukum dan nasihat), kelapa (kemuliaan, teladan, bijaksana), gapura (memegang teguh agama), senjata tadui-dui (keperkasaan), tombak pumbungo (pantang mundur), dan masih banyak lagi, dikutip dari Fitinline.com.

Di zaman kini, sulam karawo semakin berkembang dan dikreasikan menjadi berbagai bentuk pakaian. Motifnya juga sangat modern. Sekarang sudah banyak desainer sulam karawo, bahkan hasilnya sering ditampilkan dalam peragaan busana.

Jika Anda membeli kerajinan karawo, sebaiknya rajinlah mencucinya dengan tangan agar kualitas sulaman tetap bagus dan awet. Untuk membersihkan kotoran yang sulit dihilangkan, Anda perlu merendamnya dengan air hangat yang diberi detergen selama 10 menit. Ini bisa juga untuk menjaga kelembutan serat kain.

Setelah selesai dicuci, jemur secara terbalik agar sulaman tidak kusam atau memudar. Kalau sudah kering, setrika dengan suhu sedang dan simpan di tempat lembab dan bersih. Anda juga bisa menyemprot wewangian untuk menjaga kesegarannya.

Produk Pangan Gorontalo Jadi Magnet Bagi Pengusaha Filipina

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini