Menelusuri dari Mana Asal Istilah 'Pedagang Kaki Lima'

Menelusuri dari Mana Asal Istilah 'Pedagang Kaki Lima'
info gambar utama

Bagi Anda pecinta kuliner pinggir jalan, pasti sering beli makan dari Pedagang Kaki Lima (PKL), bukan? Keberadaan mereka cukup membantu dalam menyediakan kebutuhan makanan dan minuman yang murah. Hampir semuanya ada, mulai dari cangcimen, es jeruk, lontong malam, nasi goreng, bapao, ayam geprek, mi ayam, sushi, sampai kebab Turki.

Jumlah PKL meningkat setiap tahun. Hal ini didorong oleh kecilnya lapangan kerja dan sulitnya persaingan. Banyak orang memilih berjualan ala PKL karena selain modalnya cukup terjangkau, juga tidak memerlukan ijazah.

Terlepas dari itu, suasana mencicipi makan malam di pinggir jalan memang berbeda. Tapi, tahukah Anda mengapa para pedagang di pinggir jalan disebut Pedagang Kaki Lima? Mari telusuri asal-usulnya bersama Good News From Indonesia.

Saat Nasionalisme Tumbuh Subur di Hati Pedagang Pasar Padang Panjang

Dari trotoar sampai roda gerobak

Ada banyak versi terkait asal-usul istilah pedagang kaki lima. Orang Belanda dulu membuat peraturan, setiap jalan raya harus menyediakan trotoar untuk pejalan kaki yang lebarnya 1,5 meter atau lima kaki mengikuti satuan ukuran panjang bangsa Eropa.

Kemudian, Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta (1952) tampaknya mendukung cerita trotoar ini. Istilah lima kaki diartikan sebagai "lantai atau tangga di muka pintu atau di tepi jalan" serta "lantai diberi atap sebagai penghubung rumah dengan rumah". Definisi tersebut bisa juga dimaknai emperan toko karena PKL juga ada yang berjualan di situ.

Tapi, versi yang ini dianggap kurang tepat karena kalau berpatokan kepada trotoar buatan Belanda, penyebutannya seharusnya pedagang lima kaki.

William Liddle, seorang tokoh Indonesianis membantahnya. Dia menyebut bahwa pembuat aturan pembangunan trotoar bukanlah Belanda, melainkan Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Sir Stamford Raffles. Istilah lima kaki tersebut dikatakanannya berasal dari bahasa Inggris: five foot.

Lalu, ada juga yang mencocok-cocokkan bahwa pedagang kaki lima sebetulnya sebutan bagi pedagang gerobak beroda tiga. Jika jumlah roda ditambahkan dengan kaki pedagang, maka totalnya ada lima. Dari situlah muncul istilah kaki lima.

Tak cuma itu, ada lagi yang mengartikan kaki lima menjadi “kanan kiri lintas manusia.” Kepanjangan ini barangkali muncul setelah melihat posisi PKL yang berdagang di trotoar, sehingga banyak orang hilir mudik di sisi kiri dan kanan mereka.

Dari semua versi asal-usul PKL, entah mana yang benar karena tak ada satupun data konkrit yang memvalidasi salah satunya. Namun, yang jelas sekarang seluruh pedagang di emperan dan trotoar, baik yang membuka lapak, memakai gerobak, atau hanya membawa pikulan, sama-sama disebut PKL karena mereka berjualan tapi tak punya toko atau kios tetap.

Mayoritas PKL berjualan di pusat keramaian, seperti pasar, objek wisata, stasiun kereta, depan sekolah, terminal bis, dan kawasan perkantoran. Di antara mereka ada yang hanya bermodalkan lapak dari kayu, triplek, atau terpal. Sebagian lagi memakai gerobak bermotor, gerobak dorong, pikulan, atau gendongan.

Sumber: Buku Pedagang Kaki Lima: Riwayatmu Dulu, Nasibmu Kini!

Mengenal Sosok Anak Pedagang Kopiah yang Sukses Jadi ‘Raja Minyak’ Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini