Kopi Liberika Riau yang Tumbuh di Tanah Gambut

Kopi Liberika Riau yang Tumbuh di Tanah Gambut
info gambar utama

Indonesia memang punya kekayaan flora yang beragam. Termasuk salah satunya adalah tanaman kopi yang diolah menjadi minuman favorit banyak orang di berbagai belahan dunia.

Kopi di Indonesia juga sudah tak diragukan lagi kualitasnya. Banyak sekali jenis-jenis kopi yang bisa ditemukan di Indonesia, baik itu yang berjenis robusta, arabika, hingga liberika. Semunya punya keunikan atau karakter rasanya tersendiri.

Beberapa kopi yang terkenal ini antara lain kopi Gayo, Flores, Toraja, atau Wamena. Selain itu, ada berbagai jenis kopi lain yang tak kalah nikmatnya, seperti kopi yang berasal dari Riau ini.

Kopi Pesisir Kebumen yang Tumbuh di Dekat Pantai Selatan

Ditanam di tanah gambut

Dinas Pariwisata Provinsi Riau
info gambar

Mungkin kopi yang biasa banyak orang kenal adalah jenis robusta dan arabika. Nama kopi liberika masih belum banyak didengar oleh orang-orang, apalagi bagi yang memang bukan pecinta kopi. Dibandingkan dua jenis tersebut, bisa dikatakan liberika ini punya kualitas yang cenderung lebih baik. Biarpun soal rasa juga menjadi urusan subyektif.

Jenis inilah yang dimiliki oleh kopi khas Riau ini. Dengan varian yang tergolong sebagai liberika, tanaman kopi ini juga memiliki habitat yang agak berbeda dari kopi-kopi pada umunya. Sebab, tanamannya tumbuh di lahan gambut.

Mengacu dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Riau punya sekitar 4,9 juta lahan gambut. Yang mana, jumlah ini meliputi lebih dari 50% dari keseluruhan luas provinsi Riau. Tanah gambut juga tak bisa dilepaskan dari aspek kehidupan banyak warga, termasuk memanfaatkannya sebagai lahan untuk tanaman kopi.

Mengenai lokasi tanamannya, kopi Riau ini kebunnya bisa kita jumpai di daerah Kepulauan Meranti. Kopi liberika ini sudah terkenal kenikmatannya, tidak hanya di dalam negeri saja, namun juga pada kalangan pecinta kopi di berbagai belahan dunia.

Secara kuantitas, memang kopi liberika agak jarang ditemui. Mengutip dari Espresso Italia, dari total produksi kopi di dunia, liberika ini jumlahnya hanya 2%. Dari kecilnya jumlah ini, Riau termasuk sebagai salah satu produsennya.

Dulunya, masyarakat di sini tidak mengetahui mengenai varian kopi yang mereka tanam tersebut, hanya sekedar menanam saja. Selain itu, kopi di sini dulunya dibeli dengan murah oleh tengkulak untuk dikirim ke Malaysia karena masyarakat sana sangat menyukai kopi Riau ini.

Namun, setelah Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balitrri) melakukan penelitian, ternyata diketahui bahwa kopi dari Kabupaten Meranti ini tergolong sebagai liberika. Setelah para petani teredukasi kalau kopinya ini berkualitas tingi, perlahan harga jualnya pun meroket.

Riau, “Surga” Kelapa Sawit Indonesia

Karakteristik kopi meranti

Dinas Pariwisata Provinsi Riau
info gambar

Masyarakat lokal sering menyebut kopi yang satu ini sebagai "kopi ngongko" yang artinya adalah kopi nangka. Mengenai mengapa kopi ini disebut sebagai nangka berkaitan dengan cita rasa dari kopi Riau sendiri.

Dari jenis kopi lain, memang liberika Meranti punya karakteristik yang lebih kaya dan cenderung unik.

Ketika kopi ini diseruput, ada rasa manis yang kerap muncul walaupun tak menggunakan gula. Selain itu, ada juga sensasi layaknya coklat yang berpadu dengan nangka. Karakteristik ini bahkan bisa mudah untuk dikenali, sekalipun oleh para orang yang bukan penikmat kopi.

Lalu, kadar keasaman dari kopi ini juga cenderung lebih aman. Apalagi bila dibandingkan dengan varian robusta. Jadi, lebih cocok bagi para penderita maag. Begitu pula dengan kepahitan dari kopi ini yang cenderung lebih minim.

Selain itu, tingkat kafein yang ada pada kopi Meranti ini masih dalam batas yang sangat wajar, bahkn tergolong lebih rendah dari kopi pada umumnya.

Hingga kini, produktivitas dari kopi Riau ini terus meningkat. Sebagai contoh, dilansir dari situs Dinas Pariwisata Provinsi Riau, di Desa Kedaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Meranti yang menjadi salah satu desa penghasil kopi ini, luas kebunnya sudah mencapai 775 hektar.

Sementara untuk lahan tergabung dalam kelembagaan yang terdiri atas desa-desa di Rangsang Pesisir luasnya mencapai 100 ribu hektar.

Kopi Indonesia: Produktivitas Naik di Tengah Ekspor dan Luas Lahan yang Turun

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini