Menumbuhkan Padi Dayang Rindu yang Dirindukan Masyarakat Musi Rawas

Menumbuhkan Padi Dayang Rindu yang Dirindukan Masyarakat Musi Rawas
info gambar utama

Bila masyarakat Cianjur di Jawa Barat memiliki padi pandanwangi sementara di Klaten di Jawa Tengah memiliki padi rojolele, Kabupaten Musi Rawas di Sumatra Selatan memiliki padi dayang rindu.

Sama dengan padi unggulan lainnya, dayang rindu atau dayang merindu memiliki rasa yang pulen dan aroma yang harum. Tetapi beda dengan pandanwangi dan Rojolele yang mudah ditemukan di daerah lain, dayang rindu cukup sulit bahkan di daerah Musi sendiri.

M Rasyid, petani di Desa Mandi Aur, Kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas mengatakan dayang rindu jarang ditemukan di pasaran karena saat panen tiba masyarakat lebih memilih untuk menyimpannya demi kebutuhan keluarga mereka selama setahun.

Padi Hibrida, Menanam "Permata" bagi Pertanian Indonesia di Masa Depan

“Selain itu, untuk keperluan sedekah atau hajatan serta bibit pada musim tanam berikutnya. Jika ada sisa, baru kelebihan itu dijual ke pasar,” jelasnya yang dimuat Kompas.

Keberadaan dayang rindu di pasaran juga sangat terbatas, hanya berada di Musi Rawas. Hal ini juga beberapa saat setelah masa panen. Persediaan beras selama setahun hanya ada di rumah-rumah penduduk yang hasil panennya banyak.

Petani Mandi Aur lainnya, Sugiyanto menyatakan bahwa varietas padi lokal ini juga hanya dapat tumbuh di daerah Musi Rawas. Beberapa masyarakat daerah lainnya pernah mencoba tetapi selalu gagal.

“Sejumlah warga mencoba menanamnya di luar Musi Rawas. Tanaman padi memang tumbuh, tetapi aromanya tak lagi wangi,” jelasnya.

Dari putri dayang

Masyarakat juga mempercayai bahwa padi dayang rindu berasal dari keberadaan Putri Dayang yang turun dari langit ke bumi dengan membawa beras untuk menolong masyarakat yang tidak mampu.

Masyarakat yang tak memiliki benih untuk menanam padi juga diberi benih. Padi yang dibawa Putri Dayang itulah yang secara turun temurun dibudidayakan dan kemudian disebut padi dayang rindu.

Bentuk bulir padi dayang rindu kecil panjang dan lentik pada ujungnya. Bulir padi berwarna kuning keemasan. Warna beras yang dihasilkan tidak terlalu putih dan agak keras, namun aromanya begitu menggiurkan.

“Namun, setelah dimasak, aroma harumnya bisa menyebar hingga ke rumah tangganya,” tulis Kompas dalam Dayang Rindu yang Dirindu.

Ramuan Biosaka dari Petani Blitar: Tingkatkan Hasil Panen Tanpa Bahan Kimia

Untuk dapat tumbuh, dayang rindu membutuhkan tanah dengan kelembapan tinggi. Karena itu, jelasnya, daerah pinggiran sungai adalah daerah yang paling cocok untuk tumbuhnya dayang rindu.

Semakin dekat sungai, padi ini dapat tumbuh hingga ketinggian lebih dari 2 meter. Sementara itu sebagai padi ladang, dayang rindu umumnya bisa ditanam di sela-sela tanaman karet.

Batang padi dayang rindu terkenal kuat dan tanah roboh. Kondisi ini sangat berbeda dengan varietas padi lain yang dibudidayakan secara massal. Dayang rindu termasuk padi yang pengairannya hanya mengandalkan air hujan.

Karena itulah padi ini hanya dapat ditanam setahun sekali. Masa tanamnya sekitar lima bulan atau 150 hari, lebih lama ketimbang padi unggul yang kurang dari empat bulan. Masa tanam umumnya dimulai Oktober-November dan dipanen Maret-April.

Tidak sulit

Petani padi dayang rindu, Doni mengatakan cara menanam padi dayang rindu tidaklah sulit. Tanah cukup ditugal (dilubangi) dengan tongkat kayu. Lubang-lubang yang tercipta dari tugalan itu kemudian diisi benih padi.

Sementara itu perawatan tanaman pun masih dilakukan secara tradisional, bahkan cenderung mistis. Padi ini juga tidak pernah dipupuk atau disemprot dengan pestisida. Jika hama menyerang, biasanya petani sudah membuat ramuan khusus.

Proses budidaya pun masih dilakukan secara turun-temurun, para petani mengaku tidak pernah ada pembinaan kepada mereka dari pemerintah. Walau sebenarnya para petani sangat membutuhkan.

Mengenal Mallika, Kedelai Hitam Ikonik yang Ternyata Ciptaan Dosen UGM

Pada 2010, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Gatot Irianto menyatakan varietas padi lokal di Indonesia jumlahnya ribuan karena hampir setiap daerah memiliki jenis padi unggul.

Namun karakter padi lokal itu biasanya sama, yaitu hanya dapat tumbuh pada ketinggian, iklim mikro, dan jenis tanah tertentu. Karena itu, bila ditanam di luar daerah asalnya, sering kali hasilnya tidak sebaik bila ditanam di daerah asalnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini