Mengenal Sosok Anak Pedagang Kopiah yang Sukses Jadi ‘Raja Minyak’ Indonesia

Mengenal Sosok Anak Pedagang Kopiah yang Sukses Jadi ‘Raja Minyak’ Indonesia
info gambar utama

Nama Arifin Panigoro mungkin tidak terlalu sering disorot layaknya sejumlah pebisnis tanah air yang mencatatkan kesuksesan memukau, dengan latar belakang cerita yang berawal dari keluarga sederhana.

Namun di kalangan pegiat industri pertambangan minyak dan gas (migas), sosok yang berasal dari Gorontalo ini merupakan salah satu orang yang paling dihormati dan kerap dijadikan panutan.

Lama tak terdengar kabarnya, nama Arifin belum lama ini kembali mencuat yang sayangnya datang dengan kabar duka mengenai kepergiannya yang berpulang pada usia 76 tahun, pada tanggal 27 Februari kemarin.

Meski tidak diketahui secara detail apa penyakit yang diderita, namun Arifin dikabarkan meninggal dunia saat menjalani perawatan di Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, Amerika Serikat.

Bukan hanya sebagai pebisnis, Arifin sendiri pasalnya dikenal dan banyak dihormati karena berperan dalam menghadirkan perkembangan di berbagai bidang penting tanah air, dua di antaranya adalah sebagai penggagas kompetisi Liga Primer Indonesia di bidang olahraga sepak bola yang dibentuk pada tahun 2011, dan pendiri yayasan kesehatan untuk memerangi penyakit tuberkulosis di Inodnesia.

Mengenal Sosok ‘Bill Gates’ Lokal yang Dirikan Data Center Terbesar di Indonesia

Rekam jejak Arifin Panigoro

Sebelum dikenal sebagai pebisnis yang sukses, Arifin sendiri diketahui berasal dari keluarga sederhana. Merupakan anak sulung dari 11 bersaudara, ayahnya yang bernama Jusuf Panigoro diceritakan berdagang kopiah setelah memutuskan merantau dari Gorontalo ke Bandung, untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ayahnya mulai berdagang barang-barang elektronik, Arifin kerap diminta menjaga kasir setiap pulang sekolah, dan saat itulah dirinya diketahui mulai belajar ilmu berdagang.

Memiliki kesempatan menempuh pendidikan sampai jenjang tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Teknik Elektro, selama kuliah dirinya memanfaatkan kemampuan menghadapi konsumen, dengan menawarkan jasa instalasi listrik secara door-to-door, yang kemudian berkembang menjadi jasa pemasangan pipa secara kecil-kecilan.

Jasa yang ditawarkannya terus berkembang, Arifin kemudian melihat peluang bisnis saat peristiwa oil boom terjadi pada kisaran tahun 1979, dan membuat minyak bumi jadi komoditas utama kegiatan ekspor.

Akhirnya, Arifin bersama teman-teman kuliahnya membangun perusahaan minyak dengan nama Medco. Waktu itu, ia dengan percaya diri membangun perusahaan minyak meski hanya bermodalkan kantor sempit di kawasan Wisma Harapan, dan sebuah kilang yang masih dibiayai oleh pemerintah.

Titik balik diperoleh perusahaan Arifin saat Medco berhasil membeli Stanvac, perusahaan minyak tertua di Indonesia termasuk sumur-sumur kilangnya.

Pelajaran Berharga Bangsa: Meninggalnya "Rudy" BJ Habibie

Julukan ‘Raja Minyak’

Arifin Panigoro
info gambar

Mengalami pertumbuhan pesat, dalam perkembangannya Medco berhasil melakukan ekspansi ke berbagai wilayah baik dalam cakupan nasional maupun internasional. Beberapa bidang yang digarap oleh perusahaan bentukan Arifin ini di antaranya bergerak di bidang produksi minyak dan gas bumi, pertambangan tembaga dan emas, serta pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Tidak hanya di dalam negeri, cakupan eksplorasi Medco diketahui juga berada di sejumlah negara lain di antaranya Libya dengan total 47 titik eksplorasi, Oman (56 eksplorasi), Tunisia (6 eksplorasi), Thailand, dan Vietnam.

Menjadi perusahaan pertambangan migas swasta terbesar di Indonesia, tak heran jika Arifin Panigoro kemudian kerap mendapat julukan sebagai ‘Raja Minyak’. Lain itu sebenarnya, terhitung untuk periode 2019-2024 Arifin merupakan salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Tidak hanya memikirkan kelangsungan perusahaannya sendiri, Arifin juga dikenal sebagai sosok yang berperan penting dalam industri migas tanah air. Hal tersebut tercemin lewat sejumlah upayanya dalam mencaplok atau mengambil alih konsesi migas di tanah air dari tangan asing, untuk selanjutnya dikelola oleh perusahaan migas dalam negeri dan menjadi modal lepas landas dalam melakukan ekspansi ke tingkat internasional.

Moshe Rizal selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) menyebut, jika Arifin merupakan sosok tegas dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, hal tersebut terbukti lewat prinsipnya yang dikatakan selalu menomorsatukan perusahaan nasional khususnya BUMD, dalam upaya meningkatkan keikutsertaan dalam produksi migas nasional.

Terlepas dari hal tersebut, karena kepiawaiannya dalam mengelola bisnis, pada tahun 2020 lalu Arifin sempat masuk ke jajaran 50 orang terkaya Indonesia, dan berada di peringkat ke-47 dengan catatan kekayaan sebesar 550 juta dolar AS, atau setara Rp7,9 triliun.

Mengenal 2 Perempuan Indonesia yang Masuk Daftar Pebisnis Paling Berpengaruh di Asia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini