Upaya Pelestarian Pabrik Semen Pertama di Asia Tenggara Jadi Cagar Budaya

Upaya Pelestarian Pabrik Semen Pertama di Asia Tenggara Jadi Cagar Budaya
info gambar utama

Pabrik Indarung I milik PT Semen Padang menyimpan sejarah panjang dalam perjalanannya sebagai pabrik semen pertama di Asia Tenggara. Atas dasar itu, direktur utama PT Semen Padang bersama sejumlah pihak, tengah berupaya menjadikan Indarung 1 sebagai cagar budaya.

Untuk sementara, Wali Kota Padang telah menetapkan Indarung 1 sebagai situs cagar budaya kota pada 3 Oktober 2022 bersama PLTA Rasak. Selanjutnya, kedua situs bersejarah tersebut tengah dalam proses pengajuan menjadi cagar budaya nasional.

Pabrik Indarung 1 terletak di Kecamatan Lubuk Kilangan, Indarung, 15 kilometer dari pusat kota Padang. Menurut sejarahnya, jauh sebelum pabrik itu berdiri, kawasan Indarung hanyalah kampung yang minim penghuni. Wilayah itu dikelilingi bukit karang putih yang kaya akan deposit batu kapur serta bukit ngalau yang mengandung batu silica dan batu kapur.

Bebatuan itu rupanya menarik hati seorang insinyur sekaligus perwira Belanda berkebangsaan Jerman, Carl Christophus. Pada 1896, batu tersebut lantas dikirim ke Belanda untuk diteliti. Hasilnya menunjukkan, bebatuan itu dapat diolah menjadi bahan baku semen.

Kemudian, pada 25 Januari 1907, Carl mengajukan permohonan ke Hindia Belanda untuk mendirikan pabrik semen di Indarung. Tanggal 16 Agustus di tahun yang sama, permohonan disetujui.

Singkat cerita, pabrik semen itu akhirnya selesai dibangun pada 1910. Kapasitas produksinya saat itu bisa mencapai 50 ton per hari, bahkan di tahun 1939 mencapai 170.000 ton.

Selama periode 1942-1945, perang dunia II pecah dan pabrik Indarung 1 pun dikuasai oleh Jepang. Segala urusan perusahaan dipindahtangankan kepada Asano Cement milik Jepang. Perang semakin keruh, serangan musuh mengakibatkan banyak mesin yang rusak, sehingga produksi menjadi terhambat.

Kemudian, pada 1945-1947, pabrik semen itu telah dikuasai rakyat Indonesia, pemerintah mengambil alih perusahaan ini lalu mengganti namanya menjadi Kilang Semen Indarung. Produksi saat itu dapat dibilang tidak ada karena mesin masih rusak dan dalam proses perbaikan.

Tak lama setelah periode itu, Kilang Semen Indarung diambil alih oleh NV NIPCM dengan nama Padang Portland Cement Maatschappy. Produksi pun mulai berjalan pada 1949, kemudian 8 tahun setelah itu produksi mampu meraih 1.540.000 ton.

Akhirnya pabrik Kilang Semen Indarung dikuasai lagi oleh pemerintah Indonesia. Kali ini dikelola oleh Badang Pengurusan Perindustrian Tambang. Dalam rangka mewujudkan ekonomi terpimpin, perusahaan ini dijadikan perusahaan milik negara dengan nama PN Semen Padang. Barulah pada 4 Juli 1972, namanya berubah menjadi PT Semen Padang. Seluruh saham dimiliki oleh RI. Kini pabrik Indarung 1 sudah tak beroperasi lagi.

Pabrik Gula Pangka di Tegal, Usianya Sudah 190 Tahun

Upaya Jadi Cagar Budaya

Kehebatan pabrik Indarung 1 di masa lampau menjadikannya layak dipertimbangkan sebagai cagar budaya. Sejak September 2022, PT Semen Padang bersama pemerintah kota Padang dan sejumlah ahli telah memulai upaya pengajuan pabrik Indarung I sebagai cagar budaya. Saat ini, pabrik tersebut telah menjadi cagar budaya kota Padang.

Pada 11 Oktober 2022, Direktur Utama PT Semen Padang menemui Dirjen Kebudayaan RI di Jakarta untuk melaporkan progres pendaftaran pabrik Indarung 1 bersama PLTA Rasak Bungo sebagai cagar budaya nasional.

Apabila Indarung 1 telah disahkan sebagai cagar budaya nasional, selanjutnya PT Semen Padang berencana akan mengajukan Indarung 1 sebagai warisan dunia ke UNESCO.

Untuk mengabadikan sejarahnya, PT Semen Padang tengah berupaya mengambil kembali seluruh dokumen tentang pabrik Indarung 1 dari Belanda. Tapi hal ini membutuhkan waktu karena jumlahnya sangat banyak.

Pertama di Asia, Indonesia Punya Pabrik Bata dari Sampah Plastik di NTB

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini