Paruki’ dan Sarita, Kain Tenun yang Hiasi Upacara Sakral Suku Toraja

Paruki’ dan Sarita, Kain Tenun yang Hiasi Upacara Sakral Suku Toraja
info gambar utama

Keunikan budaya suku Toraja cukup terkenal hingga mancanegara. Upacara menghormati jasad para leluhur menjadi ikon yang paling menyita perhatian masyarakat umum. Setiap perhelatan tradisi adat Toraja dianggap sakral dan digelar dengan penuh penghayatan. Maka dari itu, setiap elemen pendukungnya sangatlah penting.

Salah satu benda penting dalam setiap upacara adat dan keagamaan suku Toraja adalah kain tenun tradisionalnya yang khas. Keberadaan kain tenun ini sangat penting dalam upacara Rambu Solo' (kematian) dan Rambu Tuka (kehidupan). Tenun Toraja bukanlah kain sembarangan, ia justru memiliki tempat yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Selain berperan penting dalam upacara suku Toraja, kain tenun juga melambangkan kemakmuran pemiliknya. Hal ini dikarenakan dalam tradisi Aluk Todolo, pembalutan jenazah kalangan bangsawan wajib menggunakan kain tenun beserta 24 kerbau. Dulu, kain tenun Toraja hanya dapat digunakan oleh kaum bangsawan atau orang yang mampu secara ekonomi. Tapi, sekarang semua orang boleh memakainya.

Pembuatan kain tenun Toraja sampai saat ini masih menggunakan cara tradisional. Kerajinan ini dikerjakan menggunakan alat dari kayu rotan bernama pa’tannun (tempat menenun).

Mengenal Keranda Erong dan Sistem Penguburan Bangsawan Tana Toraja

Kain Tenun Paruki’

Kain tenun Toraja yang dipakai dalam upacara ada dua macam, yakni paruki’dan sarita. Nama paruki’ diambil dari teknik menenun yang terbilang rumit, dilakukan secara terbalik. Motif yang sedang dibuat hanya bisa dilihat dari balik kain. Itulah sebabnya satu helai kain ini dibanderol harga yang cukup fantastis, sekitar Rp1,8 juta sampai Rp4 juta.

Kain tenun paruki’ memiliki panjang 400 sentimeter dan lebar 70 sentimeter. Satu helai paruki’ membutuhkan 8-12 gulung benang. Kain ini biasanya terdiri dari beberapa warna, yaitu putih, kuning, dan merah, sesuai ciri khas Toraja.

Kain tenun paruki’ mirip dengan hiasan ukiran Toraja. Dulu, kain paruki’ hanya digunakan dalam upacara keagamaan. Tapi, sekarang kain tradisional ini bisa digunakan dimanapun dan apapun acaranya. Pada penggunaannya, laki-laki memakai bajunya saja atau jas dengan bawahan bebas, sedangkan perempuan memakai satu stel lengkap yang terdiri dari baju, sarung, atau rok.

Semua warna dan motif bisa dipakaikan kepada jenazah atau orang yang akan menikah. Pembedanya, pada upacara kematian, kain dasar yang digunakan harus berwarna hitam, sedangkan motifnya tergantung pesanan.

Kain tenun paruki’ terbuat dari serat kapas yang telah dipintal, sehingga kain yang dihasilkan cukup kasar dan berat. Tenun paruki’ memiliki satu motif, yaitu pa’sekong kandaure. Motif ini disebut sebagai lambang kebesaran perempuan toraja. Ketika seorang wanita meninggal, kain dengan motif ini akan dipasangkan pada peti mati.

Tau-tau, Patung Ukiran Berbentuk Manusia dari Toraja

Kain Sarita yang sakral

Kain sarita adalah kain yang hanya dikenakan oleh parengnge’ (pemuka adat) dan patutungan bia’/tominaa (pemuka agama). Bagi masyarakat Toraja, kain sarita sangat sakral karena digunakan sebagai hiasan dalam upacara rambu solo’.

Kain sarita tidak hanya dipakai oleh manusia, tapi juga hewan atau benda utama dalam upacara, seperti dilingkarkan pada kerbau dan babi yang hendak disembelih, menjadi hiasan penari, dipasang di ujung lakkean (pondok tempat orang meninggal), dipasang di tiang rumah Tongkonan, dan menjadi hiasan peti mati.

Kain sarita hanya dipasang dalam upacara rambu solo’ jika yang meninggal itu keturunan bangsawan dan syukuran diadakan di rumah Tongkonan. Masyarakat Toraja percaya, kain sarita dapat menolak roh jahat. Itulah gunanya kain sarita sebagai penghubung antara manusia dengan nenek moyang.

Motif kain sarita melambangkan strata sosial pemilik kain. Umumnya berbentuk babi, ayam, kerbau, ukiran matahari dan tau-tau, patung kayu sebagai bentuk personifikasi orang yang telah meninggal.

Selain itu, ada beberapa motif lainnya yang menghiasi kain tenun sarita. Pertama, motif pa’tedong. Tedong atau kerbau digunakan untuk membajak sawah dan disembelih pada upacara rambu solo’. Motif ini melambangkan kekuatan, kemakmuran, dan kebangsawanan masyarakat suku Toraja.

Yang kedua, motif pa’tangke lumu’. Motif ini menggambarkan cara hidup orang Toraja dalam memenuhi kebutuhan. Mereka diharapkan mampu mencari makanan dengan jujur, ibarat lumut yang dapat tumbuh di permukaan batu. Ketiga, motif pa’bulu londong, melambangkan kepemimpinan yang arif dan bijaksana.

Motif keeempat, pa’barre allo, motif ukiran menyerupai matahari. Motif ini melambangkan Puang Matua (Tuhan yang Maha Esa) yang memberi segala kebutuhan hidup. Selain itu, motif ini juga menggambarkan kedudukan pemilik rumah tongkonan yang tinggi dan mulia.

Ma'nene Toraja, Ketika Mayat Berganti Pakaian dan Berjalan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Afdal Hasan lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Afdal Hasan.

AH
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini