Serba-Serbi Toxic Productivity, Definisi dan Cara Atasinya

Serba-Serbi Toxic Productivity, Definisi dan Cara Atasinya
info gambar utama

Apa sih toxic productivity? Sebelum Kawan mengenal hal itu, pernahkah Kawan melakukan kegiatan hingga fisik dan mental menurun? Pernahkah Kawan melupakan waktu istirahat demi melaksanakan kegiatan positif atau produktif? Jika iya, maka Kawan kemungkinan besar Kawan mengalami toxic productivity.

Toxic Productivity adalah suatu kondisi dimana seseorang terobsesi untuk melakukan kegiatan produktif secara berlebihan. Kondisi tersebut sering dihubungkan dengan workaholic atau gila kerja. Toxic productivity semakin tren ketika terjadi masa pandemi.

Menurut psikolog Kathryn Esquer yang dilansir dari Halodoc, banyak pekerja yang mengalami toxic productivity. Hal ini dikarenakan pembatasan ruang gerak, sehingga waktu luang jadi lebih banyak daripada saat luring (luar jaringan). Lalu, seperti apa karakterististik, penyebab, serta cara mengatasi toxic productivity?

Baca juga: Produktif yang Berujung Pada Stres? Awas Burnout!

Karakteristik Toxic Productivity

Karakteristik atau ciri-ciri dari toxic productivity memang sulit dikenali bagi orang yang mengalaminya. Meski begitu, menurut Universitas Ahmad Dahlan, ternyata ada beberapa ciri umumnya, yakni:

1. Obsesi dengan Produktif

Sulit untuk beristirahat karena menganggap kegiatan produktif adalah hal yang wajib dilakukan. Anggapan tersebut memang benar, tetapi bila dilakukan berlebihan, maka akibatnya tidak sembarangan. Orang yang mengalami toxic productivity akan terus melakukan kegiatan produktif hingga mengabaikan kesehatannya sendiri.

2. Merasa Bersalah Saat Beristirahat

Seseorang yang sering bermalas-malasan kemungkinan besar tidak merasa bersalah terhadap hal yang dilakukannya. Namun, berbanding terbalik dengan orang yang toxic productivity. Mereka merasa bersalah bila beristirahat karena mereka selalu menghabiskan waktunya untuk kegiatan produktif. Jadi, bila mereka tidak melakukan apapun, rasa bersalah akan muncul sendirinya.

3. Tidak Pernah Merasa Puas

Mereka merasa tidak cukup dengan pekerjaannnya. Bahkan, mereka selalu melakukan tugas lain demi memenuhi kebutuhan produktivitasnya. Ada kalanya mereka juga belum puas dengan hasil pekerjaannya, sehingga mereka sering mengulang atau memeriksa pekerjaan mereka.

Penyebab Toxic Productivity

Setelah mengenali karakteristiknya, toxic productivity bisa jadi penyebab dan akibat pada seseorang yang mengalaminya. Menurut Unit Kegiatan Mahasiswa Peduli Sosial Universitas Diponegoro, penyebab toxic productivity, di antaranya:

1. Hustle Culture

Istilah ini menggambarkan bahwa seseorang khususnya pemuda harus bekerja secara efektif dan efisien demi menciptakan produktivitas kerja yang tinggi. Istilah ini memang positif bagi generasi muda yang memiliki fisik kuat dan ambisi tinggi. Namun, jika hal itu dilakukan berlebihan, maka akan memicu toxic productivity. Ditambah, bukannya mereka mendapat lingkungan kerja yang membangun dan menyenangkan, malah mendapat lingkungan kerja yang kompetitif nan tidak sehat.

2. Self-Worth

Istilah tersebut menggambarkan bahwa seseorang tidak merasa berharga di mata orang lain. Hal itu dapat disebabkan oleh trauma masa lalu yang menyakitkan. Akibatnya, kamu bisa menjadi yes people atau seseorang yang selalu menyenangkan orang lain dengan tidak berani berkata tidak.

3. Stres

Stres bisa menjadi penyebab dari toxic productivity. Kondisi ini dapat disebabkan dengan tekanan sosial, ekonomi, atau keluarga yang mengharuskan Kawan bekerja secara berlebihan.

Baca Juga: Akhiri Scrollingmu dengan Rutinitas Produktif!

Cara Mengatasi Toxic Productivity

Setelah Kawan mengenali penyebabnya, ada beberapa cara untuk mengatasi toxic productivity yang dilansir dari Trello.com, diantaranya:

1. Buatlah Bingkai Tugas Prioritasmu

Orang yang toxic productivity merasa buruk perihal manajemen waktu. Acapkali, mereka lebih memprioritaskan tugas orang lain daripada tugas dirinya. Alhasil, mereka kurang mampu mengurus dirinya sendiri. Untuk itu, buatlah bingkai tugas berdasarkan prioritasmu.

Buat beberapa tingkat prioritas dari tugasmu: 1. Penting dan sangat mendesak 2. Penting dan tidak mendesak 3. Tidak penting dan mendesak 4. Tidak penting dan tidak mendesak. Selanjutnya, dari poin-poin tersebut, Kawan bisa memasukkan tugas-tugas (baik individu maupun kelompok) dalam masing-masing poin.

2. Berlatih Detasemen Profesional

Apa itu detasemen profesional? Menurut Laurie Ruettimann, detasemen profesional adalah suatu pemahaman bahwa peran Kawan di tempat kerja bukanlah inti seluruhnya dari identitas Kawan. Pada intinya, Kawan tidak perlu sepenuhnya mencurahkan tenaga dan waktu untuk pekerjaan. Sebab, ada beberapa prioritas lain yang lebih penting, seperti keluarga, pasangan, dan teman di sekitar Kawan.

3. Jadwalkan Waktu untuk Liburan

Sesekali ambil cuti atau liburan untuk mengatasi ‘gila kerja’ Kawan. Buatlah daftar kegiatan liburan, seperti perjalanan wisata, membaca buku, bermain games online, dan hal-hal lain kesukaan Kawan. Memang, kegiatan tersebut tidak produktif bagi orang yang mengalami toxic productivity. Namun, ada kalanya seseorang butuh menjauhi interupsi yang mengganggu fisik dan mentalnya.

4. Tetapkan Batasan yang Jelas antara Waktu Kerja dan Waktu Pribadi

Seseorang yang toxic producitivity akan menggabungkan waktu pribadi dan waktu kerja. Kawan mungkin menemukan rekan atau teman yang menghabiskan waktu liburannya dengan bekerja. Contohnya, saat melakukan liburan di Bali, rekan Kawan atau mungkin Kawan sendiri membuka laptop untuk mengecek e-mail kerja.

Alhasil, quality time Kawan bersama keluarga, pasangan, atau teman jadi tidak maksimal. Dengan hal itu, pisahkan waktu kerja dengan waktu pribadi. Contohnya, matikan HP dan laptop kerja Kawan, deeptalk bersama keluarga atau pasangan, dan bersenang-senanglah di tempat liburan Kawan.

5. Buatlah Jeda dalam Pekerjaan

Jeda bukan berarti Kawan bermalas-malasan dalam bekerja. Namun, istilah tersebut lebih mengarah istirahat secara interval. Cobalah untuk berikan jeda istirahat bagi tubuh Kawan selama 10-15 menit selama bekerja sekitar 1 jam atau 45 menit. Dengan hal itu, pikiran terasa santai dan tubuh kembali rileks. Kawan bisa menikmati 10-15 menit tersebut dengan meminum kopi/teh, stretching, atau membaca buku kesukaan Kawan.

Baca Juga: Selalu Produktif, Intip Time Manajemen Waktu Ala Maudy Ayunda

Pada intinya, Kawan tidak boleh melakukan kegiatan secara berlebihan. Perlu diketahui, Kawan juga perlu mengistirahatkan pikiran dan tenaga karena Kawan adalah manusia yang memiliki banyak batasan. Lakukan secara rutin untuk tips-tips tersebut, maka akan terjadi perubahan besar bagi hidup Kawan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini