Merasakan Kejayaan Kopi Cianjur yang Pernah Jadi Komoditas Penting Dunia

Merasakan Kejayaan Kopi Cianjur yang Pernah Jadi Komoditas Penting Dunia
info gambar utama

Priangan adalah wilayah di bagian Selatan Jawa Barat, terbentang antara Cianjur di sebelah barat sampai Ciamis di Timur. Cianjur bahkan pernah menjadi ibu kota karesidenan Priangan dan baru pindah ke Bandung pada 1864.

Sebagai pusat kekuasaan kolonial di Priangan, Cianjur juga menggalakkan penanaman kopi yang jadi komoditas laris di Eropa. Cianjur mulai menanam kopi pada 1707 ketika Aria Wiratanu III baru saja menjadi bupati menggantikan ayahnya, Aria Wiratanu II.

Empat tahun dari pelaksanaan penanaman wajib kopi di Priangan, Aria Wiratanu III berhasil menyerahkan kopi sebanyak satu pikul atau setara dengan 125 pon. Karena itu, dia tercatat sebagai penguasa pribumi pertama yang berhasil menyerahkan kopi kepada VOC.

Walau begitu produksi kopi baru mencapai ambang keberhasilan pada 1720. Berkaitan dengan ini, disebutkan bahwa daerah Priangan Barat menjadi wilayah penghasil kopi yang paling penting.

5 Provinsi Penghasil Kopi Terbesar di Indonesia

Pada tahun 1723, dilaporkan bahwa di daerah ini telah terdapat 1.041.000 batang kopi yang berbuah dan 1.041.000 batang kopi muda. Dua tahun kemudian, daerah ini menghasilkan kopi sebanyak 3.150.000 pon.

Kabupaten Cianjur kemudian menjadi penghasil kopi terbesar. Dengan produksi sebesar itu, ditambah dengan produksi kopi dari daerah lain. Pulau Jawa berhasil menjadi produsen kopi terbesar di dunia mengalahkan Yaman.

“Setengah hingga tiga perempat perdagangan kopi dunia berasal dari VOC dan jumlah itu setengahnya dihasilkan dari Priangan bagian barat, yakni Kabupaten Cianjur,” tulis G.J Knaap dalam Coffee for Cash.

Kopi kualitas dunia

Sejarawan Saleh Danasasmita menyatakan kopi asal Cianjur memiliki kualitas terbaik hingga menjadi andalan VOC di pasaran dunia. Bahkan disebut di era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1762-1818) kas pemerintah Hindia Belanda pernah surplus.

“Karena kopi Priangan (Cianjur) Belanda sempat menyebut kawasan tersebut sebagai ‘gabus pelampung Belanda’ di tanah Hindia,” tulis Saleh dalam Sejarah Bogor Bagian I.

Saleh menyebut keuntungan yang diperoleh oleh VOC berbanding lurus dengan yang didapat oleh para bangsawan. Seperti sebuah keterangan ketika Wiratanu III meninggal, dirinya masih berhak mendapat 26,000 ringgit gulden plus bunga atas jumlah itu.

Nyaris Satu Abad, Menilik Salah Satu Kedai Kopi Tertua di Bandung

Sementara itu C.R Boxer menyatakan sekitar empat sampai enam juta pon kopi diangkut dari Priangan menuju Belanda pada 1730. VOC tidak menemui kesulitan dalam memasarkan biji hitam kepada orang Eropa.

Begitu populernya kopi jawa di masyarakat Eropa, hingga seorang pendeta bernama Franqois Valentijn mengeluhkan kecanduan orang-orang Eropa terhadap benda hitam yang berasal dari Hindia tersebut.

“Dia mengeluh bahwa kopi jawa sudah menjadi begitu umum disukai hingga pelayan-pelayan wanita serta penjahit tidak mau bekerja sebelum menikmati cairan hitam tersebut,” tulis Boxer dalam Jan Kompeni: Sejarah VOC dalam Perang dan Damai.

Berharap kembali jaya

Tetapi kejayaan kopi di Cianjur saat ini sudah sirna. Kenyataan sejarah itu hanya menyisakan sebuah tempat bernama Salakopi yang menurut cerita orang tua kawasan itu termasuk zona hamparan kebun kopi produktif pada abad ke 18.

“Nama Salakopi itu sendiri katanya berasal dari dua kata: sela dan kopi, artinya di sela-sela tumbuhan kopi,” ungkap Ohim, penduduk Selakopi.

Pemerintah Kabupaten Cianjur juga terus mendorong agar para petani kopi mampu mengembalikan kejayaan masa lalu. Pemkab mendorong petani kopi di sejumlah kecamatan untuk terus meningkatkan produksi.

Nyaris Satu Abad, Menilik Salah Satu Kedai Kopi Tertua di Bandung

Bupati Cianjur, Herman Suherman mengatakan pengembangan berbagai jenis kopi di Cianjur terus ditingkatkan baik yang mendapat pembinaan dari dinas terkait atau kelompok tani mandiri.

“Sejak ratusan tahun lalu, kualitas kopi Cianjur sudah diakui hingga luar negeri, bahkan kita pernah menjadi wilayah yang mengirim kopi hingga ke Eropa. Kejayaan itu, harus dikembalikan. Saat ini di beberapa kecamatan di utara dan selatan terus mengembangkan kawasan penanaman kopi,” katanya.

Pihaknya akan mendorong petani atau kelompok tani kopi untuk mengembangkan tanaman kopi mulai dari biji hingga pengemasan dengan menyediakan pasar tetap, sehingga kopi Cianjur dapat kembali dikenal hingga mancanegara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini