Nyaris Satu Abad, Menilik Salah Satu Kedai Kopi Tertua di Bandung

Nyaris Satu Abad, Menilik Salah Satu Kedai Kopi Tertua di Bandung
info gambar utama

Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Menurut laporan International Coffee Organization pada tahun 2020, Indonesia ada di peringkat 5 besar negara penghasil kopi terbesar dunia.

Lebih detail, Indonesia ada di peringkat ke-empat tepat setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Di tahun tersebut, Indonesia tercatat menghasilkan sebanyak 11,95 juta karung kopi. Sementara itu setahun setelahnya (2021), BPS mencatat produksi kopi di Indonesia mencapai 774,60 ribu ton.

Adapun beberapa daerah atau provinsi penghasil kopi di Indonesia kebanyakan didominasi oleh wilayah Sumatra dan Aceh.

Sementara itu kekinian, popularitas kopi semakin meroket karena bukan lagi sebatas menjadi minuman yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan di usia tua, namun juga sudah digemari oleh kalangan anak-anak muda.

Terbukti, hal tersebut terlihat dari semakin menjamurnya kedai kopi masa kini yang dapat dijumpai dengan mudah di setiap jengkal masing-masing kota. Yang menarik, di antara sekian banyak kedai kopi baru yang lebih modern dan bermunculan, masih ada sederet kedai atau toko kopi legendaris yang sudah ada sejak dulu dan masih bertahan hingga kini.

Saking legendarisnya, banhkan ada nyaris ingin mencapai usia ratusan tahun. Adapun salah satu toko kopi yang dimaksud adalah toko sekaligus kedai kopi Aroma di Bandung.

Kopi Kenangan Bawa Babak Baru untuk Industri Retail F&B Startup di Indonesia

Berdiri sejak 1930

Kopi Aroma adalah sebuah kedai kopi skala usaha rumah tangga (home-industry) yang menjual kopi biji dan bubuk dalam jumlah terbatas. Kopi Aroma awalnya didirikan oleh seseorang bernama Tan Houw Sian pada tahun 1930.

Disebutkan bahwa Tan Houw Sian merintis Kopi Aroma dengan dimulai dari melayani kebutuhan kopi pelanggan di Kota Bandung termasuk orang Belanda dan Jepang yang waktu itu tinggal di Bandung.

Bangunan dari toko/kedai kopi Aroma sendiri berada di sudut pertemuan antara Jalan Banceuy dan Jalan Pecinan Lama, di Bandung. Saat ini, keberadaannya dilanjutkan oleh generasi kedua yakni Bapak Widyapratama dan istrinya.

Tak sulit menemukan bagunan kopi Aroma karena di bagian atas bangunannya terdapat tulisan besar “Aroma, Paberik - Kopi”. Lain itu, pejalan kaki yang melintasi trotoar di depan toko juga bisa dengan jelas melihat langsung kegiatan penimbangan dan pengemasan kopi dari balik kaca jendela yang transparan.

4 Kebun Kopi di Indonesia untuk Mempelajari Kopi Sambil Berwisata

Hampir gelar tikar

Bangunan lawas kopi Aroma | kopiaroma.id
info gambar

Bertahan selama nyaris satu abad tentu tidaklah mudah. Diceritakan jika pada kisaran tahun pada 1960 hingga 1970, bisnis kopi Tan Houw Sian sempat tersendat. Hal tersebut lantaran pendiri kopi Aroma semakin tua, sementara di sisi lain belum ada yang bisa diandalkan untuk membantu usaha.

Akhirnya, Widyapratama yang kala itu baru menjadi mahasiswa Ekonomi di Universitas Padjajaran melanjutkan usaha mendiang ayahnya. Ia membenahi semua lini usaha yang terbengkalai hingga kembali maju dan bertahan hingga saat ini.

Salah satu alasan kopi Aroma tetap memiliki pelanggan setia sendiri hingga saat ini adalah karena kualitasnya yang terjamin. Disebutkan bahwa kopi mentah yang diperoleh dipilih langsung dari kebun kopi Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Ragam jenis biji kopi yang diperoleh pun melalui proses pengeraman setiap beberapa tahun, untuk memperoleh kualitas terbarik. Ditambah lagi, mesin yang digunakan hingga saat ini merupakan mesin buatan Jerman yang sudah dipakai sejak tahun 1930.

Bahkan, disebutkan bahwa mendiang B.J. Habibie menjadi salah satu pelanggan setia kedai kopi Aroma yang kagum akan mesin sangrai tua di toko tersebut. Menurut pemilik kedai, B.J. Habibie sangat mengagumi mesin sangrai kopi buatan Jerman yang digunakan sejak awal pabrik kopi Aroma berdiri.

Kisah Keberadaan Kopi di Bandung yang Pernah Jadi Alat Mata-Mata Belanda

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini