Wisata ke Bali, Ada Keindahan Hutan Pinus Glagalinggah yang Menanti

Wisata ke Bali, Ada Keindahan Hutan Pinus Glagalinggah yang Menanti
info gambar utama

Wisata di Bali bukan cuma soal pantai, namun ada pula hutan pinus yang keindahannya telah menanti.

Tidak bisa dipungkiri jika keindahan alam Bali sangat identik dengan pantainya. Ya, Bali dikenal punya pantai yang indah dan sangat menarik untuk dikunjungi.

Tidak heran, para wisatawan yang datang berkunjung ke Bali biasa menyambangi pantai. Berwisata ke Bali seakan belum lengkap jika tidak mengunjungi pantainya.

Perlu diketahui, cantiknya alam Bali bukan hanya ada di pantainya. Hutannya pun tidak kalah menarik untuk didatangi, khususnya hutan pinus.

Di Bali, ada sebuah hutan pinus yang sangat menarik untuk dikunjungi, namanya hutan pinus Glagalinggah. Di sana wisatawan bisa menikmati indahnya hutan sekaligus melihat kehidupan masyarakat setempat yang dekat dengan alam dan kental akan adat.

Puncak Gurute, Wisata Alam nan Cocok di Akhir Pekan

Mengenal Hutan Pinus Glagalinggah

Hutan pinus Glagalinggah terletak di desa Kintamani, Kabupaten Bangli. Bagi yang belum tahu, Bangli adalah daerah yang berada di bagian utara pulau Bali dan lokasi hutan pinusnya tidak jauh dari kaki Gunung Batur.

Lokasinya memang agak jauh dari Denpasar. Untuk mencapai hutan pinus Glagalinggah, wisatawan perlu menempuh jarak lebih dari 50 kilometer dan menyediakan waktu perjalanan kira-kira 2 jam. Kendati demikian, jauh dan lamanya perjalanan akan terbayar lunas dengan pemandangan indah yang tersaji di hutan pinus Glagalinggah.

Hutan pinus Glagalinggah adalah hutan sosial yang dikembangkan menjadi destinasi wisata. Pengembangan tersebut dilakukan dengan berbasis pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Proses pengembangan berawal dari dilihatnya potensi besar hutan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat. Di sekitar hutan, masyarakat mengandalkan penghidupannya dari sektor pertanian seperti kopi, pisang jeruk, dan kacang-kacangan serta peternakan sapi, babi, dan ayam. Pihak Desa Adat Glagalinggah kemudian menilai perlu ada optimalisasi potensi ekonomi yang tersedia, yang mana potensi itu ada di sektor wisata.

Desa Adat Glagalinggah lalu berupaya mengembangkan hutan pinus di wilayah mereka menjadi tempat wisata. Tak lupa, konservasi dan pelestarian alam terus dijalankan secara bahu-membahu dengan masyarakat.

“Karena konsepnya pelestarian alam, wisatawan yang berkunjung ke hutan pinus Glagalinggah tidak hanya berwisata menikmati pemandangan, tetapi juga melihat belajar cara masyarakat kami menjaga hutan ini dan melestarikan hutan sehingga bisa terjaga hingga saat ini,” ujar Bendesa Adat Glagalinggah Wayan Sumadi seperti dilansir Bisnis.com.

Desa Adat Glagalinggah juga berkolaborasi dengan PT Tirta Investama untuk mengembangkan hutan pinus destinasi wisata. Lewat mekanisme CSR, dijalankan berbagai praktik konservasi dan edukasi seperti kegiatan penanaman dan pemeliharaan 3.300 pohon.

Dengan apiknya pengembangan dan pengelolaan hutan sebagai destinasi wisata sekaligus sarana edukasi dan konservasi, hutan pinus Glagalinggah dianggap sebagai contoh ideal tentang bagaimana desa adat dan perusahaan bisa berkolaborasi.

“Praktik di Wana Wisata Hutan Pinus Glagalinggah ini sekarang bisa menjadi model daerah lain untuk pengembangan destinasi yang sama, ini akan menjadi wadah wisata dan edukasi bagi masyarakat. Konsep kolaborasi antara desa adat dan pihak swasta,” kata Direktur Jenderal Kemitraan dan Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jo Kumala Dewi.

Keberkahan Gas Alam yang Pernah Bawa Lhokseumawe Digelari Kota Petro Dolar



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini